Nestapa Industri Mobil China 2025: Produksi Tembus 31 Juta Unit, tapi Cuan Cuma Receh 4,4 Persen Per Mobil
Rabu, 31 Desember 2025 - 08:37 WIB
loading...
Industri otomotif China 2025 mencatat rekor pahit: meski produksi tembus 31 juta unit, keuntungan per mobil hanya tersisa Rp 30 juta akibat perang harga. Foto: ist
A
A
A
BEIJING - Di balik gemerlap lampu sorot pameran otomotif dan hingar-bingar peluncuran model futuristik, industri otomotif China sedang menyimpan luka menganga.
Ketika volume produksi dan pendapatan mencetak rekor, keuntungan yang masuk ke kantong pabrikan justru menyusut ke titik nadir, tergerus oleh perang harga dan transisi energi.
Data terbaru yang dirilis oleh China Passenger Car Association (CPCA) melukiskan gambaran suram tersebut.
Dari Januari hingga November 2025, margin keuntungan industri otomotif China tercatat hanya 4,4 persen. Angka ini adalah yang terendah kedua dalam sejarah industri mobil negara tersebut, hanya terpaut tipis 0,1 persen dari rekor terburuk 4,3 persen yang terjadi pada tahun 2024.
Rata-rata pendapatan per kendaraan di seluruh rantai industri mencapai 322.000 Yuan (sekitar Rp708,4 juta).
Namun, setelah dikurangi segala biaya produksi, pemasaran, dan operasional yang membengkak, laba kotor yang tersisa per satu unit kendaraan hanyalah 14.000 Yuan (sekitar Rp30,8 juta).
Bagi industri yang padat modal dan teknologi, margin setipis ini adalah lampu kuning yang menyala terang.
Pertumbuhan Semu: Pendapatan Naik, Laba Terkikis
Sekretaris Jenderal CPCA, Cui Dongshu, menyebut fenomena ini sebagai "pertumbuhan skala namun tekanan pada laba".
Secara total, pendapatan industri memang menembus angka psikologis 10 triliun Yuan (Rp22.720 triliun), naik 8,1 persen secara tahunan (year-on-year).
Namun, biaya produksi berlari lebih kencang, melonjak 9 persen menjadi 8,84 triliun Yuan (Rp20.160 triliun).
Alhasil, total laba industri hanya tumbuh moderat 7,5 persen menjadi 440,3 miliar Yuan (Rp1.001 triliun).
Tekanan ganda menjadi biang keladinya. Di satu sisi, fluktuasi harga bahan baku baterai dan kenaikan upah buruh terus menekan biaya produksi.
Di sisi lain, terjadi kanibalisme pasar yang ganas. Perang harga tidak lagi menjadi monopoli segmen mobil listrik (New Energy Vehicles/NEV), tetapi telah merambat ke pasar mobil bensin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE).
Demi mempertahankan pangsa pasar, pabrikan rela memangkas harga jual hingga berdarah-darah, menggerus margin keuntungan demi kelangsungan hidup.
Laporan keuangan Great Wall Motor (GWM) menjadi cermin nyata situasi ini. Dalam tiga kuartal pertama 2025, meski pendapatan mereka naik hampir 8 persen, laba bersih justru anjlok hampir 17 persen.
Investasi besar-besaran di saluran distribusi dan diskon agresif menjadi beban berat yang harus dipikul.
Media lokal Autohome bahkan melaporkan statistik yang lebih mengkhawatirkan: lebih dari separuh dealer mobil di China kini merugi, dan lebih dari 70 persen model mobil dijual dengan harga di bawah biaya produksi (at a loss).
Ini adalah penurunan tertajam dalam 10 bulan terakhir dan menandai pelemahan selama dua bulan berturut-turut. Cui Dongshu menggambarkan penurunan ini sebagai sesuatu yang "tidak biasa", mengingat akhir tahun biasanya menjadi periode panen raya bagi dealer.
Penyebab utamanya adalah berakhirnya stimulus pemerintah. Subsidi untuk tukar tambah kendaraan yang telah mendorong penjualan 11,2 juta unit sepanjang tahun mulai kehilangan tuahnya menjelang pemangkasan insentif di akhir tahun. Konsumen menahan diri, menunggu kepastian, atau justru sudah kehabisan daya beli.
