Ketika Fitur Keselamatan Justru Membahayakan: Kisah Horor di Balik Recall 6.314 Unit VinFast VF8
Rabu, 10 September 2025 - 13:05 WIB
loading...
VinFast VF8 mendapatkan recall karena masalah fitur Lane Keeping Assist yang berlebihan. Foto: ist
A
A
A
AMERIKA - Fitur keselamatan canggih seharusnya menjadi malaikat pelindung tak terlihat, siap membantu pengemudi mobil di saat-saat kritis. Namun, apa jadinya jika sang malaikat pelindung itu justru berbalik dan mencoba merebut kendali kemudi dari tangan Anda?
Inilah skenario mimpi buruk yang dialami oleh sejumlah pemilik mobil listrik VinFast VF8 di Amerika Serikat.
Sebuah cacat produksi pada sistem bantuan pengemudi telah memaksa pabrikan asal Vietnam itu untuk mengumumkan penarikan kembali (recall) terhadap 6.314 unit kendaraannya.
Ini bukan sekadar masalah teknis kecil; tapi tentang teknologi yang dirancang untuk menyelamatkan nyawa justru menciptakan teror di jalan raya.
Namun, pada ratusan unit VF8, fitur ini menjadi agresif secara membabi buta. Laporan yang masuk ke regulator keselamatan AS melukiskan gambaran yang mengerikan.
Pada tikungan yang lebar atau tajam, sistem LKA dilaporkan dapat secara tiba-tiba menerapkan koreksi kemudi dengan kekuatan yang begitu ekstrem, hingga pengemudi harus berjuang keras melawannya. Ini bukan lagi bantuan; tapi pertarungan fisik antara manusia dan mesin untuk mengendalikan arah mobil.
Kantor Investigasi Kecacatan (ODI) AS sampai harus mengeluarkan peringatan bahwa masalah ini dapat membutuhkan "upaya pengendalian yang tinggi" dari pengemudi dan secara signifikan meningkatkan risiko kecelakaan.
Bayangkan Anda sedang melaju di tikungan, dan tiba-tiba setir mobil menyentak dengan sendirinya, memaksa mobil Anda nyaris menghantam dinding pembatas jalan dari beton.
Seorang pengemudi melaporkan bahwa insiden mengerikan ini telah terjadi padanya sekitar 30 kali sejak ia menerima mobilnya.
Pengemudi lain menceritakan rasa frustrasi dan ketakutannya. Fitur LKA di mobilnya terus-menerus menarik kemudi ke arah tengah jalan dan mustahil untuk dinonaktifkan. "Ini membuat saya takut untuk mengemudikan mobil," keluhnya.
Respons Pabrikan dan Pelajaran Berharga
Setelah melakukan investigasi, VinFast akhirnya mengakui adanya kekurangan. Masalah ini bersumber dari pengaturan "rasio torsi" yang tidak konsisten pada sistem ADAS-nya.
Dalam bahasa lebih sederhana, komputer mobil salah perhitungan dan memerintahkan kemudi untuk berbelok dengan kekuatan yang berlebihan.
Untuk mengatasi "pemberontakan" sistem ini, VinFast akan meluncurkan pembaruan perangkat lunak secara gratis. Pembaruan ini dirancang untuk memperhalus koreksi kemudi dan, yang terpenting, mempermudah pengemudi untuk mengambil alih kembali kendali dari sistem otomatis.
Pemberitahuan resmi kepada para pemilik akan mulai dikirimkan pada 24 Oktober mendatang, sementara proses penarikan kembali akan dimulai tiga hari sebelumnya.
Kasus VinFast VF8 ini menjadi pengingat yang gamblang di era mobil pintar. Di tengah perlombaan menyematkan teknologi semi-otonom, ada garis tipis antara bantuan dan intervensi yang berbahaya.
Insiden ini menggarisbawahi bahwa kepercayaan antara pengemudi dan teknologi yang mereka andalkan sangatlah rapuh, dan kendali tertinggi harus selalu berada ditanganmanusia.
