Penjualan Nyungsep dan Kalah Laris dari BYD, Kenapa Tesla Malah Jadi Perusahaan Mobil Termahal di Dunia?
Sabtu, 03 Januari 2026 - 13:05 WIB
loading...
Meski volume penjualan Tesla disalip BYD sebesar 600 ribu unit lebih, saham perusahaan Elon Musk tetap menguat berkat janji layanan Robotaxi dan produksi Cybercab tanpa setir di tahun 2026. Foto: Reuters
A
A
A
SAN FRANSISCO - Tesla, sang pionir yang mempopulerkan mobil listrik ke seluruh dunia, akhirnya harus merelakan mahkota "penjualan terbanyak" jatuh ke tangan rival utamanya dari China, BYD.
Namun, di tengah merosotnya angka penjualan fisik unit kendaraan, Tesla justru semakin kokoh sebagai perusahaan otomotif paling bernilai di dunia, anomali pasar yang digerakkan oleh janji masa depan bernama Robotaxi.
Data penutupan tahun 2025 melukiskan gambaran kontras tersebut. Tesla melaporkan pengiriman kendaraan sebanyak 1,64 juta unit, turun 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka ini terpaut jauh di bawah BYD yang sukses mencatatkan penjualan 2,26 juta unit. Secara volume, Tesla telah kalah telak.
Namun, di lantai bursa, cerita berjalan berbeda. Saham Tesla menutup tahun 2025 dengan kenaikan keseluruhan sekitar 11 persen.
Pada perdagangan Jumat sore waktu setempat, sahamnya berada di level USD436,85 atau setara Rp6,9 juta per lembar.
Investor tampaknya tidak lagi menilai Tesla sekadar sebagai perusahaan mobil, melainkan sebagai raksasa teknologi yang memegang kunci transportasi otonom masa depan.
Mengapa Penjualan Tesla Nyungsep di 2025?
Kejatuhan volume penjualan Tesla selama dua tahun berturut-turut dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Pemberontakan konsumen terhadap pandangan politik sayap kanan Elon Musk disinyalir menjadi salah satu penyebab lunturnya loyalitas merek.
Di sisi kebijakan, berakhirnya insentif pajak federal Amerika Serikat di bawah administrasi Trump pada akhir September 2025 memberikan pukulan telak. Insentif sebesar USD7.500 atau Rp120 juta yang sebelumnya menjadi pemanis bagi pembeli, kini hilang tak berbekas, membuat harga mobil Tesla terasa lebih mahal bagi konsumen kelas menengah.
Sebagai respons panik untuk menahan laju penurunan, Musk meluncurkan versi "telanjang" atau stripped-down dari model terlarisnya pada awal Oktober.
Model Y versi hemat kini dibanderol di bawah USD40.000 (Rp640 juta), sementara Model 3 yang lebih murah bisa dibawa pulang dengan harga di bawah USD37.000 (Rp592 juta).
Langkah ini diambil semata-mata untuk menjaga daya saing melawan gempuran mobil listrik murah buatan China di pasar Eropa dan Asia.
Narasi perusahaan telah bergeser dari sekadar memproduksi EV menjadi penyedia layanan taksi robot (Robotaxi).
Tesla telah mulai menguji coba layanan ini di Austin, Texas. Awalnya dengan pengawas keselamatan di dalam mobil, kemudian berlanjut ke pengujian tanpa awak.
Perusahaan menargetkan peluncuran layanan ini di beberapa kota tahun ini, dengan ambisi besar memproduksi "Cybercab"—taksi otonom tanpa setir dan pedal—pada 2026.
Musk bahkan sesumbar bahwa pembaruan perangkat lunak akan memungkinkan ratusan ribu kendaraan Tesla beroperasi secara otonom tanpa intervensi manusia pada akhir tahun ini.
Janji manis inilah yang "membeli" kepercayaan investor, membuat mereka rela mengabaikan penurunan penjualan unit fisik demi potensi monopoli transportasi masa depan.
Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Tesla saat ini tengah berada di bawah penyelidikan keselamatan federal. Di California, perusahaan bahkan terancam kehilangan lisensi penjualan mobilnya untuk sementara waktu setelah hakim memutuskan bahwa Tesla telah menyesatkan konsumen terkait klaim keselamatan fitur otonomnya.
Lebih jauh lagi, Musk diprediksi bisa menjadi triliuner (dalam mata uang dolar AS) pertama di dunia pada akhir tahun ini, seiring rencana penjualan saham perdana (IPO) perusahaan roket miliknya, SpaceX.
Ironisnya, saat Tesla kehilangan dominasi pasarnya di jalan raya, sang pendiri justru terbang semakin tinggi meninggalkan kompetisi, baik secara harfiah maupun finansial.
Tahun 2026 akan menjadi pembuktian: apakah pertaruhan Tesla pada Robotaxi adalah visi jenius yang akan mengubah dunia, atau sekadar gelembung valuasi yang siap meletus saat realitas gagal memenuhi ekspektasi.
Namun, di tengah merosotnya angka penjualan fisik unit kendaraan, Tesla justru semakin kokoh sebagai perusahaan otomotif paling bernilai di dunia, anomali pasar yang digerakkan oleh janji masa depan bernama Robotaxi.