Meski demikian, di tengah kelesuan pasar domestik, ekspor menjadi katup penyelamat. Ekspor mobil China melonjak 52,4 persen pada November, jauh melampaui pertumbuhan 27,7 persen di bulan Oktober.
CMBI memproyeksikan bahwa ekspansi ekspor di tahun 2026 akan didorong oleh NEV, yang diprediksi naik 40 persen mencapai 2,83 juta unit.
Total penjualan NEV mencapai 1,32 juta unit, sementara mobil bensin (ICE) tersisa sekitar 1,3 juta hingga 1,4 juta unit atau sekitar 41,1 persen pangsa pasar. Meski volume mobil bensin masih besar secara absolut, tren penurunannya sangat drastis dan tak terbendung. Mobil bensin yang dulu menjadi tulang punggung industri, kini terpojok menjadi pemain sekunder di kandangnya sendiri.
Di tengah turbulensi ini, peta persaingan antar-merek pun berubah drastis. Raksasa lokal BYD, meski mencatatkan rekor pengiriman luar negeri, justru mengalami penurunan penjualan global selama tiga bulan berturut-turut akibat tekanan dari rival seperti Geely dan Leapmotor.
Sebaliknya, Tesla berhasil bangkit dengan penjualan 73.145 unit di China pada November. Xiaomi, pemain baru yang fenomenal, sukses mengirimkan lebih dari 40.000 unit kendaraan selama tiga bulan beruntun, melampaui target tahunan 350.000 unit mereka dengan mudah.
Industri otomotif China kini berada di persimpangan jalan yang curam. Dengan Beijing menghapus sektor kendaraan listrik dari peta jalan industri strategis lima tahunan terbarunya karena masalah kelebihan kapasitas (overcapacity), tahun 2026 diprediksi akan menjadi fase seleksi alam yang lebih kejam. Hanya mereka yang memiliki napas finansial panjang dan inovasi radikal yang akan bertahan hidup.
Ketika volume produksi dan pendapatan mencetak rekor, keuntungan yang masuk ke kantong pabrikan justru menyusut ke titik nadir, tergerus oleh perang harga dan transisi energi.
Data terbaru yang dirilis oleh China Passenger Car Association (CPCA) melukiskan gambaran suram tersebut.
Dari Januari hingga November 2025, margin keuntungan industri otomotif China tercatat hanya 4,4 persen. Angka ini adalah yang terendah kedua dalam sejarah industri mobil negara tersebut, hanya terpaut tipis 0,1 persen dari rekor terburuk 4,3 persen yang terjadi pada tahun 2024.
Rata-rata pendapatan per kendaraan di seluruh rantai industri mencapai 322.000 Yuan (sekitar Rp708,4 juta).
Namun, setelah dikurangi segala biaya produksi, pemasaran, dan operasional yang membengkak, laba kotor yang tersisa per satu unit kendaraan hanyalah 14.000 Yuan (sekitar Rp30,8 juta).
Bagi industri yang padat modal dan teknologi, margin setipis ini adalah lampu kuning yang menyala terang.
Pertumbuhan Semu: Pendapatan Naik, Laba Terkikis
![Nestapa Industri Mobil China 2025: Produksi Tembus 31 Juta Unit, tapi Cuan Cuma Receh 4,4 Persen Per Mobil]()
Sekretaris Jenderal CPCA, Cui Dongshu, menyebut fenomena ini sebagai "pertumbuhan skala namun tekanan pada laba".
Secara total, pendapatan industri memang menembus angka psikologis 10 triliun Yuan (Rp22.720 triliun), naik 8,1 persen secara tahunan (year-on-year).
Namun, biaya produksi berlari lebih kencang, melonjak 9 persen menjadi 8,84 triliun Yuan (Rp20.160 triliun).
Alhasil, total laba industri hanya tumbuh moderat 7,5 persen menjadi 440,3 miliar Yuan (Rp1.001 triliun).
Tekanan ganda menjadi biang keladinya. Di satu sisi, fluktuasi harga bahan baku baterai dan kenaikan upah buruh terus menekan biaya produksi.
Di sisi lain, terjadi kanibalisme pasar yang ganas. Perang harga tidak lagi menjadi monopoli segmen mobil listrik (New Energy Vehicles/NEV), tetapi telah merambat ke pasar mobil bensin konvensional (Internal Combustion Engine/ICE).
