Bikin Geger! Chery Klaim Portofolio Tiggo Series Siap Tenggak Bensin E100, Murni Etanol!
Senin, 27 Oktober 2025 - 14:00 WIB
loading...
PT Chery Sales Indonesia (CSI) mengonfirmasi bahwa lini Tiggo Series (CSH) secara teknis mampu menggunakan bahan bakar bioetanol murni E100. Foto: Chery Indonesia
A
A
A
JAKARTA - PT Chery Sales Indonesia (CSI), selaku agen pemegang merek (APM) Chery, mengumumkan pernyataan berani terkait kesiapan teknis portofolio produknya dalam mendukung program transisi energi bahan bakar nabati (BBN).
Perseroan mengklaim bahwa lini produk unggulannya di Tanah Air telah memiliki kapabilitas untuk mengadopsi bahan bakar bioetanol dengan konsentrasi sangat tinggi, bahkan mencapai 100 persen (E100).
Kesiapan teknis ini melampaui jauh di atas rencana mandatori pemerintah yang baru akan menerapkan campuran etanol 10 persen (E10) pada tahun 2027 mendatang.
Perseroan merinci bahwa, berdasarkan data internal dan buku panduan pemilik kendaraan, model spesifik seperti Tiggo Cross CSH dan Tiggo 8 CSH telah dirancang dengan spesifikasi teknis mumpuni.
Dalam manual tersebut, tertera rekomendasi bahan bakar minimum yang dapat digunakan adalah RON 91, dengan rentang toleransi penggunaan bioetanol yang sangat lebar, yakni mulai dari E22 (22% etanol) hingga E100 (100% etanol).
Yusuf, selaku Product Planning PT CSI, mengonfirmasi kapabilitas ini dalam keterangannya kepada pers di Jakarta.
"Jadi sebenernya sih gini, yang namanya E itu merujuk pada yang diberikan sama pemerintah.
Saat ini kan memang untuk spesifikasi etanol memang memberikan E30. Tapi secara pengujian dari kami memang ada sampai E100," ujar Yusuf.
Yusuf menambahkan, strategi ini merupakan langkah proaktif perusahaan untuk menyelaraskan diri dengan berbagai regulasi. Menurutnya, Chery juga mengadopsi standar produksi global yang menyasar negara-negara dengan regulasi emisi ketat, sehingga teknologi tersebut kini tersedia untuk pasar Indonesia.
"Tapi gini maksud kami sebenarnya bahwa kita juga sambil memonitor dengan kondisi yang ada di pasar. Khawatirnya sekarang ya apalagi dengan kondisi saat ini, ada beberapa pihak yang akhirnya menolak bahan bakar tercampur dengan material lain," tutur Yusuf.
Menanggapi potensi keraguan konsumen tersebut, CSI telah menyiapkan langkah mitigasi sebagai bagian dari strategi layanan purnajual (after-sales). Yusuf menegaskan bahwa jaringan diler resmi akan proaktif memeriksa kondisi kendaraan konsumen saat melakukan perawatan berkala.
"Kita pastikan saat customer melakukan perawatan berkala, teknisi kita langsung memastikan dengan kondisi dari kendaraan pengguna menggunakan scanner. Supaya pada saat memang ada masalah muncul, dari temen-temen diler mengantisipasi terhadap hal yang berpotensi menjadi perusak atau penyebab kerusakan," tegasnya.
Klaim kesiapan E100 oleh Chery merupakan langkah strategis yang menunjukkan posisi over-engineering produk mereka untuk kondisi pasar Indonesia saat ini.
Melampaui Regulasi (Future-Proof): Di saat pemerintah baru mewacanakan mandatori E10 (10% etanol) pada 2027, dan pasar baru bersiap untuk E30, spesifikasi teknis Chery (toleransi hingga E100) telah melampaui kebutuhan regulasi jangka pendek dan menengah secara signifikan. Ini diposisikan sebagai nilai jual (USP) bahwa produk Chery "siap untuk masa depan" dan aman terhadap segala peningkatan mandatori BBN di kemudian hari.
Manajemen Risiko Teknis: Toleransi E22 hingga E100 mengindikasikan bahwa komponen vital seperti selang bahan bakar, injektor, dan tangki bensin pada model Tiggo CSH telah menggunakan material yang resisten terhadap sifat korosif etanol konsentrasi tinggi.
Manajemen Risiko Pasar: Pernyataan Yusuf yang menyadari kekhawatiran publik dan menyiapkan mitigasi via scanner saat servis berkala adalah langkah penting. Tanpa jaminan purnajual yang kuat, klaim E100 justru berisiko menimbulkan keraguan konsumen yang khawatir akan dampak jangka panjang etanol pada mesin. Chery secara proaktif mengatasi sentimen negatif ini dengan janji pengawasan teknis di jaringan resminya.
