Seleksi Alam Industri Mobil Listrik China: Subsidi Dicabut, 50 Merek Terancam Bangkrut di 2026
Rabu, 31 Desember 2025 - 11:35 WIB
loading...
Badai kebangkrutan mengintai 50 merek mobil listrik China di 2026 akibat pencabutan subsidi dan perang harga, menyisakan hanya 10% pemain yang untung seperti BYD dan Leapmotor yang baru saja dapat suntikan dana negara Rp 8,5 triliun. Foto: SindoNews/Gemin
A
A
A
SHENZEN - Di balik angka ekspor yang mentereng dan dominasi global agresif, industri kendaraan listrik (EV) China sedang menyimpan bom waktu yang siap meledak.
Tahun 2026 diprediksi akan jadi titik balik, di mana pesta pora subsidi negara mulai berakhir dan realitas pasar kejam mengambil alih kemudi.
Puluhan merek mobil listrik yang selama ini hidup dari "infus" insentif pemerintah kini menghadapi risiko kolaps massal, menandai fase seleksi alam paling dramatis dalam sejarah otomotif modern China.
Di satu sisi, ekspor EV China pada November melonjak fantastis sebesar 87 persen secara tahunan (year-on-year). Namun, di sisi lain, fondasi domestik mulai retak.
Pengiriman kendaraan baru di dalam negeri diperkirakan tergelincir hingga 5 persen tahun depan, kontraksi terbesar sejak pandemi 2020. Penyebabnya klasik namun mematikan: pencabutan dukungan pemerintah dan sejarah panjang kelebihan kapasitas produksi (overcapacity).
Situasi ini diperparah oleh kebijakan fiskal Beijing yang semakin ketat. Pada Januari mendatang, pemerintah akan memutuskan nasib subsidi tukar tambah senilai 20.000 Yuan (sekitar Rp46,4 juta).
Lebih parah lagi, pembebasan pajak pembelian sebesar 10 persen yang selama ini menjadi magnet bagi konsumen akan berakhir pada penghujung tahun ini. Mulai Januari 2026, tarif pajak diskon sebesar 5 persen akan berlaku hingga tarif penuh kembali diterapkan pada 2028.
Perang harga telah mengikis margin keuntungan hingga ke tulang. Angel investor Yin Ran memberikan pandangan logis: "Jadi ini akan menjadi permainan bertahan hidup, dengan pembuat mobil yang untung menjadi pemenang, sementara pemain yang rugi akan segera kehabisan dana."
Strategi mereka jelas: ketika pasar domestik menyusut dan insentif hilang, mereka akan mengintensifkan ekspansi ke luar negeri (overseas), mencari kolam keuntungan baru di pasar global yang belum jenuh.
Ini menjadikan Leapmotor sebagai produsen mobil swasta pertama di China yang menerima investasi langsung dari grup milik negara, sebuah sinyal kuat bahwa Beijing mulai memilih "kuda pacu" mana yang layak diselamatkan.
Dengan dukungan ini, Leapmotor menargetkan pengiriman 1 juta kendaraan pada tahun 2026. Jika tercapai, angka ini akan menempatkan mereka sebagai produsen EV terbesar ketiga di China, mengekor BYD dan Geely. Sepanjang 11 bulan pertama tahun 2025, Leapmotor telah mengirimkan 536.132 unit kendaraan.
"Leapmotor bertujuan untuk mencapai pengiriman tahunan 4 juta unit dalam waktu 10 tahun," ungkap pendiri dan CEO Leapmotor, Zhu Jiangming.
Ambisi ini mencerminkan keyakinan bahwa di masa depan, pasar hanya akan menyisakan ruang bagi pemain besar yang efisien, sementara puluhan merek kecil lainnya perlahan akan menghilang dari jalan raya, menjadi catatan kaki dalam sejarah revolusi kendaraan listrik China.
Tahun 2026 diprediksi akan jadi titik balik, di mana pesta pora subsidi negara mulai berakhir dan realitas pasar kejam mengambil alih kemudi.