Demi mempertahankan pangsa pasar, pabrikan rela memangkas harga jual hingga berdarah-darah, menggerus margin keuntungan demi kelangsungan hidup.
Laporan keuangan Great Wall Motor (GWM) menjadi cermin nyata situasi ini. Dalam tiga kuartal pertama 2025, meski pendapatan mereka naik hampir 8 persen, laba bersih justru anjlok hampir 17 persen.
Investasi besar-besaran di saluran distribusi dan diskon agresif menjadi beban berat yang harus dipikul.
Media lokal Autohome bahkan melaporkan statistik yang lebih mengkhawatirkan: lebih dari separuh dealer mobil di China kini merugi, dan lebih dari 70 persen model mobil dijual dengan harga di bawah biaya produksi (at a loss).
Penjualan Melambat, Sinyal Bahaya Akhir Tahun
Tak hanya masalah margin, volume penjualan pun mulai batuk-batuk. Data November 2025 menunjukkan penjualan mobil di China turun 8,5 persen secara tahunan menjadi 2,24 juta unit.Ini adalah penurunan tertajam dalam 10 bulan terakhir dan menandai pelemahan selama dua bulan berturut-turut. Cui Dongshu menggambarkan penurunan ini sebagai sesuatu yang "tidak biasa", mengingat akhir tahun biasanya menjadi periode panen raya bagi dealer.
Penyebab utamanya adalah berakhirnya stimulus pemerintah. Subsidi untuk tukar tambah kendaraan yang telah mendorong penjualan 11,2 juta unit sepanjang tahun mulai kehilangan tuahnya menjelang pemangkasan insentif di akhir tahun. Konsumen menahan diri, menunggu kepastian, atau justru sudah kehabisan daya beli.
Meski demikian, di tengah kelesuan pasar domestik, ekspor menjadi katup penyelamat. Ekspor mobil China melonjak 52,4 persen pada November, jauh melampaui pertumbuhan 27,7 persen di bulan Oktober.
CMBI memproyeksikan bahwa ekspansi ekspor di tahun 2026 akan didorong oleh NEV, yang diprediksi naik 40 persen mencapai 2,83 juta unit.
Dominasi NEV dan Nasib Mobil Bensin
Transformasi energi di jalanan China berjalan dengan kecepatan yang sulit dipercaya. Pada November 2025, kendaraan energi baru (NEV)—yang mencakup mobil listrik murni (BEV) dan plug-in hybrid (PHEV)—mencatat rekor penguasaan pasar sebesar 58,9 persen dari total penjualan. Artinya, hampir 6 dari 10 mobil baru yang terjual di China kini sudah bertenaga listrik.Total penjualan NEV mencapai 1,32 juta unit, sementara mobil bensin (ICE) tersisa sekitar 1,3 juta hingga 1,4 juta unit atau sekitar 41,1 persen pangsa pasar. Meski volume mobil bensin masih besar secara absolut, tren penurunannya sangat drastis dan tak terbendung. Mobil bensin yang dulu menjadi tulang punggung industri, kini terpojok menjadi pemain sekunder di kandangnya sendiri.
Di tengah turbulensi ini, peta persaingan antar-merek pun berubah drastis. Raksasa lokal BYD, meski mencatatkan rekor pengiriman luar negeri, justru mengalami penurunan penjualan global selama tiga bulan berturut-turut akibat tekanan dari rival seperti Geely dan Leapmotor.
Sebaliknya, Tesla berhasil bangkit dengan penjualan 73.145 unit di China pada November. Xiaomi, pemain baru yang fenomenal, sukses mengirimkan lebih dari 40.000 unit kendaraan selama tiga bulan beruntun, melampaui target tahunan 350.000 unit mereka dengan mudah.
Industri otomotif China kini berada di persimpangan jalan yang curam. Dengan Beijing menghapus sektor kendaraan listrik dari peta jalan industri strategis lima tahunan terbarunya karena masalah kelebihan kapasitas (overcapacity), tahun 2026 diprediksi akan menjadi fase seleksi alam yang lebih kejam. Hanya mereka yang memiliki napas finansial panjang dan inovasi radikal yang akan bertahan hidup.
(dan)
Lihat Juga :