VinFast VF 7: Strategi Pesohor dan Pertaruhan Melawan Keraguan Pasar EV
Senin, 08 Desember 2025 - 08:26 WIB
loading...
Di balik pesta mewah bersama 7 ikon pop kultur, VinFast VF 7 tawarkan spek buas 349 HP dan garansi jual kembali 90%. Foto: VinFast Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Langit kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) belum sepenuhnya gelap ketika riuh rendah musik dan pendar lampu menyelimuti The Langham Jakarta, Jumat (5/12) kemarin.
Di lantai 6, tepatnya di Hampton Garden, perayaan bertajuk The Party in Mo7ion: Early New Year 7urn Up digelar bukan sekadar untuk menyambut tahun baru lebih awal.
Di balik denting gelas dan tawa para pesohor, tersimpan ambisi besar VinFast Indonesia untuk mendobrak dinding tebal skeptisisme pasar otomotif tanah air terhadap mobil listrik, khususnya pendatang baru dari Vietnam.
VinFast tidak datang dengan tangan kosong, pun tidak dengan strategi konvensional. Sadar bahwa spesifikasi teknis sering kali terdengar dingin dan berjarak bagi konsumen awam, pabrikan ini memilih jalan memutar: meminjam "suara" dari tujuh figur publik yang dianggap mewakili DNA produk terbaru mereka, VinFast VF 7.
Tujuh persona yang digandeng bukan nama sembarangan, melainkan representasi dari ceruk pasar yang spesifik.
Ada David Bayu dan Darbotz yang mewakili estetika dan seni; Wendy Walters dan Anya Geraldine sebagai simbol gaya hidup kaum urban; Stefano Lilipaly mewakili performa atletis; Angga Dwimas Sasongko dari sisi teknis visual; serta Giorgio Antonio yang mewakili rasionalitas pengusaha.
“Kami ingin mengingatkan bahwa mereka pantas memberi reward pada diri sendiri dengan memiliki VinFast VF 7—mobil listrik yang spirit-nya sepenuhnya passion driven,” ujar Kariyanto. Ini adalah narasi emosional yang dibangun untuk membungkus produk teknis.
Di Balik Gimmick: Spesifikasi yang Tidak Main-main
Terlepas dari pesona para influencer, bintang utamanya tetaplah VF 7. Secara objektif, spesifikasi yang ditawarkan mobil ini cukup mengintimidasi para rival di kelasnya.
VinFast VF 7 menyimpan tenaga buas sebesar 349 Tenaga Kuda (HP) dengan torsi mencapai 500 Nm.
Di atas kertas, angka ini menerjemahkan akselerasi 0 hingga 100 kilometer per jam hanya dalam waktu 5,8 detik.
Sebuah angka yang, meminjam istilah Stefano Lilipaly, merepresentasikan quick acceleration dan agility yang dibutuhkan seorang atlet.
Kapasitas bagasinya pun tergolong masif, mencapai 1.765 liter—menjawab kebutuhan fungsionalitas yang disorot oleh sutradara Angga Dwimas Sasongko.
![VinFast VF 7: Strategi Pesohor dan Pertaruhan Melawan Keraguan Pasar EV]()
Tak hanya soal kecepatan, fitur keselamatan pun dijejalkan tanpa pelit. Wendy Walters menyoroti keberadaan 18 fitur ADAS (Advanced Driver Assistance Systems) dan suspensi multi-link yang menjamin kenyamanan.
Sementara itu, fitur pengisian daya cepat (fast charging) diklaim mampu mengisi baterai dari 10 persen ke 70 persen hanya dalam tempo 28 menit.
Namun, bagian paling menarik dari strategi VinFast bukanlah pada mobilnya, melainkan pada skema penjualannya. Giorgio Antonio, sang pengusaha muda, menyoroti poin yang selama ini menjadi "hantu" bagi calon pembeli mobil listrik: harga jual kembali dan kesehatan baterai.
![VinFast VF 7: Strategi Pesohor dan Pertaruhan Melawan Keraguan Pasar EV]()
VinFast merespons ketakutan pasar ini dengan jaring pengaman berlapis yang terdengar terlalu indah untuk diabaikan, namun juga menimbulkan tanda tanya soal keberlanjutan margin perusahaan.
Mereka menawarkan Battery Subscription dengan garansi seumur hidup jika kesehatan baterai (battery health) turun di bawah 70 persen.
Belum cukup sampai di situ, ada Resale Value Guarantee yang menjamin nilai jual kembali hingga 90 persen.
Ditambah lagi, garansi kendaraan selama 10 tahun atau 200.000 kilometer, serta insentif gratis pengisian daya (free charging) hingga 1 Maret 2028.
Langkah ini bisa dibaca sebagai bentuk upaya merebut pasar lewat kepercayaan diri yang luar biasa (over-confidence) terhadap durabilitas produk. Menjamin nilai jual kembali hingga 90 persen adalah pertaruhan finansial yang berat di tengah fluktuasi harga komoditas baterai dunia dan depresiasi alami kendaraan.
VinFast seolah sedang "membeli" kepercayaan konsumen dengan menggelontorkan subsidi besar-besaran di awal.
Bagi konsumen, ini adalah surga. Namun bagi pengamat industri, ini adalah strategi "bakar uang" yang harus dibuktikan napas panjangnya dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.
Malam itu di SCBD, VinFast sukses menggelar pesta yang memukau mata. Namun, ujian sesungguhnya bukan di lantai dansa The Langham, melainkan di jalanan macet Jakarta dan di neraca keuangan perusahaan saat garansi-garansi tersebut mulai ditagih oleh konsumendimasadepan.
