Honda Culture Vol. 2: Strategi Jaga Loyalitas di Tengah Persaingan, 37 Komunitas Turun Gunung di CIBIS Park!
Sabtu, 15 November 2025 - 22:03 WIB
loading...
Di tengah gempuran mobil China, PT Honda Prospect Motor memilih memperkuat benteng loyalitasnya melalui ajang akbar Honda Culture Indonesia Vol. 2, yang menyatukan 50.000 anggota komunitas. Foto: HPM
A
A
A
JAKARTA - Pasar otomotif Indonesia kini tak lagi sama. Gempuran masif mobil-mobil baru asal China, terutama di segmen kendaraan listrik (EV) yang agresif, terus menggerus dominasi pabrikan Jepang.
Di tengah medan perang baru ini, PT Honda Prospect Motor (HPM) tampaknya memilih strategi yang berbeda: merapatkan barisan dan memperkuat "benteng" dari dalam.
Strategi itu mewujud dalam sebuah perayaan akbar bertajuk Honda Culture Indonesia Vol. 2, yang digelar meriah di CIBIS Park, Jakarta, pada 15–16 November 2025.
Ini bukan sekadar pameran otomotif biasa. Acara ini adalah puncak dari roadshow di 10 kota besar, menjadi titik kumpul bagi 37 komunitas Honda yang terfragmentasi dalam 100 chapter dan memiliki total anggota lebih dari 50.000 orang di seluruh Indonesia.
Bisa dibilang, langkah ini jadi demonstrasi kekuatan. Honda seolah ingin mengirim pesan: aset terbesar mereka bukan sekadar pabrik atau produk, melainkan puluhan ribu loyalis fanatik ini.
![Honda Culture Vol. 2: Strategi Jaga Loyalitas di Tengah Persaingan, 37 Komunitas Turun Gunung di CIBIS Park!]()
Shugo Watanabe, President Director PT Honda Prospect Motor, mengamini hal ini. Menurutnya, acara ini adalah bukti bahwa Honda telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat.
“Acara ini bukan sekadar perayaan otomotif, tetapi juga wadah ekspresi lintas generasi,” ujar Watanabe. “Kami ingin menunjukkan bahwa Honda adalah bagian dari perjalanan dan kisah masyarakat Indonesia yang terus menyala sepanjang masa.”
Nostalgia DNA Balap Sebagai Senjata
Langkah Honda ini sangat relevan jika dibaca dalam konteks sejarah panjang mereka. Selama lebih dari 50 tahun di Indonesia, Honda sukses membangun citra yang sangat lekat dengan anak muda, performa, dan DNA balap.
DNA inilah yang "dirayakan" di Honda Culture Vol. 2. Di Main Zone, pengunjung tidak hanya disuguhi mobil baru. Mereka diajak bernostalgia, melihat langsung "pusaka" yang membangun citra Honda.
Di sana, berjejer 17 mobil spesial dan 3 unit motor ikonik. Mulai dari klasik performa seperti Honda S500, Honda S800, hingga Honda NSX NA1 yang legendaris.
Tak ketinggalan, hadir para idola modifikasi seperti Civic Estilo, CR-X, Civic Nouva EF9, hingga Civic Type R (FN2 dan FL5 Mugen).
Mobil-mobil ini adalah simbol. Inilah produk yang membuat Honda identik dengan kultur modifikasi. Mobil-mobil ini "mudah dimodifikasi," menyenangkan untuk dikendarai, dan menjadi kanvas ekspresi pemiliknya.
Sebuah kultur yang tumbuh organik dan tidak bisa ditiru oleh merek baru dalam semalam.
Apakah Strategi Ini Efektif?
Di saat para pesaing baru fokus "membakar uang" untuk promosi dan perang harga EV, Honda memilih berinvestasi pada komunitas. Tapi, apakah langkah ini efektif?
Jawabannya adalah: sangat efektif, sebagai sebuah strategi defensif.
Honda Culture adalah cara Honda "mengunci" basis konsumen loyalnya. Acara ini mengingatkan kembali puluhan ribu anggotanya mengapa mereka memilih Honda.
Ini bukan lagi soal harga atau fitur head-to-head, tapi soal kebanggaan, sejarah, dan rasa memiliki (sense of belonging).
![Honda Culture Vol. 2: Strategi Jaga Loyalitas di Tengah Persaingan, 37 Komunitas Turun Gunung di CIBIS Park!]()
“Ya, datang ke acara Honda Culture dan melihat mobil-mobil yang dipajang ini seperti mengingatkan lagi mengapa Honda memiliki komunitas yang sangat besar dan sangat loyal. Karena mobil-mobilnya sendiri memang ikonik, memorable, dan punya sejarah panjang di Indonesia. Mobil-mobil Honda memiliki dampak sangat besar terhadap perkembangan industri otomotif, juga sub-kultur modifikasi di Indonesia,” ujar Ipang, salah seorang pengunjung yang juga penggemar mobil Honda.
