China Serbu Dunia, 74% Investasi EV Ternyata untuk Pabrik Baterai, Indonesia Kebagian Rp4,7 Triliun!
Rabu, 20 Agustus 2025 - 08:32 WIB
loading...
A
A
A
Satu-satunya jalan keluar adalah dengan membangun basis produksi langsung di pasar tujuan. "Tekanan regulasi yang meningkat di pasar seperti Uni Eropa menaikkan rintangan masuk dan akan mendorong lebih banyak perusahaan China untuk mendirikan operasi manufaktur lokal," tulis laporan Rhodium Group.
Gelombang investasi ini menyebar ke seluruh dunia. Di Sao Paulo, Brazil, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva secara pribadi meresmikan pabrik baru GWM pada 15 Agustus lalu. Sebulan sebelumnya, rival abadinya, BYD, juga sudah memulai produksi di pabrik pertamanya di Brazil. Di Indonesia, perusahaan material baterai China, GEM, bahkan berkomitmen menanamkan dana investasi sebesar Rp 4,7 triliun (USD293 juta) untuk memperluas fasilitas produksinya.
Laporan tersebut mengungkap fakta yang mencemaskan: hanya 25% dari semua rencana pabrik di luar negeri yang diumumkan benar-benar selesai dibangun. Angka ini jauh di bawah tingkat penyelesaian proyek di dalam negeri yang mencapai 45%. Lebih parah lagi, proyek di luar negeri memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk dibatalkan di tengah jalan.
Ini adalah sebuah pertaruhan berisiko tinggi. Triliunan rupiah bisa hangus jika proyek-proyek ini mangkrak akibat masalah birokrasi, politik, atau salah perhitungan bisnis.
Gelombang investasi ini menyebar ke seluruh dunia. Di Sao Paulo, Brazil, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva secara pribadi meresmikan pabrik baru GWM pada 15 Agustus lalu. Sebulan sebelumnya, rival abadinya, BYD, juga sudah memulai produksi di pabrik pertamanya di Brazil. Di Indonesia, perusahaan material baterai China, GEM, bahkan berkomitmen menanamkan dana investasi sebesar Rp 4,7 triliun (USD293 juta) untuk memperluas fasilitas produksinya.
Kritik Pedas: Janji Manis yang Berisiko Gagal
Namun, di balik narasi ekspansi yang megah ini, Rhodium Group memberikan sebuah kritik dan peringatan yang tajam. Angka-angka investasi triliunan rupiah ini mungkin tak lebih dari sekadar janji manis di atas kertas.Laporan tersebut mengungkap fakta yang mencemaskan: hanya 25% dari semua rencana pabrik di luar negeri yang diumumkan benar-benar selesai dibangun. Angka ini jauh di bawah tingkat penyelesaian proyek di dalam negeri yang mencapai 45%. Lebih parah lagi, proyek di luar negeri memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk dibatalkan di tengah jalan.
Ini adalah sebuah pertaruhan berisiko tinggi. Triliunan rupiah bisa hangus jika proyek-proyek ini mangkrak akibat masalah birokrasi, politik, atau salah perhitungan bisnis.
Lihat Juga :