Sanae Takaichi Suka Ngebut dengan Toyota Supra, Kini Perdana Menteri Jepang
Selasa, 07 Oktober 2025 - 08:47 WIB
loading...
Sanae Takaichi penikmat Toyota Supra. FOTO/ CAR AND DRIVE
A
A
A
TOKYO - Sanae Takaichi kini akan mengukir sejarah sebagai perempuan pertama yang menjadi Perdana Menteri Jepang. Namun, di balik karier politiknya yang kontroversial dan sikap konservatifnya yang konsisten, terdapat sisi pribadi yang cukup menarik: kisah cintanya dengan mobil ikonis era 90-an, Toyota Supra Mk3.
BACA JUGA - Tantang Keganasan Toyota Supra, Nissan Z is Back!
Seperti dilansir dari Car and Drive, di usia 30 tahun, sebelum serius terjun ke dunia politik, Takaichi membeli mobil barunya dengan tabungannya sendiri, sebuah Toyota Supra 2.5GT Twin-Turbo Limited tahun 1991. Pilihan itu bukanlah suatu kebetulan.
Sebelumnya, ia telah memiliki Celica XX (juga dikenal sebagai Celica Supra di pasar luar Jepang), dan Supra A70 ini merupakan kelanjutan dari semangat sporty Toyota yang ia idam-idamkan.
Spesifikasinya cukup menarik untuk era tersebut: cat Super White Pearl Mica, interior kulit merah anggur, mesin 2,5 liter twin-turbo 1JZ-GTE bertenaga 276 hp, dipadukan dengan transmisi otomatis empat percepatan. Tak lama kemudian, ia juga menambahkan sistem navigasi Panasonic, teknologi termutakhir pada masanya.
Supra ini bukan sekadar mobil, melainkan teman setianya saat ia berkampanye dari Nara ke Tokyo, bahkan bolak-balik ke gedung Parlemen. Selama lebih dari dua dekade, Takaichi terus mengendarai Supra putih ini, bahkan hingga kariernya mencapai tingkat menteri senior di Partai Demokrat Liberal (LDP).
Ketika pertama kali mendapatkan mobil dinasnya di sekitar awal tahun 2000-an, Supra tersebut tidak dijual atau dibuang. Sebaliknya, mobil itu disimpan dengan hati-hati di sebuah bengkel di Nara. Bagi Takaichi, mobil itu melambangkan awal perjuangannya.
Tahun lalu, ketika ia mencalonkan diri sebagai presiden LDP, sebuah dealer Toyota di Nara yang awalnya menjual Supra kepadanya mengambil langkah untuk menghidupkan kembali mobil tersebut. Sepuluh teknisi sukarelawan bekerja sama untuk merestorasi cat, mesin, dan interior, membuat Supra berkilau seperti baru.
Kini, Supra menjadi daya tarik di museum kecil Toyota Nara, lengkap dengan pajangan Takaichi, seorang politisi yang saat ini sedang menunggu konfirmasi resmi sebagai Perdana Menteri perempuan pertama Jepang.
Bagi banyak pengikut politik, Takaichi dikenal sebagai "Wanita Besi Jepang", seperti Margaret Thatcher versi Asia. Dicintai atau dibenci karena sikap tegasnya, satu hal yang pasti, ia tetap setia pada Toyota Supra Mk3 miliknya.
Mobil itu bukan sekadar mesin, melainkan simbol perjalanan panjang seorang perempuan yang kini akan memimpin negara maju. Supra putihnya berdiri sebagai saksi bisu dedikasi, kerja keras, dan sejarah baru bagi Jepang selama lebih dari 30 tahun.
BACA JUGA - Tantang Keganasan Toyota Supra, Nissan Z is Back!
Seperti dilansir dari Car and Drive, di usia 30 tahun, sebelum serius terjun ke dunia politik, Takaichi membeli mobil barunya dengan tabungannya sendiri, sebuah Toyota Supra 2.5GT Twin-Turbo Limited tahun 1991. Pilihan itu bukanlah suatu kebetulan.
Sebelumnya, ia telah memiliki Celica XX (juga dikenal sebagai Celica Supra di pasar luar Jepang), dan Supra A70 ini merupakan kelanjutan dari semangat sporty Toyota yang ia idam-idamkan.
Spesifikasinya cukup menarik untuk era tersebut: cat Super White Pearl Mica, interior kulit merah anggur, mesin 2,5 liter twin-turbo 1JZ-GTE bertenaga 276 hp, dipadukan dengan transmisi otomatis empat percepatan. Tak lama kemudian, ia juga menambahkan sistem navigasi Panasonic, teknologi termutakhir pada masanya.
Supra ini bukan sekadar mobil, melainkan teman setianya saat ia berkampanye dari Nara ke Tokyo, bahkan bolak-balik ke gedung Parlemen. Selama lebih dari dua dekade, Takaichi terus mengendarai Supra putih ini, bahkan hingga kariernya mencapai tingkat menteri senior di Partai Demokrat Liberal (LDP).
Ketika pertama kali mendapatkan mobil dinasnya di sekitar awal tahun 2000-an, Supra tersebut tidak dijual atau dibuang. Sebaliknya, mobil itu disimpan dengan hati-hati di sebuah bengkel di Nara. Bagi Takaichi, mobil itu melambangkan awal perjuangannya.
Tahun lalu, ketika ia mencalonkan diri sebagai presiden LDP, sebuah dealer Toyota di Nara yang awalnya menjual Supra kepadanya mengambil langkah untuk menghidupkan kembali mobil tersebut. Sepuluh teknisi sukarelawan bekerja sama untuk merestorasi cat, mesin, dan interior, membuat Supra berkilau seperti baru.
Kini, Supra menjadi daya tarik di museum kecil Toyota Nara, lengkap dengan pajangan Takaichi, seorang politisi yang saat ini sedang menunggu konfirmasi resmi sebagai Perdana Menteri perempuan pertama Jepang.
Bagi banyak pengikut politik, Takaichi dikenal sebagai "Wanita Besi Jepang", seperti Margaret Thatcher versi Asia. Dicintai atau dibenci karena sikap tegasnya, satu hal yang pasti, ia tetap setia pada Toyota Supra Mk3 miliknya.
Mobil itu bukan sekadar mesin, melainkan simbol perjalanan panjang seorang perempuan yang kini akan memimpin negara maju. Supra putihnya berdiri sebagai saksi bisu dedikasi, kerja keras, dan sejarah baru bagi Jepang selama lebih dari 30 tahun.
(wbs)
Lihat Juga :