Data penutupan tahun 2025 melukiskan gambaran kontras tersebut. Tesla melaporkan pengiriman kendaraan sebanyak 1,64 juta unit, turun 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka ini terpaut jauh di bawah BYD yang sukses mencatatkan penjualan 2,26 juta unit. Secara volume, Tesla telah kalah telak.
Namun, di lantai bursa, cerita berjalan berbeda. Saham Tesla menutup tahun 2025 dengan kenaikan keseluruhan sekitar 11 persen.
Pada perdagangan Jumat sore waktu setempat, sahamnya berada di level USD436,85 atau setara Rp6,9 juta per lembar.
Investor tampaknya tidak lagi menilai Tesla sekadar sebagai perusahaan mobil, melainkan sebagai raksasa teknologi yang memegang kunci transportasi otonom masa depan.
Mengapa Penjualan Tesla Nyungsep di 2025?
![Penjualan Nyungsep dan Kalah Laris dari BYD, Kenapa Tesla Malah Jadi Perusahaan Mobil Termahal di Dunia?]()
Kejatuhan volume penjualan Tesla selama dua tahun berturut-turut dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Pemberontakan konsumen terhadap pandangan politik sayap kanan Elon Musk disinyalir menjadi salah satu penyebab lunturnya loyalitas merek.
Di sisi kebijakan, berakhirnya insentif pajak federal Amerika Serikat di bawah administrasi Trump pada akhir September 2025 memberikan pukulan telak. Insentif sebesar USD7.500 atau Rp120 juta yang sebelumnya menjadi pemanis bagi pembeli, kini hilang tak berbekas, membuat harga mobil Tesla terasa lebih mahal bagi konsumen kelas menengah.
Sebagai respons panik untuk menahan laju penurunan, Musk meluncurkan versi "telanjang" atau stripped-down dari model terlarisnya pada awal Oktober.
Model Y versi hemat kini dibanderol di bawah USD40.000 (Rp640 juta), sementara Model 3 yang lebih murah bisa dibawa pulang dengan harga di bawah USD37.000 (Rp592 juta).
Langkah ini diambil semata-mata untuk menjaga daya saing melawan gempuran mobil listrik murah buatan China di pasar Eropa dan Asia.
Pertaruhan Robotaxi: Menjual Mimpi, Bukan Mobil
Jika penjualan mobil lesu, mengapa valuasi perusahaan tetap tinggi? Jawabannya terletak pada pivot radikal Musk menuju kecerdasan buatan (AI).Narasi perusahaan telah bergeser dari sekadar memproduksi EV menjadi penyedia layanan taksi robot (Robotaxi).
Tesla telah mulai menguji coba layanan ini di Austin, Texas. Awalnya dengan pengawas keselamatan di dalam mobil, kemudian berlanjut ke pengujian tanpa awak.
Perusahaan menargetkan peluncuran layanan ini di beberapa kota tahun ini, dengan ambisi besar memproduksi "Cybercab"—taksi otonom tanpa setir dan pedal—pada 2026.
Musk bahkan sesumbar bahwa pembaruan perangkat lunak akan memungkinkan ratusan ribu kendaraan Tesla beroperasi secara otonom tanpa intervensi manusia pada akhir tahun ini.
Janji manis inilah yang "membeli" kepercayaan investor, membuat mereka rela mengabaikan penurunan penjualan unit fisik demi potensi monopoli transportasi masa depan.
Risiko Regulasi dan Keselamatan
Namun, jalan menuju utopia otonom tidaklah mulus. Dan Ives, analis dari Wedbush Securities, mengingatkan besarnya tantangan regulasi yang menanti. "Kita berurusan dengan nyawa manusia," tegas Ives.Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Tesla saat ini tengah berada di bawah penyelidikan keselamatan federal. Di California, perusahaan bahkan terancam kehilangan lisensi penjualan mobilnya untuk sementara waktu setelah hakim memutuskan bahwa Tesla telah menyesatkan konsumen terkait klaim keselamatan fitur otonomnya.
Menuju Status Triliuner
Di tengah gejolak perusahaan, Elon Musk pribadi justru semakin kaya. Direksi Tesla telah memberikan paket gaji baru yang nilainya sangat fantastis, yang telah disetujui pemegang saham pada November lalu. Langkah ini diambil untuk menjaga fokus Musk agar tetap di Tesla.Lebih jauh lagi, Musk diprediksi bisa menjadi triliuner (dalam mata uang dolar AS) pertama di dunia pada akhir tahun ini, seiring rencana penjualan saham perdana (IPO) perusahaan roket miliknya, SpaceX.
Ironisnya, saat Tesla kehilangan dominasi pasarnya di jalan raya, sang pendiri justru terbang semakin tinggi meninggalkan kompetisi, baik secara harfiah maupun finansial.
Tahun 2026 akan menjadi pembuktian: apakah pertaruhan Tesla pada Robotaxi adalah visi jenius yang akan mengubah dunia, atau sekadar gelembung valuasi yang siap meletus saat realitas gagal memenuhi ekspektasi.
(dan)
Lihat Juga :