Di lantai 6, tepatnya di Hampton Garden, perayaan bertajuk The Party in Mo7ion: Early New Year 7urn Up digelar bukan sekadar untuk menyambut tahun baru lebih awal.
Di balik denting gelas dan tawa para pesohor, tersimpan ambisi besar VinFast Indonesia untuk mendobrak dinding tebal skeptisisme pasar otomotif tanah air terhadap mobil listrik, khususnya pendatang baru dari Vietnam.
VinFast tidak datang dengan tangan kosong, pun tidak dengan strategi konvensional. Sadar bahwa spesifikasi teknis sering kali terdengar dingin dan berjarak bagi konsumen awam, pabrikan ini memilih jalan memutar: meminjam "suara" dari tujuh figur publik yang dianggap mewakili DNA produk terbaru mereka, VinFast VF 7.
Meminjam Wajah Pop Kultur
Chief Executive Officer VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menyebut langkah ini sebagai apresiasi terhadap mereka yang all out mengejar renjana (passion). Namun, jika dibaca dengan kacamata industri, ini adalah taktik penetrasi segmen yang agresif.Tujuh persona yang digandeng bukan nama sembarangan, melainkan representasi dari ceruk pasar yang spesifik.
Ada David Bayu dan Darbotz yang mewakili estetika dan seni; Wendy Walters dan Anya Geraldine sebagai simbol gaya hidup kaum urban; Stefano Lilipaly mewakili performa atletis; Angga Dwimas Sasongko dari sisi teknis visual; serta Giorgio Antonio yang mewakili rasionalitas pengusaha.
“Kami ingin mengingatkan bahwa mereka pantas memberi reward pada diri sendiri dengan memiliki VinFast VF 7—mobil listrik yang spirit-nya sepenuhnya passion driven,” ujar Kariyanto. Ini adalah narasi emosional yang dibangun untuk membungkus produk teknis.
Di Balik Gimmick: Spesifikasi yang Tidak Main-main
![VinFast VF 7: Strategi Pesohor dan Pertaruhan Melawan Keraguan Pasar EV]()
Terlepas dari pesona para influencer, bintang utamanya tetaplah VF 7. Secara objektif, spesifikasi yang ditawarkan mobil ini cukup mengintimidasi para rival di kelasnya.
VinFast VF 7 menyimpan tenaga buas sebesar 349 Tenaga Kuda (HP) dengan torsi mencapai 500 Nm.
Di atas kertas, angka ini menerjemahkan akselerasi 0 hingga 100 kilometer per jam hanya dalam waktu 5,8 detik.
Sebuah angka yang, meminjam istilah Stefano Lilipaly, merepresentasikan quick acceleration dan agility yang dibutuhkan seorang atlet.
Kapasitas bagasinya pun tergolong masif, mencapai 1.765 liter—menjawab kebutuhan fungsionalitas yang disorot oleh sutradara Angga Dwimas Sasongko.

Tak hanya soal kecepatan, fitur keselamatan pun dijejalkan tanpa pelit. Wendy Walters menyoroti keberadaan 18 fitur ADAS (Advanced Driver Assistance Systems) dan suspensi multi-link yang menjamin kenyamanan.
Sementara itu, fitur pengisian daya cepat (fast charging) diklaim mampu mengisi baterai dari 10 persen ke 70 persen hanya dalam tempo 28 menit.
Namun, bagian paling menarik dari strategi VinFast bukanlah pada mobilnya, melainkan pada skema penjualannya. Giorgio Antonio, sang pengusaha muda, menyoroti poin yang selama ini menjadi "hantu" bagi calon pembeli mobil listrik: harga jual kembali dan kesehatan baterai.

VinFast merespons ketakutan pasar ini dengan jaring pengaman berlapis yang terdengar terlalu indah untuk diabaikan, namun juga menimbulkan tanda tanya soal keberlanjutan margin perusahaan.
Mereka menawarkan Battery Subscription dengan garansi seumur hidup jika kesehatan baterai (battery health) turun di bawah 70 persen.
Belum cukup sampai di situ, ada Resale Value Guarantee yang menjamin nilai jual kembali hingga 90 persen.
Ditambah lagi, garansi kendaraan selama 10 tahun atau 200.000 kilometer, serta insentif gratis pengisian daya (free charging) hingga 1 Maret 2028.
Langkah ini bisa dibaca sebagai bentuk upaya merebut pasar lewat kepercayaan diri yang luar biasa (over-confidence) terhadap durabilitas produk. Menjamin nilai jual kembali hingga 90 persen adalah pertaruhan finansial yang berat di tengah fluktuasi harga komoditas baterai dunia dan depresiasi alami kendaraan.
VinFast seolah sedang "membeli" kepercayaan konsumen dengan menggelontorkan subsidi besar-besaran di awal.
Bagi konsumen, ini adalah surga. Namun bagi pengamat industri, ini adalah strategi "bakar uang" yang harus dibuktikan napas panjangnya dalam 5 hingga 10 tahun ke depan.
Malam itu di SCBD, VinFast sukses menggelar pesta yang memukau mata. Namun, ujian sesungguhnya bukan di lantai dansa The Langham, melainkan di jalanan macet Jakarta dan di neraca keuangan perusahaan saat garansi-garansi tersebut mulai ditagih oleh konsumendimasadepan.
(dan)
Lihat Juga :