Inilah skenario mimpi buruk yang dialami oleh sejumlah pemilik mobil listrik VinFast VF8 di Amerika Serikat.
Sebuah cacat produksi pada sistem bantuan pengemudi telah memaksa pabrikan asal Vietnam itu untuk mengumumkan penarikan kembali (recall) terhadap 6.314 unit kendaraannya.
Ini bukan sekadar masalah teknis kecil; tapi tentang teknologi yang dirancang untuk menyelamatkan nyawa justru menciptakan teror di jalan raya.
Pertarungan Antara Manusia dan Mesin
Akar masalahnya terletak pada fitur yang seharusnya jinak: Lane Keeping Assist (LKA). Tugasnya sederhana, yaitu menjaga mobil agar tetap berada di lajurnya.Namun, pada ratusan unit VF8, fitur ini menjadi agresif secara membabi buta. Laporan yang masuk ke regulator keselamatan AS melukiskan gambaran yang mengerikan.
Pada tikungan yang lebar atau tajam, sistem LKA dilaporkan dapat secara tiba-tiba menerapkan koreksi kemudi dengan kekuatan yang begitu ekstrem, hingga pengemudi harus berjuang keras melawannya. Ini bukan lagi bantuan; tapi pertarungan fisik antara manusia dan mesin untuk mengendalikan arah mobil.
Kantor Investigasi Kecacatan (ODI) AS sampai harus mengeluarkan peringatan bahwa masalah ini dapat membutuhkan "upaya pengendalian yang tinggi" dari pengemudi dan secara signifikan meningkatkan risiko kecelakaan.
Suara-suara Teror dari Balik Kemudi
Investigasi ODI, yang dibuka pada September 2024 setelah menerima 14 keluhan, mengungkap kisah-kisah yang benar-benar menakutkan dari para pemilik.Bayangkan Anda sedang melaju di tikungan, dan tiba-tiba setir mobil menyentak dengan sendirinya, memaksa mobil Anda nyaris menghantam dinding pembatas jalan dari beton.
Seorang pengemudi melaporkan bahwa insiden mengerikan ini telah terjadi padanya sekitar 30 kali sejak ia menerima mobilnya.
Pengemudi lain menceritakan rasa frustrasi dan ketakutannya. Fitur LKA di mobilnya terus-menerus menarik kemudi ke arah tengah jalan dan mustahil untuk dinonaktifkan. "Ini membuat saya takut untuk mengemudikan mobil," keluhnya.
Respons Pabrikan dan Pelajaran Berharga
Setelah melakukan investigasi, VinFast akhirnya mengakui adanya kekurangan. Masalah ini bersumber dari pengaturan "rasio torsi" yang tidak konsisten pada sistem ADAS-nya.
Dalam bahasa lebih sederhana, komputer mobil salah perhitungan dan memerintahkan kemudi untuk berbelok dengan kekuatan yang berlebihan.
Untuk mengatasi "pemberontakan" sistem ini, VinFast akan meluncurkan pembaruan perangkat lunak secara gratis. Pembaruan ini dirancang untuk memperhalus koreksi kemudi dan, yang terpenting, mempermudah pengemudi untuk mengambil alih kembali kendali dari sistem otomatis.
Pemberitahuan resmi kepada para pemilik akan mulai dikirimkan pada 24 Oktober mendatang, sementara proses penarikan kembali akan dimulai tiga hari sebelumnya.
Kasus VinFast VF8 ini menjadi pengingat yang gamblang di era mobil pintar. Di tengah perlombaan menyematkan teknologi semi-otonom, ada garis tipis antara bantuan dan intervensi yang berbahaya.
Insiden ini menggarisbawahi bahwa kepercayaan antara pengemudi dan teknologi yang mereka andalkan sangatlah rapuh, dan kendali tertinggi harus selalu berada ditanganmanusia.
(dan)
Lihat Juga :