Dari Jejak Kijang 1995 ke Veloz 2025: Evolusi Mobil Sejuta Umat Jadi Hibrida Rakyat
Jum'at, 05 Desember 2025 - 16:53 WIB
loading...
Menantang ganasnya aspal Nusantara selama 50 hari, satu unit Veloz Hybrid seharga Rp299 juta nekat tempuh rute Mandalika hingga Danau Toba demi buktikan durabilitas baterai lokal. Foto: TAM
A
A
A
MANDALIKA - Sirkuit Mandalika biasanya bergetar oleh raungan mesin balap yang memekakkan telinga. Namun, Rabu (2/12/2025), aspal panas di Nusa Tenggara Barat itu menjadi saksi dimulainya sebuah misi unik.
Sorotan justru tertuju pada satu unit Multi Purpose Vehicle (MPV) keluarga yang nekat menantang takdir: menembus ribuan kilometer dari timur ke barat Indonesia, sendirian, tanpa jeda.
Ekspedisi bertajuk Veloz Hybrid EV Lintas Nusa 2025 ini menjadi pertaruhan PT Toyota-Astra Motor (TAM) terhadap New Veloz Hybrid EV—mobil produksi lokal yang baru saja debut global di GAIKINDO Jakarta Auto Week (GJAW) November lalu—untuk disiksa habis-habisan selama kurang lebih 50 hari.
Sebanyak 11 media nasional, yang bergantian memegang kemudi secara estafet, ditantang untuk membuktikan klaim ketangguhan mobil ini. Rute yang dipilih tidak mengenal ampun.
Dimulai dari Mandalika, menyusuri pesisir Bali, membelah hutan Baluran di Banyuwangi, mendaki terjalnya Bromo, hingga memecah kemacetan Jakarta.
Belum cukup sampai di situ, perjalanan akan berlanjut menyeberang ke Sumatera, melintasi Palembang, Jambi, menaklukkan kelok Bukittinggi, hingga berakhir di tepian Danau Toba.
Jalur ini adalah etalase lengkap wajah jalanan Indonesia: mulus, berlubang, macet, hingga jalur off-road ringan pedesaan.
Disrupsi Harga: Hibrida untuk Kaum Mendang-Mending
Analisis pasar menunjukkan langkah strategis Toyota kali ini sangat agresif.
Selama ini, teknologi hibrida sering dianggap barang mewah yang hanya bisa dinikmati kelas menengah atas.
Namun, New Veloz Hybrid EV hadir mendobrak stigma tersebut dengan banderol harga Rp299 juta untuk tipe V Grade (harga khusus pemesanan hingga 31 Desember 2025).
Angka psikologis di bawah Rp300 juta ini adalah pukulan telak bagi kompetitor. Toyota seolah ingin menegaskan bahwa teknologi hemat bahan bakar dan ramah lingkungan kini bisa diakses oleh segmen pasar gemuk di Indonesia.
Marketing Director PT TAM, Jap Ernando Demily, menegaskan bahwa ekspedisi ini adalah pembuktian Quality, Durability, & Reliability (QDR). "Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi hybrid Toyota itu efisien, tangguh, dan tidak manja. Ia relevan untuk kondisi nyata jalanan Indonesia, dari pelosok hingga kota besar," ujarnya.
Romantisme Sejarah Napak Tilas Kijang 1995
Perjalanan ini membangkitkan memori kolektif tentang sejarah panjang Toyota di Indonesia. Flashback ke 30 tahun silam, tepatnya tahun 1995, Toyota pernah menggelar Kijang Lintas Nusa.
Kala itu, 50 unit Kijang Super merah-putih menempuh 6.000 km dari Aceh ke Larantuka selama 36 hari.
Kemudian pada 2014, Avanzanation Journey melibatkan 10.000 pengguna menempuh 35.000 km. Kini, di tahun 2025, tongkat estafet itu dipegang oleh Veloz Hybrid.
Jika dulu Kijang membuktikan ketangguhan mesin konvensional, kini Veloz membuktikan bahwa baterai dan motor listrik pun sanggup diajak "menderita" di jalur lintas provinsi.
Dampak Ekonomi dan Ekosistem Di luar urusan teknis, perjalanan ini juga menyoroti kesiapan ekosistem purna jual.
![Dari Jejak Kijang 1995 ke Veloz 2025: Evolusi Mobil Sejuta Umat Jadi Hibrida Rakyat]()
Rombongan akan singgah di berbagai jaringan dealer Toyota yang kini berjumlah 363 outlet di seluruh Indonesia, serta berinteraksi dengan komunitas loyal seperti Velozity yang sudah eksis sejak 2012.
Marketing Director PT TAM, Hiroyuki Oide, menambahkan perspektif makro ekonomi.
"Sebagai produk lokal, kehadiran Hybrid MPV ini akan turut memutar roda perekonomian lewat manufaktur dan rantai pasok (supply chain). Kami berharap Veloz Hybrid tumbuh sebagai lokomotif adopsi kendaraan elektrifikasi di Indonesia," jelasnya.
