Menguak Kondisi Memprihatinkan Truk di Indonesia, Bom Waktu di Jalan Raya?
Senin, 12 Mei 2025 - 12:00 WIB
Zero odol Kemenhub sudah digaungkan sejak 2023, tapi faktanya kecelakaan truk masih sangat sering terjadi. Foto: Sindonews/Arif Julianto
JAKARTA - Jalanan Indonesia kembali berduka. Kecelakaan maut yang melibatkan truk bukan lagi sekadar berita, melainkan momok yang menghantui para pengguna jalan. Pertanyaan pedih pun menyeruak: mengapa kendaraan-kendaraan raksasa ini seolah menjadi "malaikat maut" yang kerap merenggut nyawa tak berdosa?
Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, dengan nada prihatin membeberkan sejumlah faktor mengerikan yang menjadi biang keladi kecelakaan maut akibat truk.
Bukan hanya soal satu atau dua hal, melainkan sebuah rantai masalah yang saling terkait dan terabaikan.
"Dari hasil investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sejak tahun 2015, benang merahnya jelas: kondisi kendaraan yang jauh dari kata laik, kelelahan akut para pengemudi yang dipaksa bekerja tanpa ampun, kesehatan pengemudi yang seringkali diabaikan, serta pembinaan dan penindakan yang nyaris tak berbekas," ungkap Djoko, seolah merangkum sebuah potret buram dunia transportasi barang di Indonesia.
Lebih lanjut, Djoko mengungkapkan data KNKT tahun 2024 yang bagai alarm bahaya. "Jumlah pengemudi bus dan truk di Indonesia mengalami penurunan drastis! Rasionya dengan jumlah kendaraan yang beroperasi sudah masuk zona 'danger'. Keahlian mengemudi mereka pun sangat rendah. Bayangkan, waktu kerja, istirahat, dan libur mereka sangat mengenaskan! Tak ada regulasi yang melindungi hak-hak dasar mereka, sehingga kelelahan ekstrem hingga micro sleep menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja," ujarnya dengan nada geram.
Hasil investigasi KNKT pun semakin memperkuat dugaan mengerikan ini. "Sebanyak 84 persen kecelakaan maut yang terjadi saat ini dipicu oleh kegagalan sistem pengereman dan kelelahan pengemudi!" tegas Djoko. Kegagalan rem bukan hanya soal komponen aus, tapi juga pengemudi yang tak siap, tak menguasai kendaraan, atau memang kondisi truk yang sudah "uzur".
Djoko Setijowarno, Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, dengan nada prihatin membeberkan sejumlah faktor mengerikan yang menjadi biang keladi kecelakaan maut akibat truk.
Bukan hanya soal satu atau dua hal, melainkan sebuah rantai masalah yang saling terkait dan terabaikan.
"Dari hasil investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sejak tahun 2015, benang merahnya jelas: kondisi kendaraan yang jauh dari kata laik, kelelahan akut para pengemudi yang dipaksa bekerja tanpa ampun, kesehatan pengemudi yang seringkali diabaikan, serta pembinaan dan penindakan yang nyaris tak berbekas," ungkap Djoko, seolah merangkum sebuah potret buram dunia transportasi barang di Indonesia.
Lebih lanjut, Djoko mengungkapkan data KNKT tahun 2024 yang bagai alarm bahaya. "Jumlah pengemudi bus dan truk di Indonesia mengalami penurunan drastis! Rasionya dengan jumlah kendaraan yang beroperasi sudah masuk zona 'danger'. Keahlian mengemudi mereka pun sangat rendah. Bayangkan, waktu kerja, istirahat, dan libur mereka sangat mengenaskan! Tak ada regulasi yang melindungi hak-hak dasar mereka, sehingga kelelahan ekstrem hingga micro sleep menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja," ujarnya dengan nada geram.
Hasil investigasi KNKT pun semakin memperkuat dugaan mengerikan ini. "Sebanyak 84 persen kecelakaan maut yang terjadi saat ini dipicu oleh kegagalan sistem pengereman dan kelelahan pengemudi!" tegas Djoko. Kegagalan rem bukan hanya soal komponen aus, tapi juga pengemudi yang tak siap, tak menguasai kendaraan, atau memang kondisi truk yang sudah "uzur".
Lihat Juga :