Setara dengan Pertamax Turbo, Ini Fakta Ilmiah Bobibos BBM Buatan Jonggol
Selasa, 11 November 2025 - 16:47 WIB
loading...
Ini Fakta Ilmiah Bobibos BBM Buatan Jonggol. FOTO/ LIPI
A
A
A
BOGOR - Bahan bakar nabati menjadi salah satu solusi untuk pemenuhan kebutuhan energi saat ini. Hal inilah yang mendorong PT Inti Sinergi Formula mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan bernama Bobibos.
Bobibos adalah singkatan dari "Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos," sebuah produk bahan bakar nabati yang diklaim dibuat dari tanaman lokal dan dipromosikan memiliki emisi sangat rendah serta angka oktan tinggi setara RON 98. Klaim itu disampaikan oleh tim penemu saat peluncuran publik dan diunggah
Bobibos merupakan bahan bakar nabati yang berhasil di kembangkan PT Inti Sinergi Formula, setelah 10 tahun melakukan riset. Bahan bakar ini pun diperkenalkan kepada masyarakat luas di Bhumi Sultan, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Minggu (2/11/2025).
Dalam peluncuran ini, Bobibos memperkenalkan dua bahan bakar nabatinya, yakni berjenis solar dan bensin. Founder Bobibos Ikhlas Thamrin mengatakan, bahan bakar nabati ini merupakan energi terbarukan yang diciptakan anak bangsa yang ada di Jonggol.
Menurut dia, Bobibos bahan bakar nabati ini diperkenalkan setelah ia dan timnya hampir 10 tahun melakukan riset untuk bisa menciptakan energi terbarukan, ramah lingkungan dengan harga murah.
Ia mengklim, bahan bakar nabati, khususnya yang berjenis bensin ini berdasarkan hasil laboratorium memiliki ron 98, atau setara dengan Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex untuk solar.
Menurut dia, bahan bakar nabati yang dikembangkannya sangat ramah lingkungan dan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan bensin atau solar yang dijual di SPBU.
Tidak hanya itu, bahan bakar ini ramah lingkungan karena menggunakan tanaman yang biasa ada di ladang atau persawahan. Sehingga, kata dia, energi terbarukan ini bisa dikembangkan di mana saja.
Dengan hadirnya Bobibos, ia berharap Indonesia, khususnya Jonggol bisa menjadi pemimpin baru dunia energi terbarukan.
Ada dua alasan kuat mengapa Bobibos menjadi perhatian. Pertama, klaim performa dan emisi rendah menawarkan harapan pada masalah energi dan kualitas udara di Indonesia.
Kedua, inisiatif ini diposisikan sebagai produk anak bangsa yang bisa mendorong kemandirian energi dan pemanfaatan sumber daya lokal. Klaim tersebut memicu optimism sekaligus skeptisisme, terutama karena peredaran bahan bakar komersial harus melalui proses pengujian dan regulasi ketat.
Penemu Bobibos menyatakan bahwa risetnya berlangsung selama lebih dari satu dekade dan menyebut ada data uji laboratorium serta uji fungsi pada berbagai kendaraan yang menunjukkan performa baik dan tingkat emisi rendah.
Mereka juga mengklaim Bobibos tersedia dalam varian bensin dan solar serta mampu mencapai angka oktan mendekati 98.
Namun perlu dicatat bahwa beberapa laporan menyebut dokumen uji masih berada dalam kesepakatan tertutup antara penemu dan lembaga penguji, sehingga publik belum bisa memverifikasi data tersebut secara independen.
Secara ilmiah bahan bakar nabati atau biofuel dapat menjadi alternatif BBM fosil karena keduanya pada dasarnya adalah campuran hidrokarbon yang dapat menyimpan energi kimia.
Beberapa jenis biofuel memang memiliki angka oktan yang tinggi sehingga cocok untuk mesin berkompresi tinggi.
Namun sifat kimiawi biofuel berbeda dari bensin fosil. Kandungan oksigen pada biofuel, misalnya, dapat mengubah karakteristik pembakaran, korosi bahan bakar, dan kompatibilitas dengan material sistem bahan bakar di kendaraan lama.
Oleh karena itu setiap formulasi baru wajib diuji dari sisi stabilitas penyimpanan, korosi, kompatibilitas karet dan plastik, performa pembakaran, emisi seperti NOx dan partikel, serta dampak pada mesin jangka panjang.
Tanpa pengujian lengkap, risiko kerusakan mesin atau peningkatan emisi tertentu tetap ada. Kajian teknis semacam ini biasanya dilakukan oleh laboratorium nasional seperti Lemigas dan lembaga riset independen.
Ada dua alasan kuat mengapa Bobibos menjadi perhatian. Pertama, klaim performa dan emisi rendah menawarkan harapan pada masalah energi dan kualitas udara di Indonesia.