Perjalanan 50 hari ini akan menjadi hakim yang adil. Apakah Veloz Hybrid seharga Rp 299 juta ini mampu bertahan hidup di kerasnya aspal Nusantara, atau hanya sekadar gimmick marketing belaka? Waktu dan kilometer yang akanmenjawabnya.
Sorotan justru tertuju pada satu unit Multi Purpose Vehicle (MPV) keluarga yang nekat menantang takdir: menembus ribuan kilometer dari timur ke barat Indonesia, sendirian, tanpa jeda.
Ekspedisi bertajuk Veloz Hybrid EV Lintas Nusa 2025 ini menjadi pertaruhan PT Toyota-Astra Motor (TAM) terhadap New Veloz Hybrid EV—mobil produksi lokal yang baru saja debut global di GAIKINDO Jakarta Auto Week (GJAW) November lalu—untuk disiksa habis-habisan selama kurang lebih 50 hari.
Sebanyak 11 media nasional, yang bergantian memegang kemudi secara estafet, ditantang untuk membuktikan klaim ketangguhan mobil ini. Rute yang dipilih tidak mengenal ampun.
Dimulai dari Mandalika, menyusuri pesisir Bali, membelah hutan Baluran di Banyuwangi, mendaki terjalnya Bromo, hingga memecah kemacetan Jakarta.
Belum cukup sampai di situ, perjalanan akan berlanjut menyeberang ke Sumatera, melintasi Palembang, Jambi, menaklukkan kelok Bukittinggi, hingga berakhir di tepian Danau Toba.
Jalur ini adalah etalase lengkap wajah jalanan Indonesia: mulus, berlubang, macet, hingga jalur off-road ringan pedesaan.
Disrupsi Harga: Hibrida untuk Kaum Mendang-Mending
![Dari Jejak Kijang 1995 ke Veloz 2025: Evolusi Mobil Sejuta Umat Jadi Hibrida Rakyat]()
Analisis pasar menunjukkan langkah strategis Toyota kali ini sangat agresif.
Selama ini, teknologi hibrida sering dianggap barang mewah yang hanya bisa dinikmati kelas menengah atas.
Namun, New Veloz Hybrid EV hadir mendobrak stigma tersebut dengan banderol harga Rp299 juta untuk tipe V Grade (harga khusus pemesanan hingga 31 Desember 2025).
Angka psikologis di bawah Rp300 juta ini adalah pukulan telak bagi kompetitor. Toyota seolah ingin menegaskan bahwa teknologi hemat bahan bakar dan ramah lingkungan kini bisa diakses oleh segmen pasar gemuk di Indonesia.
Marketing Director PT TAM, Jap Ernando Demily, menegaskan bahwa ekspedisi ini adalah pembuktian Quality, Durability, & Reliability (QDR). "Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi hybrid Toyota itu efisien, tangguh, dan tidak manja. Ia relevan untuk kondisi nyata jalanan Indonesia, dari pelosok hingga kota besar," ujarnya.
Romantisme Sejarah Napak Tilas Kijang 1995
![Dari Jejak Kijang 1995 ke Veloz 2025: Evolusi Mobil Sejuta Umat Jadi Hibrida Rakyat]()
Perjalanan ini membangkitkan memori kolektif tentang sejarah panjang Toyota di Indonesia. Flashback ke 30 tahun silam, tepatnya tahun 1995, Toyota pernah menggelar Kijang Lintas Nusa.
Kala itu, 50 unit Kijang Super merah-putih menempuh 6.000 km dari Aceh ke Larantuka selama 36 hari.
Kemudian pada 2014, Avanzanation Journey melibatkan 10.000 pengguna menempuh 35.000 km. Kini, di tahun 2025, tongkat estafet itu dipegang oleh Veloz Hybrid.
Jika dulu Kijang membuktikan ketangguhan mesin konvensional, kini Veloz membuktikan bahwa baterai dan motor listrik pun sanggup diajak "menderita" di jalur lintas provinsi.
Dampak Ekonomi dan Ekosistem Di luar urusan teknis, perjalanan ini juga menyoroti kesiapan ekosistem purna jual.
.jpg)
Rombongan akan singgah di berbagai jaringan dealer Toyota yang kini berjumlah 363 outlet di seluruh Indonesia, serta berinteraksi dengan komunitas loyal seperti Velozity yang sudah eksis sejak 2012.
Marketing Director PT TAM, Hiroyuki Oide, menambahkan perspektif makro ekonomi.
"Sebagai produk lokal, kehadiran Hybrid MPV ini akan turut memutar roda perekonomian lewat manufaktur dan rantai pasok (supply chain). Kami berharap Veloz Hybrid tumbuh sebagai lokomotif adopsi kendaraan elektrifikasi di Indonesia," jelasnya.
Perjalanan 50 hari ini akan menjadi hakim yang adil. Apakah Veloz Hybrid seharga Rp 299 juta ini mampu bertahan hidup di kerasnya aspal Nusantara, atau hanya sekadar gimmick marketing belaka? Waktu dan kilometer yang akanmenjawabnya.
(dan)
Lihat Juga :