Banyak Pembiayaan Alergi Mobil Listrik, BYD Bikin Leasing Sendiri di 2026
Rabu, 17 Desember 2025 - 15:30 WIB
loading...
asar otomotif Indonesia memiliki karakteristik unik di mana pembelian kendaraan sangat bergantung pada instrumen utang. Foto: BYD Indonesia
A
A
A
BOGOR - Frustrasi dengan perusahaan pembiayaan yang masih "alergi" risiko mobil listrik, BYD akhirnya turun tangan mendirikan perusahaan leasing sendiri demi menjamin kredit konsumen dan menjaga harga jual kembali unitnya.
Banyak perusahaan pembiayaan konvensional terjun ke mobil listrik. Alasannya bisa dimaklumi. Ketidakpastian nilai jual kembali (resale value) mobil listrik yang masih dianggap fluktuatif membuat banyak perusahaan multifinance menahan diri, atau memberikan syarat kredit yang mencekik konsumen.
Membaca situasi timpang ini, raksasa otomotif asal China, BYD, memilih untuk tidak tinggal diam menunggu kebaikan hati perbankan.
BYD memutuskan untuk membangun ekosistem finansialnya sendiri. Tahun depan, mereka memastikan akan menghadirkan jasa pembiayaan internal (captive finance) di Indonesia, sebuah langkah berani untuk mengunci pasar dari hulu ke hilir.
Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T. Panjaitan, mengungkap lebih dari 60 persen konsumen di Indonesia membeli kendaraan menggunakan skema kredit atau dukungan pembiayaan.
Artinya, jika keran pembiayaan dari pihak ketiga tersendat karena faktor risiko, maka lebih dari setengah potensi penjualan BYD bisa menguap begitu saja.
"Kami sudah di tahap finalisasi akhir pembentukan satu perusahaan finansial pembiayaan kendaraan. Hal ini bertujuan memberi kenyamanan kepada calon pelanggan BYD dari sisi kebutuhan support finansial," ujar Luther tegas. Saat ini, proses pendirian perusahaan tersebut tinggal menunggu persetujuan regulator untuk mulai beroperasi penuh.
Misi Penyelamatan "Resale Value" Lebih dari sekadar mempermudah orang membeli mobil, langkah BYD mendirikan jasa pembiayaan sendiri adalah strategi pertahanan nilai aset. Salah satu musuh terbesar adopsi kendaraan listrik adalah ketakutan konsumen akan harga jual kembali yang jatuh bebas (freefall).
Dengan memiliki perusahaan pembiayaan sendiri, BYD dapat mengontrol ekosistem harga bekas. Mereka bisa menciptakan skema guaranteed resale value (jaminan nilai jual kembali) yang sulit dilakukan oleh leasing umum yang hanya berpikir profit jangka pendek.
"Yang penting juga adalah untuk menjaga resale value. Sebab finansial yang kuat dan kokoh memberikan confidence level kepada pembeli kendaraan dalam jangka panjang," tambah Luther. Strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan pabrikan premium Eropa untuk menjaga prestise dan nilai aset konsumen mereka.
Sebagai pemilik produk sekaligus pemberi kredit, BYD memiliki keleluasaan untuk memberikan promo bunga rendah, tenor panjang, atau paket bundling yang tidak masuk akal bagi hitungan komersial bank biasa, namun menguntungkan bagi penetrasi pasar BYD.
Luther menekankan adanya hak eksklusivitas dalam skema ini. "Mungkin lembaga pembiayaan lain berpikir dalam konteks komersial saja. Namun jika dimiliki BYD, kami bisa memberikan support-support yang mungkin tidak diberikan lembaga lain. Ini akan lebih nyaman buat customer," tuturnya.
Langkah BYD ini menjadi sinyal keras bagi industri otomotif nasional: bahwa untuk memenangkan pasar mobil listrik di Indonesia, produsen tidak cukup hanya menjual teknologi baterai canggih, tetapi juga harus berani menjamin isi dompet konsumen hingga bertahun-tahun ke depan.
