Jurus Ganti Nama Chery di Pasar Lesu: Omoda 5 Pensiun Dini, Mampukah Sang Penerus, C5, Menjadi Penyelamat?
Senin, 23 Juni 2025 - 20:04 WIB
loading...
Omoda 5, dilahirkan kembali dengan nama baru: Chery C5. Foto: Sindonews/Muhamad Fadli Ramadan
A
A
A
BSD - Di tengah pasar otomotif Indonesia yang sedang "batuk-batuk", PT Chery Sales Indonesia (CSI) kini mengeluarkan sebuah jurus yang tak terduga. Alih-alih meluncurkan produk yang benar-benar baru, mereka justru memilih untuk "menyegarkan" salah satu jagoan mereka yang sudah terbukti laris, Omoda 5, dan melahirkannya kembali dengan nama baru: Chery C5.
Langkah ini sontak memicu pertanyaan besar. Apakah ini adalah sebuah strategi penyegaran yang jenius untuk kembali menggairahkan pasar? Ataukah ini adalah sebuah tanda "kepanikan", sebuah upaya untuk mendongkrak penjualan yang mulai kehilangan napas?
Beban Berat di Pundak Sang Penerus
Chery tidak main-main dengan target yang mereka bebankan pada C5. Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, mereka berharap model hasil rebranding ini, bersama dengan versi listriknya, E5, bisa menjadi tulang punggung utama penjualan.
"Target tentunya kalau kita combine C5 dan E5 itu kita harapkan minimal 20 persen dari total penjualan Chery di Indonesia," kata Budi Darmawan, Direktur Pemasaran PT CSI, di BSD, Tangerang, Senin (23/6/2025).
Ini adalah sebuah target yang sangat ambisius, mengingat kondisi pasar saat ini. Budi Darmawan bahkan secara terbuka mengakui bahwa kontribusi lini Omoda saat ini telah merosot.
"Sebagai gambaran, total kontribusi terhadap lineup kita saat ini sekitar mungkin nggak banyak karena memang trennya terus menurun, sekitar 5-7 persen untuk total," ujarnya.
Mengapa Mengubah Formula yang Sudah Terbukti?
Keputusan untuk mengubah nama Omoda 5 menjadi C5, sebuah model yang sebenarnya sudah memiliki citra yang cukup kuat, adalah sebuah langkah yang berisiko. Lantas, mengapa Chery melakukannya?
"Maka dari itu, kita penyegaran karena hampir 2 tahun, jadi kita mau refresh lagi. Omoda 5 tapi kita rebranding jadi C5," ungkap Budi.
Pernyataan "kita mau refresh lagi" ini bisa diartikan dalam dua sisi. Dari sisi positif, ini menunjukkan bahwa Chery proaktif dan tidak mau terlena dengan kesuksesan masa lalu. Mereka ingin menjaga produknya tetap segar dan relevan dengan selera pasar yang terus berubah.
Namun, dari sisi kritis, ini juga bisa dilihat sebagai sebuah strategi defensif. Apakah nama "Omoda 5" sudah mulai kehilangan daya magisnya? Apakah dengan sekadar "ganti baju" dan nama baru, Chery berharap bisa menciptakan hype baru tanpa harus mengeluarkan biaya riset dan pengembangan untuk sebuah model yang benar-benar baru?
"Sampai akhir tahun, rasanya saya boleh bilang salah satu brand yang akan meluncurkan paling banyak line up sampai akhir tahun," ujarnya.
Ini adalah sebuah janji bahwa "jurus ganti nama" ini hanyalah sebuah pemanasan. Chery seolah ingin berkata bahwa mereka memiliki amunisi yang jauh lebih banyak untuk melanjutkan pertempuran merebut hati konsumen Indonesia.
Kini, semua mata tertuju pada Chery C5. Apakah perubahan nama dan penyegaran yang diusung cukup kuat untuk membangkitkan kembali gairah pasar dan mencapai target ambisius 20%? Atau ini hanya akan menjadi sebuah studi kasus tentang bagaimana sebuah nama baru tidak selalu bisa mengubah nasib di tengah pasar yangsedanglesu?