Puluhan merek mobil listrik yang selama ini hidup dari "infus" insentif pemerintah kini menghadapi risiko kolaps massal, menandai fase seleksi alam paling dramatis dalam sejarah otomotif modern China.
Di satu sisi, ekspor EV China pada November melonjak fantastis sebesar 87 persen secara tahunan (year-on-year). Namun, di sisi lain, fondasi domestik mulai retak.
Pengiriman kendaraan baru di dalam negeri diperkirakan tergelincir hingga 5 persen tahun depan, kontraksi terbesar sejak pandemi 2020. Penyebabnya klasik namun mematikan: pencabutan dukungan pemerintah dan sejarah panjang kelebihan kapasitas produksi (overcapacity).
Akhir dari Era Bakar Uang
South China Morning Post (SCMP) melaporkan skenario suram di mana sekitar 50 produsen EV China yang merugi mungkin terpaksa melakukan perampingan drastis atau gulung tikar sepenuhnya pada 2026.Situasi ini diperparah oleh kebijakan fiskal Beijing yang semakin ketat. Pada Januari mendatang, pemerintah akan memutuskan nasib subsidi tukar tambah senilai 20.000 Yuan (sekitar Rp46,4 juta).
Lebih parah lagi, pembebasan pajak pembelian sebesar 10 persen yang selama ini menjadi magnet bagi konsumen akan berakhir pada penghujung tahun ini. Mulai Januari 2026, tarif pajak diskon sebesar 5 persen akan berlaku hingga tarif penuh kembali diterapkan pada 2028.
Perang harga telah mengikis margin keuntungan hingga ke tulang. Angel investor Yin Ran memberikan pandangan logis: "Jadi ini akan menjadi permainan bertahan hidup, dengan pembuat mobil yang untung menjadi pemenang, sementara pemain yang rugi akan segera kehabisan dana."
Siapa yang Bertahan? Hukum Rimba Otomotif
Dari ratusan pemain, hanya segelintir yang memiliki "napas" panjang. Riset dari AlixPartners memperkirakan bahwa hanya sekitar 10 persen dari merek EV China yang akan mencatatkan profitabilitas di tahun-tahun mendatang. Raksasa seperti BYD, Seres, dan Li Auto berdiri sebagai pengecualian langka yang mampu mencetak laba di tengah badai.Strategi mereka jelas: ketika pasar domestik menyusut dan insentif hilang, mereka akan mengintensifkan ekspansi ke luar negeri (overseas), mencari kolam keuntungan baru di pasar global yang belum jenuh.
Leapmotor dan Suntikan Dana Negara
Di tengah ketidakpastian ini, Leapmotor—pabrikan yang didukung oleh Stellantis—muncul sebagai anomali yang menarik. Perusahaan ini baru saja mendapatkan suntikan dana segar dari FAW Group, badan usaha milik negara (BUMN). FAW mengumumkan akuisisi 5 persen saham Leapmotor senilai 3,74 miliar Yuan atau setara USD534 juta (Rp8,5 triliun).Ini menjadikan Leapmotor sebagai produsen mobil swasta pertama di China yang menerima investasi langsung dari grup milik negara, sebuah sinyal kuat bahwa Beijing mulai memilih "kuda pacu" mana yang layak diselamatkan.
Dengan dukungan ini, Leapmotor menargetkan pengiriman 1 juta kendaraan pada tahun 2026. Jika tercapai, angka ini akan menempatkan mereka sebagai produsen EV terbesar ketiga di China, mengekor BYD dan Geely. Sepanjang 11 bulan pertama tahun 2025, Leapmotor telah mengirimkan 536.132 unit kendaraan.
"Leapmotor bertujuan untuk mencapai pengiriman tahunan 4 juta unit dalam waktu 10 tahun," ungkap pendiri dan CEO Leapmotor, Zhu Jiangming.
Ambisi ini mencerminkan keyakinan bahwa di masa depan, pasar hanya akan menyisakan ruang bagi pemain besar yang efisien, sementara puluhan merek kecil lainnya perlahan akan menghilang dari jalan raya, menjadi catatan kaki dalam sejarah revolusi kendaraan listrik China.
(dan)
Lihat Juga :