Belajar dari Kasus Diogo Jota, Ini Bahaya Ban Pecah Akibat Tekanan Angin Tak Sesuai
Senin, 07 Juli 2025 - 12:14 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, tekanan angin yang terlalu tinggi tak kalah berbahaya. Ban memang jadi lebih ringan bergulir, tapi cengkeramannya menurun. Mobil jadi limbung, terutama saat melaju kencang atau saat bermanuver di tikungan. Pengemudi bisa kehilangan kendali hanya dalam hitungan detik.
Salah satu risiko lain dari tekanan yang kurang adalah benjolan di dinding ban. Biasanya terjadi setelah menghantam lubang jalan atau trotoar dalam kondisi tekanan rendah. Ini bukan sekadar estetika, tapi tanda ban sudah melemah secara struktural dan siap meledak kapan saja.
Depan: 30–32 psi
Belakang: 30–32 psi
Sedan:
Depan: 32–34 psi
Belakang: 30–32 psi
SUV / MPV:
Depan: 33–36 psi
Belakang: 35–38 psi
Efek Domino: Bukan Cuma Soal Ban
Masalah tekanan angin tak hanya berdampak pada keselamatan. Jika dibiarkan, ini bisa menyebabkan kerusakan dini pada suspensi, velg, hingga sistem kemudi. Bahkan konsumsi bahan bakar bisa membengkak hingga 10–15% karena gesekan ban yang tidak optimal.Salah satu risiko lain dari tekanan yang kurang adalah benjolan di dinding ban. Biasanya terjadi setelah menghantam lubang jalan atau trotoar dalam kondisi tekanan rendah. Ini bukan sekadar estetika, tapi tanda ban sudah melemah secara struktural dan siap meledak kapan saja.
Rekomendasi Tekanan Angin Umum
Sebagai referensi, berikut tekanan angin rata-rata yang disarankan untuk mobil penumpang:Rekomendasi Tekanan Angin Ban Mobil (dalam psi)
LCGC / Hatchback:Depan: 30–32 psi
Belakang: 30–32 psi
Sedan:
Depan: 32–34 psi
Belakang: 30–32 psi
SUV / MPV:
Depan: 33–36 psi
Belakang: 35–38 psi
Lihat Juga :