Langkah ini sontak memicu pertanyaan besar. Apakah ini adalah sebuah strategi penyegaran yang jenius untuk kembali menggairahkan pasar? Ataukah ini adalah sebuah tanda "kepanikan", sebuah upaya untuk mendongkrak penjualan yang mulai kehilangan napas?
Beban Berat di Pundak Sang Penerus
![Jurus Ganti Nama Chery di Pasar Lesu: Omoda 5 Pensiun Dini, Mampukah Sang Penerus, C5, Menjadi Penyelamat?]()
Chery tidak main-main dengan target yang mereka bebankan pada C5. Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, mereka berharap model hasil rebranding ini, bersama dengan versi listriknya, E5, bisa menjadi tulang punggung utama penjualan.
"Target tentunya kalau kita combine C5 dan E5 itu kita harapkan minimal 20 persen dari total penjualan Chery di Indonesia," kata Budi Darmawan, Direktur Pemasaran PT CSI, di BSD, Tangerang, Senin (23/6/2025).
Ini adalah sebuah target yang sangat ambisius, mengingat kondisi pasar saat ini. Budi Darmawan bahkan secara terbuka mengakui bahwa kontribusi lini Omoda saat ini telah merosot.
"Sebagai gambaran, total kontribusi terhadap lineup kita saat ini sekitar mungkin nggak banyak karena memang trennya terus menurun, sekitar 5-7 persen untuk total," ujarnya.
Mengapa Mengubah Formula yang Sudah Terbukti?
![Jurus Ganti Nama Chery di Pasar Lesu: Omoda 5 Pensiun Dini, Mampukah Sang Penerus, C5, Menjadi Penyelamat?]()
Keputusan untuk mengubah nama Omoda 5 menjadi C5, sebuah model yang sebenarnya sudah memiliki citra yang cukup kuat, adalah sebuah langkah yang berisiko. Lantas, mengapa Chery melakukannya?
"Maka dari itu, kita penyegaran karena hampir 2 tahun, jadi kita mau refresh lagi. Omoda 5 tapi kita rebranding jadi C5," ungkap Budi.
Pernyataan "kita mau refresh lagi" ini bisa diartikan dalam dua sisi. Dari sisi positif, ini menunjukkan bahwa Chery proaktif dan tidak mau terlena dengan kesuksesan masa lalu. Mereka ingin menjaga produknya tetap segar dan relevan dengan selera pasar yang terus berubah.
Namun, dari sisi kritis, ini juga bisa dilihat sebagai sebuah strategi defensif. Apakah nama "Omoda 5" sudah mulai kehilangan daya magisnya? Apakah dengan sekadar "ganti baju" dan nama baru, Chery berharap bisa menciptakan hype baru tanpa harus mengeluarkan biaya riset dan pengembangan untuk sebuah model yang benar-benar baru?
Janji 'Hujan' Model Baru
Di balik semua teka-teki ini, Chery menyimpan sebuah "ancaman" yang lebih besar bagi para pesaingnya. Budi Darmawan dengan percaya diri menyatakan bahwa Chery akan menjadi salah satu merek yang paling agresif dalam meluncurkan produk baru hingga akhir tahun ini."Sampai akhir tahun, rasanya saya boleh bilang salah satu brand yang akan meluncurkan paling banyak line up sampai akhir tahun," ujarnya.
Ini adalah sebuah janji bahwa "jurus ganti nama" ini hanyalah sebuah pemanasan. Chery seolah ingin berkata bahwa mereka memiliki amunisi yang jauh lebih banyak untuk melanjutkan pertempuran merebut hati konsumen Indonesia.
Kini, semua mata tertuju pada Chery C5. Apakah perubahan nama dan penyegaran yang diusung cukup kuat untuk membangkitkan kembali gairah pasar dan mencapai target ambisius 20%? Atau ini hanya akan menjadi sebuah studi kasus tentang bagaimana sebuah nama baru tidak selalu bisa mengubah nasib di tengah pasar yangsedanglesu?
(dan)
Lihat Juga :