Teka-teki Pabrik Chery: Ambil Alih Handal atau Bikin Baru? Ini Jawaban Manajemen
Jum'at, 30 Januari 2026 - 18:44 WIB
loading...
Ilustrasi fasilitas perakitan Chery yang diproyeksikan menjadi basis produksi mandiri bagi seluruh merek di bawah naungan Chery Group di Indonesia mulai akhir tahun ini. Foto: CSI
A
A
A
SEMARANG - Peta persaingan industri otomotif nasional dipastikan akan semakin ketat setelah PT Chery Sales Indonesia (CSI) mengonfirmasi langkah strategis terbarunya.
Pabrikan asal China ini memastikan akan memulai pembangunan (groundbreaking) pabrik mandiri di Indonesia pada akhir 2026. Langkah ini menjadi sinyal kuat komitmen Chery untuk tidak sekadar "menumpang" perakitan, melainkan menancapkan kuku bisnis yang lebih dalam di pasar Tanah Air.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Direktur Pemasaran PT CSI, Budi Darmawan Jantania, di sela-sela kegiatannya di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/1/2026).
Rencana pembangunan fasilitas ini bukan sekadar wacana, melainkan respons taktis terhadap pertumbuhan volume penjualan dan diversifikasi produk Chery Group yang kian agresif.
Keputusan Chery untuk membangun pabrik sendiri didorong oleh analisis pasar yang menunjukkan tren positif penerimaan konsumen Indonesia terhadap merek China.
Saat ini, Chery masih bergantung pada fasilitas perakitan milik mitra, yakni PT Handal Indonesia Motor di Bekasi, Jawa Barat.
Namun, dengan lini produk yang terus bertambah—mulai dari seri Tiggo, Omoda, hingga merek sub-brand seperti Jaecoo, iCar, dan Lepas—kapasitas produksi pihak ketiga dinilai tidak akan lagi memadai dalam jangka panjang.
Sebagai gambaran permintaan yang tinggi, Budi mencontohkan fenomena Jaecoo J5. Mobil yang berada di bawah payung Chery Group ini bahkan harus menumpang perakitan di pabrik Wanaherang, Jawa Barat, demi memenuhi lonjakan pesanan yang disebutnya "gila-gilaan".
Tanpa pabrik mandiri, fleksibilitas produksi untuk beragam model ini akan sulit dicapai.
"Groundbreaking pabrik mandiri kami mulai dibangun tahun ini, tapi kami belum bisa kasih tahu lokasi dan tanggal pastinya," ujar Budi Darmawan menegaskan komitmen perusahaan, meski masih menutup rapat detail lokasi spesifiknya.
Secara teknis, pembangunan fasilitas manufaktur otomotif bukanlah proses instan. Budi memproyeksikan konstruksi pabrik akan memakan waktu antara 1 hingga 1,5 tahun.
Dengan hitungan matematis tersebut, jika peletakan batu pertama dilakukan akhir 2026, maka pabrik diprediksi baru akan mulai "ngebul" atau beroperasi penuh pada tahun 2027 atau paling lambat 2028.
Terkait kapasitas produksi, Chery menyatakan angkanya akan bersifat dinamis, disesuaikan dengan permintaan riil konsumen saat pabrik mulai beroperasi. Fleksibilitas ini penting mengingat volatilitas pasar otomotif global dan domestik.
Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung: di mana lokasi pabrik tersebut? Isu yang santer beredar menyebutkan bahwa Chery berpotensi mengambil alih operasional pabrik Handal di Bekasi secara penuh, mengingat rekam jejak kemitraan mereka.
Saat dikonfirmasi mengenai rumor akuisisi maupun lokasi lahan baru, manajemen Chery memilih bersikap diplomatis.
Budi enggan memberikan konfirmasi maupun bantahan tegas terkait isu pengambilalihan pabrik Handal. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh perwakilan Handal, menciptakan area abu-abu dalam spekulasi ini.
"Belum bisa dikasih tahu soal itu," elak Budi, seraya menegaskan bahwa hal tersebut bukan kapasitasnya untuk menjawab saat ini.
Strategi ini memungkinkan efisiensi biaya produksi (economies of scale) yang signifikan, yang pada akhirnya dapat menekan harga jual kendaraan ke konsumen.
Langkah Chery membangun pabrik mandiri ini menjadi indikator bahwa pabrikan Tiongkok telah beralih dari fase "tes pasar" menuju fase "industrialisasi penuh" di Indonesia. Dengan estimasi waktu konstruksi 1,5 tahun, industri otomotif nasional patut bersiap menyambut peta kekuatan baru pada 2028 mendatang.