Data dari gelaran pertama tahun 2024 membuktikannya. Acara di Jakarta pada 19 Oktober 2024 sukses mendatangkan lebih dari 2.500 pengunjung dan 2.100 mobil komunitas. Hasilnya? Terjadi pemesanan 260 unit mobil Honda di lokasi.
Ini membuktikan bahwa antusiasme komunitas dapat dikonversi langsung menjadi penjualan. Seperti yang diungkapkan Yusak Billy, Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM (saat acara 2024), acara ini menjadi ajang bagi calon konsumen untuk merasakan kepercayaan.
"Acara ini juga menjadi ajang bagi calon konsumen untuk merasakan kepercayaan dan kecintaan dari komunitas terhadap produk-produk Honda," kata Yusak Billy.
![Honda Culture Vol. 2: Strategi Jaga Loyalitas di Tengah Persaingan, 37 Komunitas Turun Gunung di CIBIS Park!]()
Namun, "perang" sesungguhnya ada di masa depan, yakni elektrifikasi. Di sinilah Honda Culture harus berevolusi.
Gelaran Vol. 2 sudah mencoba mengenalkan produk elektrifikasi. Di Relax Zone, ada Honda Step WGN dan di area test drive ada HR-V e:HEV. Namun, posisinya belum menjadi bintang utama.
Bintangnya masih para "legenda" bermesin bensin.
Selanjutnya, di Honda Culture tahun depan, Honda tidak boleh lagi hanya defensif (menjaga loyalis) tapi juga harus ofensif (merebut konsumen baru).
![Honda Culture Vol. 2: Strategi Jaga Loyalitas di Tengah Persaingan, 37 Komunitas Turun Gunung di CIBIS Park!]()
Salah satunya caranya, dengan berfokus pada kendaraan-kendaraan hybrid atau elektrifikasi mereka yang ternyata juga "keren" dan tetap memiliki DNA balap serta joy of driving.
Sehingga, para komunitas, Honda loyalis, dan para antusias merek H tegak merasa ingin terus memiliki serta menunggu-nunggu model-model Honda terbaru serta tidak ingin beralih ke lain merek.
Honda Culture adalah fondasi yang sangat kuat. Dengan mengintegrasikan visi masa depan (elektrifikasi) ke dalam perayaan akar rumput (komunitas dan modifikasi), Honda tidak hanya akan mempertahankan loyalisnya, tetapi juga membuktikan bahwa DNA balap mereka siap menyambuterabaru.
Di tengah medan perang baru ini, PT Honda Prospect Motor (HPM) tampaknya memilih strategi yang berbeda: merapatkan barisan dan memperkuat "benteng" dari dalam.
Strategi itu mewujud dalam sebuah perayaan akbar bertajuk Honda Culture Indonesia Vol. 2, yang digelar meriah di CIBIS Park, Jakarta, pada 15–16 November 2025.
Ini bukan sekadar pameran otomotif biasa. Acara ini adalah puncak dari roadshow di 10 kota besar, menjadi titik kumpul bagi 37 komunitas Honda yang terfragmentasi dalam 100 chapter dan memiliki total anggota lebih dari 50.000 orang di seluruh Indonesia.
Bisa dibilang, langkah ini jadi demonstrasi kekuatan. Honda seolah ingin mengirim pesan: aset terbesar mereka bukan sekadar pabrik atau produk, melainkan puluhan ribu loyalis fanatik ini.

Shugo Watanabe, President Director PT Honda Prospect Motor, mengamini hal ini. Menurutnya, acara ini adalah bukti bahwa Honda telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat.
“Acara ini bukan sekadar perayaan otomotif, tetapi juga wadah ekspresi lintas generasi,” ujar Watanabe. “Kami ingin menunjukkan bahwa Honda adalah bagian dari perjalanan dan kisah masyarakat Indonesia yang terus menyala sepanjang masa.”
Nostalgia DNA Balap Sebagai Senjata
![Honda Culture Vol. 2: Strategi Jaga Loyalitas di Tengah Persaingan, 37 Komunitas Turun Gunung di CIBIS Park!]()
Langkah Honda ini sangat relevan jika dibaca dalam konteks sejarah panjang mereka. Selama lebih dari 50 tahun di Indonesia, Honda sukses membangun citra yang sangat lekat dengan anak muda, performa, dan DNA balap.