Banyak perusahaan pembiayaan konvensional terjun ke mobil listrik. Alasannya bisa dimaklumi. Ketidakpastian nilai jual kembali (resale value) mobil listrik yang masih dianggap fluktuatif membuat banyak perusahaan multifinance menahan diri, atau memberikan syarat kredit yang mencekik konsumen.
Membaca situasi timpang ini, raksasa otomotif asal China, BYD, memilih untuk tidak tinggal diam menunggu kebaikan hati perbankan.
BYD memutuskan untuk membangun ekosistem finansialnya sendiri. Tahun depan, mereka memastikan akan menghadirkan jasa pembiayaan internal (captive finance) di Indonesia, sebuah langkah berani untuk mengunci pasar dari hulu ke hilir.
Di Indonesia, Mayoritas Konsumen Beli Mobil Ngutang
Keputusan ini bukan diambil tanpa kalkulasi matang. Pasar otomotif Indonesia memiliki karakteristik unik di mana pembelian kendaraan sangat bergantung pada instrumen utang.Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther T. Panjaitan, mengungkap lebih dari 60 persen konsumen di Indonesia membeli kendaraan menggunakan skema kredit atau dukungan pembiayaan.
Artinya, jika keran pembiayaan dari pihak ketiga tersendat karena faktor risiko, maka lebih dari setengah potensi penjualan BYD bisa menguap begitu saja.
"Kami sudah di tahap finalisasi akhir pembentukan satu perusahaan finansial pembiayaan kendaraan. Hal ini bertujuan memberi kenyamanan kepada calon pelanggan BYD dari sisi kebutuhan support finansial," ujar Luther tegas. Saat ini, proses pendirian perusahaan tersebut tinggal menunggu persetujuan regulator untuk mulai beroperasi penuh.
Misi Penyelamatan "Resale Value" Lebih dari sekadar mempermudah orang membeli mobil, langkah BYD mendirikan jasa pembiayaan sendiri adalah strategi pertahanan nilai aset. Salah satu musuh terbesar adopsi kendaraan listrik adalah ketakutan konsumen akan harga jual kembali yang jatuh bebas (freefall).
Dengan memiliki perusahaan pembiayaan sendiri, BYD dapat mengontrol ekosistem harga bekas. Mereka bisa menciptakan skema guaranteed resale value (jaminan nilai jual kembali) yang sulit dilakukan oleh leasing umum yang hanya berpikir profit jangka pendek.
"Yang penting juga adalah untuk menjaga resale value. Sebab finansial yang kuat dan kokoh memberikan confidence level kepada pembeli kendaraan dalam jangka panjang," tambah Luther. Strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan pabrikan premium Eropa untuk menjaga prestise dan nilai aset konsumen mereka.
Privilese Eksklusif bagi Konsumen
Kehadiran captive finance ini juga menjanjikan fleksibilitas yang tidak bisa ditawarkan oleh lembaga keuangan umum.Sebagai pemilik produk sekaligus pemberi kredit, BYD memiliki keleluasaan untuk memberikan promo bunga rendah, tenor panjang, atau paket bundling yang tidak masuk akal bagi hitungan komersial bank biasa, namun menguntungkan bagi penetrasi pasar BYD.
Luther menekankan adanya hak eksklusivitas dalam skema ini. "Mungkin lembaga pembiayaan lain berpikir dalam konteks komersial saja. Namun jika dimiliki BYD, kami bisa memberikan support-support yang mungkin tidak diberikan lembaga lain. Ini akan lebih nyaman buat customer," tuturnya.
Langkah BYD ini menjadi sinyal keras bagi industri otomotif nasional: bahwa untuk memenangkan pasar mobil listrik di Indonesia, produsen tidak cukup hanya menjual teknologi baterai canggih, tetapi juga harus berani menjamin isi dompet konsumen hingga bertahun-tahun ke depan.
(dan)
Lihat Juga :