Dogma Mematikan Elon Musk: Mengapa Tesla Haramkan Lidar dan Bertaruh Nyawa pada Kamera?
Selasa, 01 Juli 2025 - 13:32 WIB
loading...
Lidar, yang bekerja dengan menembakkan jutaan pulsa laser per detik untuk menciptakan peta 3D lingkungan sekitar secara real-time. Foto: ist
A
A
A
TEXAS - Peluncuran layanan robotaxi Tesla yang telah dijanjikan selama bertahun-tahun akhirnya tiba. Namun, alih-alih menjadi sebuah perayaan kemenangan teknologi, debut yang digelar di Austin pada 22 Juni lalu justru berubah menjadi pertunjukan publik yang memalukan, menelanjangi sebuah "dogma" berbahaya yang selama ini dianut oleh sang visioner, Elon Musk.
Video-video yang awalnya disebar oleh para pendukung setia untuk memuji layanan tersebut, secara ironis justru menjadi bukti kegagalan. Mobil-mobil tanpa pengemudi itu terekam melanggar rambu lalu lintas, mengerem tanpa alasan, hingga salah mengambil jalur secara paksa. Dalam hitungan hari, regulator keselamatan jalan raya AS (NHTSA) langsung membuka investigasi.
Di balik kekacauan ini, ada pertanyaan fundamental yang telah menghantui industri selama bertahun-tahun, dan kini jawabannya terpampang nyata di jalanan Austin: mengapa Elon Musk begitu keras kepala menolak teknologi Lidar, sebuah "mata" laser yang dianggap krusial oleh hampir semua pemain lain di industri mobil otonom?
Lidar, yang bekerja dengan menembakkan jutaan pulsa laser per detik untuk menciptakan peta 3D lingkungan sekitar secara real-time, dianggap sebagai jaring pengaman utama, terutama dalam kondisi cuaca buruk atau minim cahaya.
Namun, bagi Elon Musk, Lidar adalah sebuah musuh.
"Lidar itu payah," cibir Musk dalam sebuah acara Tesla pada 2019. "Di mobil, itu benar-benar bodoh. Mahal dan tidak perlu."
Pernyataan ini adalah inti dari dogma Musk. Ia bersikeras bahwa satu-satunya jalan menuju mobil otonom sejati adalah dengan meniru cara kerja manusia: hanya mengandalkan mata, atau dalam hal ini, kamera.
Argumennya, jika manusia bisa mengemudi hanya dengan dua mata, maka AI yang super cerdas seharusnya bisa melakukannya dengan delapan kamera.
Namun, di balik argumen filosofis ini, ada faktor ekonomi yang dingin. Satu unit Lidar bisa memakan biaya hingga USD12.000 (sekitar Rp192 juta) per mobil. Bandingkan dengan sistem kamera yang biayanya hanya sekitar USD400 (sekitar Rp6,4 juta). Dengan menolak Lidar, Musk bisa memangkas biaya produksi secara drastis dan menjual fitur "Full Self-Driving" dengan margin keuntungan yang masif.
Berbagai gugatan hukum dan investigasi pemerintah kini menghantui perusahaan, dengan tuduhan bahwa sistem yang hanya mengandalkan kamera sangat rentan terhadap kondisi seperti silau matahari, kabut, atau kegelapan.
"Tesla terus memiliki pandangan fetishistik bahwa mereka akan mengoperasikan sistemnya hanya dengan kamera, meskipun setiap manusia cerdas di seluruh bidang ini mengatakan itu tidak bisa dilakukan," ujar Brett Schreiber, seorang pengacara yang mewakili beberapa korban kegagalan Autopilot Tesla.
"Setiap orang yang telah mengikuti teknologi penghindaran tabrakan sejak tahun 90-an tahu bahwa trinitas suci adalah radar, lidar, dan kamera," tambahnya.
Schreiber mengaku tidak terkejut melihat kekacauan peluncuran robotaxi di Austin. "Apa yang juga akan Anda lihat, yang merupakan tragedi sebenarnya dari hal ini, adalah orang-orang akan terus terluka dan terbunuh oleh teknologi ini," katanya.
Peluncuran di Austin, dengan segala masalahnya, adalah sebuah pertaruhan besar. Ini adalah upaya Musk untuk membuktikan bahwa dogmanya benar, bahwa visinya tentang masa depan otonom yang hanya berbasis kamera adalah jalan yang tepat, meskipun bukti-bukti di lapangan menunjukkansebaliknya.
