Kembangkan Teknologi, Honda Tak Mau Mengekor ke Toyota
Kamis, 28 Desember 2017 - 09:09 WIB
Kembangkan Teknologi, Honda Tak Mau Mengekor ke Toyota
A
A
A
TOKYO - Dua raksasa automotif asal Jepang, Toyota dan Mazda telah mengumumkan usaha patungan baru yang disebut "aliansi bisnis dan modal". Aliansi itu mencakup rencana membangun pabrik bersama-sama dan bekerja untuk mengembangkan teknologi mobil dengan lebih baik.
Kerja sama tersebut mencakup perdagangan senilai USD450 juta. Dengan cara itu, masing-masing perusahaan diyakini meraih keuntungan ketika yang lain berhasil dalam menjalankan bisnis.
Di seluruh dunia, beberapa pabrikan lainnya telah melakukan langkah serupa. Tapi itu tidak berlaku bagi pabrikan Jepang lainnya,yakni Honda.
Automotive News melaporkan, CEO Honda Takahiro Hachigo mengakui otomasi dan elektrifikasi akan menyebabkan perubahan besar dalam industri automotif global. Hanya dia tidak tertarik pada kemitraan modal.
"Kami memang punya rasa krisis. Hal-hal berubah drastis. Jadi kami seharusnya tidak terlambat merespons," kata Hachigo kepada Automotive News, baru-baru ini. "Tapi bukan itu masalahnya, di mana kami memiliki rencana untuk kepemilikan ekuitas semacam itu."
Ditegaskannnya, Honda berencana untuk mengembangkan teknologi baru sepenuhnya dengan sendirinya. Tapi tetap tak mengesampingkan kerja sama dengan pihak lain.
"Tahun depan kami akan membangun kemitraan semacam itu dengan cepat," kata Hachigo. Dia hanya akan memilih untuk melakukannya dengan kesepakatan yang tidak melibatkan perdagangan saham.
Sebagai contoh, Honda baru-baru ini mengumumkan sebuah kesepakatan untuk mengembangkan kecerdasan buatan dengan SenseTime Group China. Lalu bulan lalu perusahaan tersebut bermitra dengan Softbank Corp. dari Jepang untuk membawa teknologi jaringan mobile generasi kelima ke mobil masa depan.
Honda juga memiliki kemitraan dengan Hitachi Automotive Systems untuk mengembangkan motor listrik. Tak lupa kesepakatan dengan General Motors untuk membangun sel bahan bakar hidrogen di Michigan, AS.
Selama beberapa tahun ke depan, Honda tahu harus memastikan tidak tertinggal di bagian elektrifikasi sambil tetap menjual mobil bertenaga bensin yang lebih menguntungkan. "Salah satu tantangan teknis di pihak kami adalah mencoba menghasilkan mobil bermesin bensin, hibrida, hibrida plug-in dan EVs baterai dengan cara yang sama di pabrik yang sama," kata Hachigo. "Tantangan terbesar bagi kami adalah bagaimana mewujudkannya."
Ditegaskanya, meski Honda bermitra dengan perusahaan lain dalam mengembangkan teknologi baru, dan berusaha memodernisasi manufakturnya, Hachigo tidak khawatir dengan masa depan perusahaannya. "Kami tidak menganggap bisnis itu seperti biasa. Tapi kami harus mengenali kekuatan kita. Jika terus memainkan kekuatan, kita dapat beradaptasi secara bertahap terhadap perubahan ini dan membuat perubahan apa pun yang diperlukan," pungkasnya optimistis.
Kerja sama tersebut mencakup perdagangan senilai USD450 juta. Dengan cara itu, masing-masing perusahaan diyakini meraih keuntungan ketika yang lain berhasil dalam menjalankan bisnis.
Di seluruh dunia, beberapa pabrikan lainnya telah melakukan langkah serupa. Tapi itu tidak berlaku bagi pabrikan Jepang lainnya,yakni Honda.
Automotive News melaporkan, CEO Honda Takahiro Hachigo mengakui otomasi dan elektrifikasi akan menyebabkan perubahan besar dalam industri automotif global. Hanya dia tidak tertarik pada kemitraan modal.
"Kami memang punya rasa krisis. Hal-hal berubah drastis. Jadi kami seharusnya tidak terlambat merespons," kata Hachigo kepada Automotive News, baru-baru ini. "Tapi bukan itu masalahnya, di mana kami memiliki rencana untuk kepemilikan ekuitas semacam itu."
Ditegaskannnya, Honda berencana untuk mengembangkan teknologi baru sepenuhnya dengan sendirinya. Tapi tetap tak mengesampingkan kerja sama dengan pihak lain.
"Tahun depan kami akan membangun kemitraan semacam itu dengan cepat," kata Hachigo. Dia hanya akan memilih untuk melakukannya dengan kesepakatan yang tidak melibatkan perdagangan saham.
Sebagai contoh, Honda baru-baru ini mengumumkan sebuah kesepakatan untuk mengembangkan kecerdasan buatan dengan SenseTime Group China. Lalu bulan lalu perusahaan tersebut bermitra dengan Softbank Corp. dari Jepang untuk membawa teknologi jaringan mobile generasi kelima ke mobil masa depan.
Honda juga memiliki kemitraan dengan Hitachi Automotive Systems untuk mengembangkan motor listrik. Tak lupa kesepakatan dengan General Motors untuk membangun sel bahan bakar hidrogen di Michigan, AS.
Selama beberapa tahun ke depan, Honda tahu harus memastikan tidak tertinggal di bagian elektrifikasi sambil tetap menjual mobil bertenaga bensin yang lebih menguntungkan. "Salah satu tantangan teknis di pihak kami adalah mencoba menghasilkan mobil bermesin bensin, hibrida, hibrida plug-in dan EVs baterai dengan cara yang sama di pabrik yang sama," kata Hachigo. "Tantangan terbesar bagi kami adalah bagaimana mewujudkannya."
Ditegaskanya, meski Honda bermitra dengan perusahaan lain dalam mengembangkan teknologi baru, dan berusaha memodernisasi manufakturnya, Hachigo tidak khawatir dengan masa depan perusahaannya. "Kami tidak menganggap bisnis itu seperti biasa. Tapi kami harus mengenali kekuatan kita. Jika terus memainkan kekuatan, kita dapat beradaptasi secara bertahap terhadap perubahan ini dan membuat perubahan apa pun yang diperlukan," pungkasnya optimistis.
(mim)