Saat Pesaing Sibuk Banting Harga, Hyundai Justru Panen di Segmen Premium
Sabtu, 09 Agustus 2025 - 13:04 WIB
loading...
Fransiscus Soerjopranoto, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) punya strategi sendiri menghadang pabrikan China. Foto: HMID
A
A
A
ICE BSD - Medan perang industri otomotif Indonesia sedang membara. Para pemain baru, terutama dari China, datang dengan jurus andalan: banting harga. Di tengah badai diskon yang menggiurkan ini, banyak yang bertanya-tanya, bagaimana raksasa sekelas Hyundai akan merespons? Jawabannya mungkin mengejutkan: mereka memilih untuk tidak ikut berperang.
Alih-alih ikut terjun ke dalam pusaran perang harga yang berisiko, Hyundai mengambil langkah berbeda. Mereka melihat gambaran yang lebih besar, sebuah strategi jangka panjang yang mengutamakan kepercayaan konsumen dan kesehatan ekosistem otomotif secara keseluruhan.
Fransiscus Soerjopranoto, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), dengan tenang memaparkan pandangannya. Ia tidak melihat perang harga sebagai sebuah kemenangan, melainkan sebagai pedang bermata dua yang bisa melukai banyak pihak.
"Kalau yang namanya perang harga, selain harga (mobil) bekasnya turun, pasti dari sisi profitabilitas diler kami atau brand secara umum akan menurun," kata Frans saat ditemui di arena GIIAS 2025.
Pernyataannya membuka tabir dari sisi lain sebuah diskon besar. Ketika harga mobil baru tiba-tiba anjlok, nilai investasi konsumen yang telah membeli lebih dulu pun ikut tergerus.
"Ada pedagang mobil bekas merasa stok mereka menjadi undervalue saat ini, dibandingkan harga saat dia membeli," tambah Frans, menyoroti efek domino yang sering kali tidak terlihat oleh pembeli.
Bukan Sekadar Harga Murah, Tapi Kemampuan Membeli
Hyundai juga melihat sebuah realita lain yang sering terlewatkan. Harga murah di atas kertas tidak selalu berarti mobil tersebut mudah dimiliki, terutama bagi para pembeli mobil pertama yang sangat bergantung pada lembaga pembiayaan.
Frans menjelaskan bahwa mobil di segmen bawah membutuhkan dukungan sistem pembiayaan yang kuat. Tanpa itu, angka penjualan hanya akan menjadi angan-angan.
"Kalau di segmen bawah itu pembiayaannya harus kuat. Sehingga kalau approval rate-nya (tingkat persetujuan kredit) kecil, produk baru yang diperkenalkan belum tentu mendapatkan dana secara kredit," ucapnya.
Ini adalah sebuah pandangan strategis: percuma menawarkan produk murah jika pada akhirnya konsumen kesulitan mendapatkan pinjaman untuk membelinya.
Permintaan untuk mobil-mobil premium Hyundai di rentang harga Rp700 juta hingga Rp1 miliar justru menunjukkan tren yang sangat positif. Ini adalah bukti bahwa ada segmen pasar yang matang, yang lebih mementingkan kualitas, fitur, dan nilai jangka panjang ketimbang sekadar harga murah sesaat.
"Jadi Santa Fe, Palisade di tempat kami itu mencatatkan penjualan cukup bagus," tutur Frans dengan nada optimis.
Pada akhirnya, di tengah riuhnya perang harga, Hyundai memilih jalan sunyi yang lebih berkelanjutan. Mereka percaya bahwa membangun kepercayaan, menjaga nilai investasi pelanggan, dan memastikan seluruh ekosistem (dari diler hingga lembaga pembiayaan) tetap sehat adalah fondasi yang jauh lebih kokoh untuk masa depan. Dan data penjualan membuktikan, strategi mereka berjalan dengan baik.
Alih-alih ikut terjun ke dalam pusaran perang harga yang berisiko, Hyundai mengambil langkah berbeda. Mereka melihat gambaran yang lebih besar, sebuah strategi jangka panjang yang mengutamakan kepercayaan konsumen dan kesehatan ekosistem otomotif secara keseluruhan.
Fransiscus Soerjopranoto, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), dengan tenang memaparkan pandangannya. Ia tidak melihat perang harga sebagai sebuah kemenangan, melainkan sebagai pedang bermata dua yang bisa melukai banyak pihak.
"Kalau yang namanya perang harga, selain harga (mobil) bekasnya turun, pasti dari sisi profitabilitas diler kami atau brand secara umum akan menurun," kata Frans saat ditemui di arena GIIAS 2025.
Pernyataannya membuka tabir dari sisi lain sebuah diskon besar. Ketika harga mobil baru tiba-tiba anjlok, nilai investasi konsumen yang telah membeli lebih dulu pun ikut tergerus.
"Ada pedagang mobil bekas merasa stok mereka menjadi undervalue saat ini, dibandingkan harga saat dia membeli," tambah Frans, menyoroti efek domino yang sering kali tidak terlihat oleh pembeli.
Bukan Sekadar Harga Murah, Tapi Kemampuan Membeli
![Saat Pesaing Sibuk Banting Harga, Hyundai Justru Panen di Segmen Premium]()
Hyundai juga melihat sebuah realita lain yang sering terlewatkan. Harga murah di atas kertas tidak selalu berarti mobil tersebut mudah dimiliki, terutama bagi para pembeli mobil pertama yang sangat bergantung pada lembaga pembiayaan.
Frans menjelaskan bahwa mobil di segmen bawah membutuhkan dukungan sistem pembiayaan yang kuat. Tanpa itu, angka penjualan hanya akan menjadi angan-angan.
"Kalau di segmen bawah itu pembiayaannya harus kuat. Sehingga kalau approval rate-nya (tingkat persetujuan kredit) kecil, produk baru yang diperkenalkan belum tentu mendapatkan dana secara kredit," ucapnya.
Ini adalah sebuah pandangan strategis: percuma menawarkan produk murah jika pada akhirnya konsumen kesulitan mendapatkan pinjaman untuk membelinya.
Fokus pada Kualitas, Menuai Hasil Manis
Lalu, apa strategi Hyundai? Jawabannya terletak pada segmen yang berbeda. Di saat pasar di segmen bawah bergejolak, Hyundai justru menemukan oase ketenangan dan pertumbuhan di segmen menengah ke atas.Permintaan untuk mobil-mobil premium Hyundai di rentang harga Rp700 juta hingga Rp1 miliar justru menunjukkan tren yang sangat positif. Ini adalah bukti bahwa ada segmen pasar yang matang, yang lebih mementingkan kualitas, fitur, dan nilai jangka panjang ketimbang sekadar harga murah sesaat.
"Jadi Santa Fe, Palisade di tempat kami itu mencatatkan penjualan cukup bagus," tutur Frans dengan nada optimis.
Pada akhirnya, di tengah riuhnya perang harga, Hyundai memilih jalan sunyi yang lebih berkelanjutan. Mereka percaya bahwa membangun kepercayaan, menjaga nilai investasi pelanggan, dan memastikan seluruh ekosistem (dari diler hingga lembaga pembiayaan) tetap sehat adalah fondasi yang jauh lebih kokoh untuk masa depan. Dan data penjualan membuktikan, strategi mereka berjalan dengan baik.
(dan)
Lihat Juga :