Pabrikan asal China ini memastikan akan memulai pembangunan (groundbreaking) pabrik mandiri di Indonesia pada akhir 2026. Langkah ini menjadi sinyal kuat komitmen Chery untuk tidak sekadar "menumpang" perakitan, melainkan menancapkan kuku bisnis yang lebih dalam di pasar Tanah Air.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Direktur Pemasaran PT CSI, Budi Darmawan Jantania, di sela-sela kegiatannya di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (28/1/2026).
Rencana pembangunan fasilitas ini bukan sekadar wacana, melainkan respons taktis terhadap pertumbuhan volume penjualan dan diversifikasi produk Chery Group yang kian agresif.
Keputusan Chery untuk membangun pabrik sendiri didorong oleh analisis pasar yang menunjukkan tren positif penerimaan konsumen Indonesia terhadap merek China.
Saat ini, Chery masih bergantung pada fasilitas perakitan milik mitra, yakni PT Handal Indonesia Motor di Bekasi, Jawa Barat.
Namun, dengan lini produk yang terus bertambah—mulai dari seri Tiggo, Omoda, hingga merek sub-brand seperti Jaecoo, iCar, dan Lepas—kapasitas produksi pihak ketiga dinilai tidak akan lagi memadai dalam jangka panjang.
Sebagai gambaran permintaan yang tinggi, Budi mencontohkan fenomena Jaecoo J5. Mobil yang berada di bawah payung Chery Group ini bahkan harus menumpang perakitan di pabrik Wanaherang, Jawa Barat, demi memenuhi lonjakan pesanan yang disebutnya "gila-gilaan".
Tanpa pabrik mandiri, fleksibilitas produksi untuk beragam model ini akan sulit dicapai.
"Groundbreaking pabrik mandiri kami mulai dibangun tahun ini, tapi kami belum bisa kasih tahu lokasi dan tanggal pastinya," ujar Budi Darmawan menegaskan komitmen perusahaan, meski masih menutup rapat detail lokasi spesifiknya.
Secara teknis, pembangunan fasilitas manufaktur otomotif bukanlah proses instan. Budi memproyeksikan konstruksi pabrik akan memakan waktu antara 1 hingga 1,5 tahun.
Dengan hitungan matematis tersebut, jika peletakan batu pertama dilakukan akhir 2026, maka pabrik diprediksi baru akan mulai "ngebul" atau beroperasi penuh pada tahun 2027 atau paling lambat 2028.
Terkait kapasitas produksi, Chery menyatakan angkanya akan bersifat dinamis, disesuaikan dengan permintaan riil konsumen saat pabrik mulai beroperasi. Fleksibilitas ini penting mengingat volatilitas pasar otomotif global dan domestik.
Namun, satu pertanyaan besar masih menggantung: di mana lokasi pabrik tersebut? Isu yang santer beredar menyebutkan bahwa Chery berpotensi mengambil alih operasional pabrik Handal di Bekasi secara penuh, mengingat rekam jejak kemitraan mereka.
Saat dikonfirmasi mengenai rumor akuisisi maupun lokasi lahan baru, manajemen Chery memilih bersikap diplomatis.
Budi enggan memberikan konfirmasi maupun bantahan tegas terkait isu pengambilalihan pabrik Handal. Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh perwakilan Handal, menciptakan area abu-abu dalam spekulasi ini.
"Belum bisa dikasih tahu soal itu," elak Budi, seraya menegaskan bahwa hal tersebut bukan kapasitasnya untuk menjawab saat ini.
Integrasi Chery Group
Satu hal yang pasti, fasilitas baru ini nantinya tidak hanya akan memproduksi mobil bermerek Chery. Pabrik ini didesain sebagai hub produksi terintegrasi untuk seluruh merek yang tergabung dalam Chery Group.Strategi ini memungkinkan efisiensi biaya produksi (economies of scale) yang signifikan, yang pada akhirnya dapat menekan harga jual kendaraan ke konsumen.
Langkah Chery membangun pabrik mandiri ini menjadi indikator bahwa pabrikan Tiongkok telah beralih dari fase "tes pasar" menuju fase "industrialisasi penuh" di Indonesia. Dengan estimasi waktu konstruksi 1,5 tahun, industri otomotif nasional patut bersiap menyambut peta kekuatan baru pada 2028 mendatang.
(dan)
Lihat Juga :