Kedua, inisiatif ini diposisikan sebagai produk anak bangsa yang bisa mendorong kemandirian energi dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Klaim tersebut memicu optimism sekaligus skeptisisme, terutama karena peredaran bahan bakar komersial harus melalui proses pengujian dan regulasi ketat.
Bobibos adalah singkatan dari "Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos," sebuah produk bahan bakar nabati yang diklaim dibuat dari tanaman lokal dan dipromosikan memiliki emisi sangat rendah serta angka oktan tinggi setara RON 98. Klaim itu disampaikan oleh tim penemu saat peluncuran publik dan diunggah
Bobibos merupakan bahan bakar nabati yang berhasil di kembangkan PT Inti Sinergi Formula, setelah 10 tahun melakukan riset. Bahan bakar ini pun diperkenalkan kepada masyarakat luas di Bhumi Sultan, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Minggu (2/11/2025).
Dalam peluncuran ini, Bobibos memperkenalkan dua bahan bakar nabatinya, yakni berjenis solar dan bensin. Founder Bobibos Ikhlas Thamrin mengatakan, bahan bakar nabati ini merupakan energi terbarukan yang diciptakan anak bangsa yang ada di Jonggol.
Menurut dia, Bobibos bahan bakar nabati ini diperkenalkan setelah ia dan timnya hampir 10 tahun melakukan riset untuk bisa menciptakan energi terbarukan, ramah lingkungan dengan harga murah.
Ia mengklim, bahan bakar nabati, khususnya yang berjenis bensin ini berdasarkan hasil laboratorium memiliki ron 98, atau setara dengan Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex untuk solar.
Menurut dia, bahan bakar nabati yang dikembangkannya sangat ramah lingkungan dan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan bensin atau solar yang dijual di SPBU.
Tidak hanya itu, bahan bakar ini ramah lingkungan karena menggunakan tanaman yang biasa ada di ladang atau persawahan. Sehingga, kata dia, energi terbarukan ini bisa dikembangkan di mana saja.
Dengan hadirnya Bobibos, ia berharap Indonesia, khususnya Jonggol bisa menjadi pemimpin baru dunia energi terbarukan.
Ada dua alasan kuat mengapa Bobibos menjadi perhatian. Pertama, klaim performa dan emisi rendah menawarkan harapan pada masalah energi dan kualitas udara di Indonesia.
Kedua, inisiatif ini diposisikan sebagai produk anak bangsa yang bisa mendorong kemandirian energi dan pemanfaatan sumber daya lokal. Klaim tersebut memicu optimism sekaligus skeptisisme, terutama karena peredaran bahan bakar komersial harus melalui proses pengujian dan regulasi ketat.
Penemu Bobibos menyatakan bahwa risetnya berlangsung selama lebih dari satu dekade dan menyebut ada data uji laboratorium serta uji fungsi pada berbagai kendaraan yang menunjukkan performa baik dan tingkat emisi rendah.
Mereka juga mengklaim Bobibos tersedia dalam varian bensin dan solar serta mampu mencapai angka oktan mendekati 98.
Namun perlu dicatat bahwa beberapa laporan menyebut dokumen uji masih berada dalam kesepakatan tertutup antara penemu dan lembaga penguji, sehingga publik belum bisa memverifikasi data tersebut secara independen.
Secara ilmiah bahan bakar nabati atau biofuel dapat menjadi alternatif BBM fosil karena keduanya pada dasarnya adalah campuran hidrokarbon yang dapat menyimpan energi kimia.
Beberapa jenis biofuel memang memiliki angka oktan yang tinggi sehingga cocok untuk mesin berkompresi tinggi.
Namun sifat kimiawi biofuel berbeda dari bensin fosil. Kandungan oksigen pada biofuel, misalnya, dapat mengubah karakteristik pembakaran, korosi bahan bakar, dan kompatibilitas dengan material sistem bahan bakar di kendaraan lama.
Oleh karena itu setiap formulasi baru wajib diuji dari sisi stabilitas penyimpanan, korosi, kompatibilitas karet dan plastik, performa pembakaran, emisi seperti NOx dan partikel, serta dampak pada mesin jangka panjang.
Tanpa pengujian lengkap, risiko kerusakan mesin atau peningkatan emisi tertentu tetap ada. Kajian teknis semacam ini biasanya dilakukan oleh laboratorium nasional seperti Lemigas dan lembaga riset independen.
Ada dua alasan kuat mengapa Bobibos menjadi perhatian. Pertama, klaim performa dan emisi rendah menawarkan harapan pada masalah energi dan kualitas udara di Indonesia.
Kedua, inisiatif ini diposisikan sebagai produk anak bangsa yang bisa mendorong kemandirian energi dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Klaim tersebut memicu optimism sekaligus skeptisisme, terutama karena peredaran bahan bakar komersial harus melalui proses pengujian dan regulasi ketat.
(wbs)
Lihat Juga :