Standar Eropa Masuk Cibitung: TÜV Rheinland dan BPLJSKB Ubah Peta Uji Kendaraan RI di 2026
Rabu, 21 Januari 2026 - 20:39 WIB
loading...
A
A
A
Dalam tur fasilitas, terlihat kesiapan laboratorium yang mencakup Crash Test (uji tabrak), Braking System Test (uji pengereman), Seatbelt Anchorage Test, hingga uji emisi gas buang dan keselamatan elektrikal (Electrical Safety Test).
Di area luar ruangan (outdoor), BPLJSKB memamerkan ototnya dengan fasilitas Proving Ground yang mencakup High Speed Oval Track untuk uji kecepatan tinggi, lintasan emisi suara, hingga Low Friction Braking Track dan Test Hills untuk menguji daya cengkeram di medan ekstrem.
"Perkembangan teknologi sangat cepat, dan itu mesti dipastikan ke konsumen bahwa produk sebuah kendaraan massal harus aman. Maka dibutuhkan balai uji dengan teknologi yang dipercaya," ujar Nyoman.
Logika pasarnya jelas: agar mobil buatan Indonesia bisa menembus pasar ekspor yang lebih luas—terutama ke negara maju—produk tersebut harus lolos sertifikasi yang diakui secara internasional. Kehadiran TÜV Rheinland sebagai mitra teknis akan mengakselerasi proses pengakuan tersebut.
Stefan Heuer, Senior Vice President Mobility Asia Pacific TÜV Rheinland, memberikan analisis tajam mengenai dampak ekonomi makro dari kerja sama ini.
Di area luar ruangan (outdoor), BPLJSKB memamerkan ototnya dengan fasilitas Proving Ground yang mencakup High Speed Oval Track untuk uji kecepatan tinggi, lintasan emisi suara, hingga Low Friction Braking Track dan Test Hills untuk menguji daya cengkeram di medan ekstrem.
Sinergi untuk Daya Saing Ekspor
Nyoman Susila, Presiden Direktur TÜV Rheinland Indonesia, yang menandatangani kesepakatan tersebut bersama perwakilan Kepala BPLJSKB, Tri Bowo Leksono, menegaskan bahwa kemitraan ini adalah jawaban atas tuntutan pasar."Perkembangan teknologi sangat cepat, dan itu mesti dipastikan ke konsumen bahwa produk sebuah kendaraan massal harus aman. Maka dibutuhkan balai uji dengan teknologi yang dipercaya," ujar Nyoman.
Logika pasarnya jelas: agar mobil buatan Indonesia bisa menembus pasar ekspor yang lebih luas—terutama ke negara maju—produk tersebut harus lolos sertifikasi yang diakui secara internasional. Kehadiran TÜV Rheinland sebagai mitra teknis akan mengakselerasi proses pengakuan tersebut.
Stefan Heuer, Senior Vice President Mobility Asia Pacific TÜV Rheinland, memberikan analisis tajam mengenai dampak ekonomi makro dari kerja sama ini.
Lihat Juga :