Mobil Buatan China Kuasai Industri Otomotif Australia
Selasa, 09 September 2025 - 19:26 WIB
loading...
Mobil listrik buatan China. FOTO/ CNC
A
A
A
JAKARTA - Industri otomotif Australia mencatat momen bersejarah untuk pertama kalinya empat produsen mobil China berhasil masuk dalam daftar 10 merek terlaris. Mobil China menyalip Thailand sebagai sumber kendaraan baru terbesar kedua di negara tersebut.
Menurut data dari Kamar Dagang Federal Industri Otomotif (FCAI), total 141.858 unit mobil buatan Tiongkok terjual hingga Agustus 2025, dengan 20.070 unit tercatat di bulan Agustus saja.
Jika ditambahkan dengan merek yang juga dirakit di Tiongkok seperti Tesla dan Polestar, totalnya mencapai 23.225 unit untuk bulan tersebut, sehingga angka tahunan menjadi 161.479 unit.
Tiongkok kini berada di belakang Jepang (28.547 unit pada bulan Agustus) tetapi telah melampaui Thailand (20.802 unit) dalam hal pasokan kendaraan bulanan.
Namun, dalam hal volume penjualan sepanjang tahun ini, Thailand (169.522 unit) dan Jepang (246.499 unit) masih memimpin.
Popularitas kendaraan asal Tiongkok melonjak drastis dibandingkan lima tahun lalu, ketika hanya 15.689 unit yang dilaporkan terjual per Agustus 2020, setara dengan 2,7 persen pangsa pasar. Kini, pangsa pasar tersebut melonjak menjadi 17,5 persen.
Di antara merek-merek Tiongkok yang mendominasi bulan lalu adalah BYD di posisi keenam (4.877 unit), GWM di posisi kedelapan (4.488 unit), MG di posisi kesembilan (3.927 unit), dan Chery di posisi kesepuluh (3.305 unit).
Masing-masing mencatat peningkatan antara 10 dan 204 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Model terlaris adalah MG ZS dengan 2.680 unit, diikuti oleh Chery Tiggo 4 (1.780 unit), GWM Haval Jolion (1.562 unit), dan BYD Sealion 7 (1.413 unit). Tesla Model Y (2.324 unit) yang dirakit di Tiongkok juga memberikan dampak besar.
Kebangkitan ini berdampak langsung pada merek-merek tradisional dari Jepang dan Eropa. Isuzu Ute, misalnya, turun ke posisi ke-11 setelah penurunan penjualan sebesar 17,9 persen menjadi 3.223 unit.
Mazda juga turun 17,5 persen, sementara Nissan anjlok 22,7 persen. Volkswagen juga mencatat penurunan sebesar 5,9 persen meskipun meluncurkan lini model baru.
Namun, tidak semua merek dari China berhasil menembus kelompok teratas. LDV hanya berada di posisi ke-19 dengan 1.247 unit, sedikit meningkat 3,1 persen dibandingkan tahun lalu, tetapi jumlah total tahunan turun 14,9 persen menjadi 9.700 unit.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh mobil buatan China semakin kuat di pasar global, terutama di Australia, sehingga menimbulkan tantangan besar bagi merek-merek lama yang sebelumnya mendominasi pasar.
Menurut data dari Kamar Dagang Federal Industri Otomotif (FCAI), total 141.858 unit mobil buatan Tiongkok terjual hingga Agustus 2025, dengan 20.070 unit tercatat di bulan Agustus saja.
Jika ditambahkan dengan merek yang juga dirakit di Tiongkok seperti Tesla dan Polestar, totalnya mencapai 23.225 unit untuk bulan tersebut, sehingga angka tahunan menjadi 161.479 unit.
Tiongkok kini berada di belakang Jepang (28.547 unit pada bulan Agustus) tetapi telah melampaui Thailand (20.802 unit) dalam hal pasokan kendaraan bulanan.
Namun, dalam hal volume penjualan sepanjang tahun ini, Thailand (169.522 unit) dan Jepang (246.499 unit) masih memimpin.
Popularitas kendaraan asal Tiongkok melonjak drastis dibandingkan lima tahun lalu, ketika hanya 15.689 unit yang dilaporkan terjual per Agustus 2020, setara dengan 2,7 persen pangsa pasar. Kini, pangsa pasar tersebut melonjak menjadi 17,5 persen.
Di antara merek-merek Tiongkok yang mendominasi bulan lalu adalah BYD di posisi keenam (4.877 unit), GWM di posisi kedelapan (4.488 unit), MG di posisi kesembilan (3.927 unit), dan Chery di posisi kesepuluh (3.305 unit).
Masing-masing mencatat peningkatan antara 10 dan 204 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Model terlaris adalah MG ZS dengan 2.680 unit, diikuti oleh Chery Tiggo 4 (1.780 unit), GWM Haval Jolion (1.562 unit), dan BYD Sealion 7 (1.413 unit). Tesla Model Y (2.324 unit) yang dirakit di Tiongkok juga memberikan dampak besar.
Kebangkitan ini berdampak langsung pada merek-merek tradisional dari Jepang dan Eropa. Isuzu Ute, misalnya, turun ke posisi ke-11 setelah penurunan penjualan sebesar 17,9 persen menjadi 3.223 unit.
Mazda juga turun 17,5 persen, sementara Nissan anjlok 22,7 persen. Volkswagen juga mencatat penurunan sebesar 5,9 persen meskipun meluncurkan lini model baru.
Namun, tidak semua merek dari China berhasil menembus kelompok teratas. LDV hanya berada di posisi ke-19 dengan 1.247 unit, sedikit meningkat 3,1 persen dibandingkan tahun lalu, tetapi jumlah total tahunan turun 14,9 persen menjadi 9.700 unit.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pengaruh mobil buatan China semakin kuat di pasar global, terutama di Australia, sehingga menimbulkan tantangan besar bagi merek-merek lama yang sebelumnya mendominasi pasar.
(wbs)
Lihat Juga :