Industri Otomotif Teriak Minta Bantuan: Mimpi Jual 1 Juta Mobil hanya Bisa Tercapai dengan Diskon Pajak
Selasa, 30 September 2025 - 08:06 WIB
loading...
Diskon pajak menjadi satu-satunya jalan untuk bisa meningkatkan penjualan mobil di 2025. Foto: Sindonews
A
A
A
JAKARTA - Di tengah pasar mobil yang kian lesu dan terancam tak mampu menembus angka 800 ribu unit tahun ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengirimkan sinyal S.O.S yang sangat jelas kepada pemerintah.
"Teriakan" minta bantuan itu berisi satu pesan utama: mimpi untuk kembali menjual satu juta unit mobil per tahun hanya bisa tercapai jika pemerintah mau mengeluarkan "resep ampuh" yang terbukti manjur di era pandemi Covid-19, yaitu diskon pajak besar-besaran.
Ini bukan sekadar permintaan, melainkan proposal yang didasari oleh data historis dan kondisi daya beli masyarakat yang kian tertekan oleh harga mobil baru yang terus melambung.
Data penjualan dari Januari hingga Agustus 2025 hanya mencatatkan angka 500.951 unit, penurunan tajam 10,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, secara blak-blakan menyoroti segmen pasar yang paling krusial.
"Sekarang kita perlu insentif, kondisi lagi sulit. Berapa sih daya beli masyarakat kita? Kalau saya hanya tahu dari Gaikindo, itu datanya 70-80 persen orang beli mobil yang harganya di bawah Rp400 juta," ucap Kukuh.
Ini adalah "perut" pasar sesungguhnya, segmen yang paling sensitif terhadap kenaikan harga dan pajak, dan kini menjadi yang paling lesu.
Tahun 2020 (Tanpa Insentif): Pasar ambruk ke level terendah di angka 532 ribuan unit.
Tahun 2021 (Ada Insentif): Penjualan meroket menjadi 887 ribuan unit.
Tahun 2022 (Insentif Berlanjut): Pasar meledak hingga menembus 1,04 juta unit.
Melihat data ini, Gaikindo yakin bahwa sejarah bisa terulang.
"Harusnya bisa (tembus 1 juta unit setahun) sih. Belajar dari itu, orang kan memang beli mobil (yang harganya) di bawah Rp400 juta. Kalau pajak dikurangi kan mereka jadi mau beli," kata Kukuh.
Meskipun efektif, strategi mengandalkan diskon pajak dari pemerintah ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah ini akan menciptakan ketergantungan dan membuat pasar hanya bisa sehat jika terus-menerus disuntik stimulus?
"Kalau ada obat mujarab yang segera bisa memberikan kondisi yang lebih baik, pastinya kita bisa naik. Mungkin kita tunggu kebijakan insentif jangka pendek hingga menengah ya, 2-3 tahun supaya ini segera naik," ujar Kukuh.
Bola panas kini berada di tangan pemerintah. Industri otomotif telah menyodorkan data dan "resep" yang mereka yakini manjur.
Apakah pemerintah akan kembali meracik "obat mujarab" untuk menggairahkan pasar, atau membiarkan industri berjuang sendiri di tengah daya beli yang melemah, akan menjadi penentu nasib penjualan mobil di Indonesia untuk beberapatahunkedepan.
"Teriakan" minta bantuan itu berisi satu pesan utama: mimpi untuk kembali menjual satu juta unit mobil per tahun hanya bisa tercapai jika pemerintah mau mengeluarkan "resep ampuh" yang terbukti manjur di era pandemi Covid-19, yaitu diskon pajak besar-besaran.
Ini bukan sekadar permintaan, melainkan proposal yang didasari oleh data historis dan kondisi daya beli masyarakat yang kian tertekan oleh harga mobil baru yang terus melambung.
Pil Pahit Realita Pasar 2025
Kondisi pasar otomotif saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Setelah 2024 ditutup dengan penjualan yang hanya mencapai 865 ribuan unit, tahun 2025 menunjukkan tren yang lebih buruk.Data penjualan dari Januari hingga Agustus 2025 hanya mencatatkan angka 500.951 unit, penurunan tajam 10,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, secara blak-blakan menyoroti segmen pasar yang paling krusial.
"Sekarang kita perlu insentif, kondisi lagi sulit. Berapa sih daya beli masyarakat kita? Kalau saya hanya tahu dari Gaikindo, itu datanya 70-80 persen orang beli mobil yang harganya di bawah Rp400 juta," ucap Kukuh.
Ini adalah "perut" pasar sesungguhnya, segmen yang paling sensitif terhadap kenaikan harga dan pajak, dan kini menjadi yang paling lesu.
Mengenang 'Obat Mujarab' Bernama PPnBM DTP
Permintaan Gaikindo bukanlah tanpa dasar. Mereka berkaca pada kesuksesan program PPnBM DTP (Pajak Penjualan atas Barang Mewah Ditanggung Pemerintah) yang menjadi penyelamat industri saat pandemi. Sejarah membuktikan betapa ampuhnya resep ini:Tahun 2020 (Tanpa Insentif): Pasar ambruk ke level terendah di angka 532 ribuan unit.
Tahun 2021 (Ada Insentif): Penjualan meroket menjadi 887 ribuan unit.
Tahun 2022 (Insentif Berlanjut): Pasar meledak hingga menembus 1,04 juta unit.
Melihat data ini, Gaikindo yakin bahwa sejarah bisa terulang.
"Harusnya bisa (tembus 1 juta unit setahun) sih. Belajar dari itu, orang kan memang beli mobil (yang harganya) di bawah Rp400 juta. Kalau pajak dikurangi kan mereka jadi mau beli," kata Kukuh.
Meskipun efektif, strategi mengandalkan diskon pajak dari pemerintah ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah ini akan menciptakan ketergantungan dan membuat pasar hanya bisa sehat jika terus-menerus disuntik stimulus?
Menanti Kebijakan Penyelamat
Bagi industri, perdebatan itu tidak lebih mendesak daripada kebutuhan untuk bertahan saat ini. Mereka menanti kebijakan konkret yang bisa menjadi pendorong dalam jangka pendek hingga menengah."Kalau ada obat mujarab yang segera bisa memberikan kondisi yang lebih baik, pastinya kita bisa naik. Mungkin kita tunggu kebijakan insentif jangka pendek hingga menengah ya, 2-3 tahun supaya ini segera naik," ujar Kukuh.
Bola panas kini berada di tangan pemerintah. Industri otomotif telah menyodorkan data dan "resep" yang mereka yakini manjur.
Apakah pemerintah akan kembali meracik "obat mujarab" untuk menggairahkan pasar, atau membiarkan industri berjuang sendiri di tengah daya beli yang melemah, akan menjadi penentu nasib penjualan mobil di Indonesia untuk beberapatahunkedepan.
(dan)
Lihat Juga :