DNA inilah yang "dirayakan" di Honda Culture Vol. 2. Di Main Zone, pengunjung tidak hanya disuguhi mobil baru. Mereka diajak bernostalgia, melihat langsung "pusaka" yang membangun citra Honda.
Di sana, berjejer 17 mobil spesial dan 3 unit motor ikonik. Mulai dari klasik performa seperti Honda S500, Honda S800, hingga Honda NSX NA1 yang legendaris.
Tak ketinggalan, hadir para idola modifikasi seperti Civic Estilo, CR-X, Civic Nouva EF9, hingga Civic Type R (FN2 dan FL5 Mugen).
Mobil-mobil ini adalah simbol. Inilah produk yang membuat Honda identik dengan kultur modifikasi. Mobil-mobil ini "mudah dimodifikasi," menyenangkan untuk dikendarai, dan menjadi kanvas ekspresi pemiliknya.
Sebuah kultur yang tumbuh organik dan tidak bisa ditiru oleh merek baru dalam semalam.
Apakah Strategi Ini Efektif?
![Honda Culture Vol. 2: Strategi Jaga Loyalitas di Tengah Persaingan, 37 Komunitas Turun Gunung di CIBIS Park!]()
Di saat para pesaing baru fokus "membakar uang" untuk promosi dan perang harga EV, Honda memilih berinvestasi pada komunitas. Tapi, apakah langkah ini efektif?
Jawabannya adalah: sangat efektif, sebagai sebuah strategi defensif.
Honda Culture adalah cara Honda "mengunci" basis konsumen loyalnya. Acara ini mengingatkan kembali puluhan ribu anggotanya mengapa mereka memilih Honda.
Ini bukan lagi soal harga atau fitur head-to-head, tapi soal kebanggaan, sejarah, dan rasa memiliki (sense of belonging).

“Ya, datang ke acara Honda Culture dan melihat mobil-mobil yang dipajang ini seperti mengingatkan lagi mengapa Honda memiliki komunitas yang sangat besar dan sangat loyal. Karena mobil-mobilnya sendiri memang ikonik, memorable, dan punya sejarah panjang di Indonesia. Mobil-mobil Honda memiliki dampak sangat besar terhadap perkembangan industri otomotif, juga sub-kultur modifikasi di Indonesia,” ujar Ipang, salah seorang pengunjung yang juga penggemar mobil Honda.
Data dari gelaran pertama tahun 2024 membuktikannya. Acara di Jakarta pada 19 Oktober 2024 sukses mendatangkan lebih dari 2.500 pengunjung dan 2.100 mobil komunitas. Hasilnya? Terjadi pemesanan 260 unit mobil Honda di lokasi.
Ini membuktikan bahwa antusiasme komunitas dapat dikonversi langsung menjadi penjualan. Seperti yang diungkapkan Yusak Billy, Sales & Marketing and After Sales Director PT HPM (saat acara 2024), acara ini menjadi ajang bagi calon konsumen untuk merasakan kepercayaan.
"Acara ini juga menjadi ajang bagi calon konsumen untuk merasakan kepercayaan dan kecintaan dari komunitas terhadap produk-produk Honda," kata Yusak Billy.
Menjembatani Masa Depan

Namun, "perang" sesungguhnya ada di masa depan, yakni elektrifikasi. Di sinilah Honda Culture harus berevolusi.
Gelaran Vol. 2 sudah mencoba mengenalkan produk elektrifikasi. Di Relax Zone, ada Honda Step WGN dan di area test drive ada HR-V e:HEV. Namun, posisinya belum menjadi bintang utama.
Bintangnya masih para "legenda" bermesin bensin.
Selanjutnya, di Honda Culture tahun depan, Honda tidak boleh lagi hanya defensif (menjaga loyalis) tapi juga harus ofensif (merebut konsumen baru).

Salah satunya caranya, dengan berfokus pada kendaraan-kendaraan hybrid atau elektrifikasi mereka yang ternyata juga "keren" dan tetap memiliki DNA balap serta joy of driving.
Sehingga, para komunitas, Honda loyalis, dan para antusias merek H tegak merasa ingin terus memiliki serta menunggu-nunggu model-model Honda terbaru serta tidak ingin beralih ke lain merek.
Honda Culture adalah fondasi yang sangat kuat. Dengan mengintegrasikan visi masa depan (elektrifikasi) ke dalam perayaan akar rumput (komunitas dan modifikasi), Honda tidak hanya akan mempertahankan loyalisnya, tetapi juga membuktikan bahwa DNA balap mereka siap menyambuterabaru.
(dan)
Lihat Juga :