Bos BYD Keluhkan Perang Harga yang Mereka Ciptakan Sendiri
Sabtu, 14 Juni 2025 - 15:02 WIB
loading...
BYD tanpa ampun membanting harga pada 22 model mobil mereka, dengan diskon mencapai 34%. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Di tengah arena "perang bakar duit" mobil listrik (EV) di China yang semakin berdarah-darah, sebuah pernyataan unik datang Stella Li, Executive Vice President BYD, secara terbuka menyatakan bahwa perang harga ini "tidak berkelanjutan".
Yang menarik, BYD adalah perusahaan yang baru saja "menyiram bensin ke api" dengan meluncurkan babak baru diskon gila-gilaan bulan lalu.
Model termurah mereka, Seagull, yang sudah sangat terjangkau dengan harga sekitar USD10.000, kini diobral dengan harga di bawah USD8.000 atau sekitar Rp 131 jutaan. Tak berhenti di situ, mereka juga meluncurkan sedan baru, Seal 06, dengan harga mulai dari USD15.000 atau sekitar Rp 246 jutaan—kurang dari separuh harga Tesla Model 3 di China.
Langkah brutal inilah yang memaksa para pesaing seperti Geely dan Leapmotor untuk ikut terjun ke jurang diskon.
Asosiasi Produsen Otomotif China (CAMA) bahkan sampai mengeluarkan peringatan keras, menyebut langkah ini "memicu babak baru kepanikan perang harga" dan menciptakan "persaingan yang ganas".
Namun, di tengah kekacauan yang mereka ciptakan, sang eksekutif BYD, Stella Li, justru mengeluh. Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, ia mengatakan, "Ini adalah persaingan yang sangat ekstrem dan ketat." Ia menambahkan bahwa perang harga ini "tidak berkelanjutan" dan akan membuat beberapa merek lain tidak akan selamat.
Di Inggris, mereka meluncurkan Dolphin Surf (versi lain dari Seagull) dengan harga mulai dari 18.650 euro atau sekitar Rp 410 jutaan. Meskipun jauh lebih mahal dari harga di China, angka ini tetap menempatkannya sebagai salah satu mobil listrik termurah di pasar Inggris, cukup untuk membuat para pesaing di Eropa ikut was-was.
Kondisi kelebihan pasokan di China sudah terlalu parah. Para diler menjerit karena dipaksa menimbun stok yang tak kunjung laku, sementara para produsen terus membakar duit demi merebut pangsa pasar.
Chairman Great Wall Motors bahkan menyamakan kondisi ini dengan raksasa properti Evergrande yang ambruk karena utang.
Pada akhirnya, pernyataan dari bos BYD ini lebih terlihat seperti sebuah strategi untuk menenangkan regulator dan publik.
Di balik layar, mesin perang mereka terus berjalan. Mereka mengeluhkan api yang semakin besar, sambil terus menuangkan bensin ke dalamnya. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang akan menang, melainkan siapa yang akan selamat dari pertumpahan darah yang mereka ciptakansendiri.
Yang menarik, BYD adalah perusahaan yang baru saja "menyiram bensin ke api" dengan meluncurkan babak baru diskon gila-gilaan bulan lalu.
Menyulut Api, Lalu Berteriak 'Kebakaran'
BYD, raksasa yang didukung oleh investor legendaris Warren Buffett, adalah biang keladi dari kepanikan terbaru di pasar. Mereka tanpa ampun membanting harga pada 22 model mobil mereka, dengan diskon mencapai 34%.Model termurah mereka, Seagull, yang sudah sangat terjangkau dengan harga sekitar USD10.000, kini diobral dengan harga di bawah USD8.000 atau sekitar Rp 131 jutaan. Tak berhenti di situ, mereka juga meluncurkan sedan baru, Seal 06, dengan harga mulai dari USD15.000 atau sekitar Rp 246 jutaan—kurang dari separuh harga Tesla Model 3 di China.
Langkah brutal inilah yang memaksa para pesaing seperti Geely dan Leapmotor untuk ikut terjun ke jurang diskon.
Asosiasi Produsen Otomotif China (CAMA) bahkan sampai mengeluarkan peringatan keras, menyebut langkah ini "memicu babak baru kepanikan perang harga" dan menciptakan "persaingan yang ganas".
Namun, di tengah kekacauan yang mereka ciptakan, sang eksekutif BYD, Stella Li, justru mengeluh. Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, ia mengatakan, "Ini adalah persaingan yang sangat ekstrem dan ketat." Ia menambahkan bahwa perang harga ini "tidak berkelanjutan" dan akan membuat beberapa merek lain tidak akan selamat.
Gertakan Kosong di Pasar Global?
Pernyataan Stella Li ini terasa seperti gertakan kosong, karena hingga kini tidak ada sinyal bahwa BYD akan menaikkan harga. Sebaliknya, mereka terus berekspansi secara agresif ke pasar luar negeri dengan strategi harga yang sama berbahayanya.Di Inggris, mereka meluncurkan Dolphin Surf (versi lain dari Seagull) dengan harga mulai dari 18.650 euro atau sekitar Rp 410 jutaan. Meskipun jauh lebih mahal dari harga di China, angka ini tetap menempatkannya sebagai salah satu mobil listrik termurah di pasar Inggris, cukup untuk membuat para pesaing di Eropa ikut was-was.
Perang yang Tak Akan Berakhir?
Para analis sepakat dengan satu bagian dari pernyataan Stella Li: perang ini memang tidak berkelanjutan. Namun, mereka juga sepakat bahwa perang ini masih jauh dari kata usai.Kondisi kelebihan pasokan di China sudah terlalu parah. Para diler menjerit karena dipaksa menimbun stok yang tak kunjung laku, sementara para produsen terus membakar duit demi merebut pangsa pasar.
Chairman Great Wall Motors bahkan menyamakan kondisi ini dengan raksasa properti Evergrande yang ambruk karena utang.
Pada akhirnya, pernyataan dari bos BYD ini lebih terlihat seperti sebuah strategi untuk menenangkan regulator dan publik.
Di balik layar, mesin perang mereka terus berjalan. Mereka mengeluhkan api yang semakin besar, sambil terus menuangkan bensin ke dalamnya. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang akan menang, melainkan siapa yang akan selamat dari pertumpahan darah yang mereka ciptakansendiri.
(dan)
Lihat Juga :