Perseroan mengklaim bahwa lini produk unggulannya di Tanah Air telah memiliki kapabilitas untuk mengadopsi bahan bakar bioetanol dengan konsentrasi sangat tinggi, bahkan mencapai 100 persen (E100).
Kesiapan teknis ini melampaui jauh di atas rencana mandatori pemerintah yang baru akan menerapkan campuran etanol 10 persen (E10) pada tahun 2027 mendatang.
Perseroan merinci bahwa, berdasarkan data internal dan buku panduan pemilik kendaraan, model spesifik seperti Tiggo Cross CSH dan Tiggo 8 CSH telah dirancang dengan spesifikasi teknis mumpuni.
Dalam manual tersebut, tertera rekomendasi bahan bakar minimum yang dapat digunakan adalah RON 91, dengan rentang toleransi penggunaan bioetanol yang sangat lebar, yakni mulai dari E22 (22% etanol) hingga E100 (100% etanol).
Yusuf, selaku Product Planning PT CSI, mengonfirmasi kapabilitas ini dalam keterangannya kepada pers di Jakarta.
"Jadi sebenernya sih gini, yang namanya E itu merujuk pada yang diberikan sama pemerintah.
Saat ini kan memang untuk spesifikasi etanol memang memberikan E30. Tapi secara pengujian dari kami memang ada sampai E100," ujar Yusuf.
Yusuf menambahkan, strategi ini merupakan langkah proaktif perusahaan untuk menyelaraskan diri dengan berbagai regulasi. Menurutnya, Chery juga mengadopsi standar produksi global yang menyasar negara-negara dengan regulasi emisi ketat, sehingga teknologi tersebut kini tersedia untuk pasar Indonesia.
Mitigasi Risiko dan Sentimen Pasar
Meskipun secara teknis siap, Perseroan tetap memonitor sentimen pasar di Indonesia. CSI menyadari adanya kekhawatiran di sebagian kalangan publik terhadap penggunaan bahan bakar yang dicampur dengan material lain seperti etanol."Tapi gini maksud kami sebenarnya bahwa kita juga sambil memonitor dengan kondisi yang ada di pasar. Khawatirnya sekarang ya apalagi dengan kondisi saat ini, ada beberapa pihak yang akhirnya menolak bahan bakar tercampur dengan material lain," tutur Yusuf.
Menanggapi potensi keraguan konsumen tersebut, CSI telah menyiapkan langkah mitigasi sebagai bagian dari strategi layanan purnajual (after-sales). Yusuf menegaskan bahwa jaringan diler resmi akan proaktif memeriksa kondisi kendaraan konsumen saat melakukan perawatan berkala.
"Kita pastikan saat customer melakukan perawatan berkala, teknisi kita langsung memastikan dengan kondisi dari kendaraan pengguna menggunakan scanner. Supaya pada saat memang ada masalah muncul, dari temen-temen diler mengantisipasi terhadap hal yang berpotensi menjadi perusak atau penyebab kerusakan," tegasnya.
Klaim kesiapan E100 oleh Chery merupakan langkah strategis yang menunjukkan posisi over-engineering produk mereka untuk kondisi pasar Indonesia saat ini.
Melampaui Regulasi (Future-Proof): Di saat pemerintah baru mewacanakan mandatori E10 (10% etanol) pada 2027, dan pasar baru bersiap untuk E30, spesifikasi teknis Chery (toleransi hingga E100) telah melampaui kebutuhan regulasi jangka pendek dan menengah secara signifikan. Ini diposisikan sebagai nilai jual (USP) bahwa produk Chery "siap untuk masa depan" dan aman terhadap segala peningkatan mandatori BBN di kemudian hari.
Manajemen Risiko Teknis: Toleransi E22 hingga E100 mengindikasikan bahwa komponen vital seperti selang bahan bakar, injektor, dan tangki bensin pada model Tiggo CSH telah menggunakan material yang resisten terhadap sifat korosif etanol konsentrasi tinggi.
Manajemen Risiko Pasar: Pernyataan Yusuf yang menyadari kekhawatiran publik dan menyiapkan mitigasi via scanner saat servis berkala adalah langkah penting. Tanpa jaminan purnajual yang kuat, klaim E100 justru berisiko menimbulkan keraguan konsumen yang khawatir akan dampak jangka panjang etanol pada mesin. Chery secara proaktif mengatasi sentimen negatif ini dengan janji pengawasan teknis di jaringan resminya.
(dan)
Lihat Juga :