Video-video yang awalnya disebar oleh para pendukung setia untuk memuji layanan tersebut, secara ironis justru menjadi bukti kegagalan. Mobil-mobil tanpa pengemudi itu terekam melanggar rambu lalu lintas, mengerem tanpa alasan, hingga salah mengambil jalur secara paksa. Dalam hitungan hari, regulator keselamatan jalan raya AS (NHTSA) langsung membuka investigasi.
Di balik kekacauan ini, ada pertanyaan fundamental yang telah menghantui industri selama bertahun-tahun, dan kini jawabannya terpampang nyata di jalanan Austin: mengapa Elon Musk begitu keras kepala menolak teknologi Lidar, sebuah "mata" laser yang dianggap krusial oleh hampir semua pemain lain di industri mobil otonom?
'Lidar Itu Payah': Obsesi Mahal di Balik Kamera
Bagi para pesaing seperti Waymo (milik Google) dan Zoox (milik Amazon), resep untuk mobil otonom yang aman sudah jelas: sebuah "trinitas suci" yang terdiri dari kamera, radar, dan Lidar.Lidar, yang bekerja dengan menembakkan jutaan pulsa laser per detik untuk menciptakan peta 3D lingkungan sekitar secara real-time, dianggap sebagai jaring pengaman utama, terutama dalam kondisi cuaca buruk atau minim cahaya.
Namun, bagi Elon Musk, Lidar adalah sebuah musuh.
"Lidar itu payah," cibir Musk dalam sebuah acara Tesla pada 2019. "Di mobil, itu benar-benar bodoh. Mahal dan tidak perlu."
Pernyataan ini adalah inti dari dogma Musk. Ia bersikeras bahwa satu-satunya jalan menuju mobil otonom sejati adalah dengan meniru cara kerja manusia: hanya mengandalkan mata, atau dalam hal ini, kamera.
Argumennya, jika manusia bisa mengemudi hanya dengan dua mata, maka AI yang super cerdas seharusnya bisa melakukannya dengan delapan kamera.
Namun, di balik argumen filosofis ini, ada faktor ekonomi yang dingin. Satu unit Lidar bisa memakan biaya hingga USD12.000 (sekitar Rp192 juta) per mobil. Bandingkan dengan sistem kamera yang biayanya hanya sekitar USD400 (sekitar Rp6,4 juta). Dengan menolak Lidar, Musk bisa memangkas biaya produksi secara drastis dan menjual fitur "Full Self-Driving" dengan margin keuntungan yang masif.
Konsekuensi Berdarah dari sebuah Dogma
Sikap keras kepala Musk ini bukan tanpa konsekuensi. Sebuah analisis dari Washington Post mencatat setidaknya ada 736 kecelakaan dan 17 kematian yang melibatkan teknologi Autopilot Tesla.Berbagai gugatan hukum dan investigasi pemerintah kini menghantui perusahaan, dengan tuduhan bahwa sistem yang hanya mengandalkan kamera sangat rentan terhadap kondisi seperti silau matahari, kabut, atau kegelapan.
"Tesla terus memiliki pandangan fetishistik bahwa mereka akan mengoperasikan sistemnya hanya dengan kamera, meskipun setiap manusia cerdas di seluruh bidang ini mengatakan itu tidak bisa dilakukan," ujar Brett Schreiber, seorang pengacara yang mewakili beberapa korban kegagalan Autopilot Tesla.
"Setiap orang yang telah mengikuti teknologi penghindaran tabrakan sejak tahun 90-an tahu bahwa trinitas suci adalah radar, lidar, dan kamera," tambahnya.
Schreiber mengaku tidak terkejut melihat kekacauan peluncuran robotaxi di Austin. "Apa yang juga akan Anda lihat, yang merupakan tragedi sebenarnya dari hal ini, adalah orang-orang akan terus terluka dan terbunuh oleh teknologi ini," katanya.
Pertaruhan Terakhir Sang Visioner
Sementara rivalnya, Waymo, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memetakan kota secara teliti sebelum meluncurkan layanannya, Tesla seolah melompat ke dalam kegelapan, didorong oleh janji-janji Musk yang terus diulang sejak 2016.Peluncuran di Austin, dengan segala masalahnya, adalah sebuah pertaruhan besar. Ini adalah upaya Musk untuk membuktikan bahwa dogmanya benar, bahwa visinya tentang masa depan otonom yang hanya berbasis kamera adalah jalan yang tepat, meskipun bukti-bukti di lapangan menunjukkansebaliknya.
(dan)
Lihat Juga :