Porsche Raih Nilai Jual Kembali Tertinggi di China 2025, Infiniti Terburuk
Senin, 02 Februari 2026 - 12:02 WIB
loading...
Porsche . FOTO/ Porsche
A
A
A
BEIJING - Nilai jual kembali sering dianggap sebagai cerminan paling jujur dari kekuatan merek otomotif.
Nilai jual kembali tidak hanya bergantung pada angka penjualan kendaraan baru, tetapi juga dipengaruhi oleh reputasi merek, kualitas produk, stabilitas perusahaan, dan kepercayaan konsumen terhadap dukungan purna jual.
Di China, salah satu pasar otomotif terbesar di dunia, laporan Peringkat Nilai Jual Kembali Tiga Tahun Merek Kendaraan 2025 yang dirilis oleh Asosiasi Dealer Otomotif China (CADA) bersama dengan Beijing Jingzhengu Information Technology memberikan gambaran yang jelas tentang realitas sebenarnya dari industri otomotif saat ini.
Laporan tersebut menunjukkan Porsche muncul sebagai merek dengan nilai jual kembali tiga tahun tertinggi sebesar 67,34 persen, mengungguli semua merek lain di semua kategori.
Peringkat ini memperkuat status Porsche sebagai merek premium yang tidak hanya berkinerja tinggi dari perspektif teknik, tetapi juga sangat kuat dalam hal nilai jangka panjang.
Menariknya, pencapaian ini terjadi pada saat Porsche menghadapi tantangan penjualan di Tiongkok, dengan hanya 41.938 unit yang terjual hingga tahun 2025 dan rencana untuk menutup sekitar 30 persen jaringan dealernya untuk menghemat biaya dan mengalihkan investasi ke penelitian dan pengembangan.
Situasi ini membuktikan bahwa kekuatan merek dan kepercayaan pasar dapat mengatasi fluktuasi penjualan jangka pendek.
Fenomena yang sama dapat dilihat di pasar global lainnya, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, di mana Porsche secara konsisten mencatat tingkat depresiasi yang rendah.
Di Malaysia, tren ini tidak jauh berbeda ketika model-model seperti 911, Cayman, dan Macan masih mempertahankan harga tinggi di pasar mobil bekas bahkan setelah beberapa tahun digunakan, menjadikan Porsche sebagai salah satu pilihan utama bagi pembeli yang menghargai nilai jangka panjang.
Di antara merek-merek lokal Tiongkok, GAC Trumpchi memimpin dengan nilai jual kembali tiga tahun sebesar 56,82 persen, diikuti oleh merek Tank dari Great Wall Motor dengan 56,32 persen.
Kinerja ini mencerminkan kematangan strategi merek-merek tertentu di Tiongkok yang semakin menekankan kualitas, daya tahan, dan pembangunan citra, khususnya di segmen SUV dan kendaraan tangguh.
Namun, tidak semua merek Tiongkok menikmati momentum yang sama, dengan BYD berada di posisi tengah, sementara Neta mencatat nilai jual kembali terendah sebesar 40,14 persen, sebagian karena masalah keuangan yang dihadapi oleh perusahaan induknya.
Situasi ini menyoroti bahwa inovasi teknologi saja tidak cukup tanpa stabilitas perusahaan dan dukungan jangka panjang.
Untuk merek-merek usaha patungan di Tiongkok, laporan tersebut menunjukkan bahwa semua merek mencatat nilai jual kembali di atas 50 persen, mencerminkan tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi terhadap merek-merek dengan jaringan dealer yang kuat, pasokan suku cadang yang stabil, dan pengalaman purna jual yang konsisten.
Di antara merek-merek Jerman, Mercedes-Benz berada di peringkat ketiga secara keseluruhan, memperkuat posisinya sebagai merek premium utama yang tetap relevan meskipun persaingan ketat dari merek-merek listrik baru dan produsen Tiongkok yang agresif.
Dalam kategori merek Jepang, Lexus muncul sebagai pemimpin dengan nilai jual kembali tiga tahun sebesar 60,22 persen, menjadikannya satu-satunya merek selain Porsche yang melampaui angka 60 persen.
Keberhasilan Lexus sebagian besar didorong oleh reputasinya yang andal, biaya kepemilikan yang wajar, dan dukungan purna jual yang konsisten.
Di sisi lain, Infiniti mencatat kinerja keseluruhan terlemah dengan nilai jual kembali hanya 37,69 persen.
Penurunan ini disebabkan oleh gangguan dalam operasi manufaktur, ketidakpastian arah strategis, dan jaringan purna jual yang lemah di Tiongkok, faktor-faktor yang secara langsung memengaruhi kepercayaan konsumen.
Situasi Infiniti di Tiongkok sebenarnya sejalan dengan apa yang terjadi di beberapa pasar lain, termasuk Malaysia, di mana kehadiran merek tersebut praktis punah dan dukungan pasar tidak dianggap sekuat pesaing Jepang lainnya.
Hal ini pada gilirannya memengaruhi nilai kendaraan bekas dan persepsi pembeli tentang kelangsungan jangka panjang merek tersebut.
Secara keseluruhan, laporan ini menegaskan bahwa pasar Tiongkok seringkali menjadi indikator awal tren otomotif global.
Bagi konsumen di Malaysia, temuan ini memberikan pesan yang jelas bahwa harga pembelian awal yang menarik tidak selalu menjamin penghematan nyata jika nilai jual kembali menurun secara signifikan.
Di era elektrifikasi dan munculnya berbagai merek baru, nilai jual kembali tetap menjadi indikator utama kepercayaan pasar, dan hanya merek yang benar-benar kuat dalam hal produk, dukungan, dan arah yang akan terus mempertahankan nilainya
Nilai jual kembali tidak hanya bergantung pada angka penjualan kendaraan baru, tetapi juga dipengaruhi oleh reputasi merek, kualitas produk, stabilitas perusahaan, dan kepercayaan konsumen terhadap dukungan purna jual.
Di China, salah satu pasar otomotif terbesar di dunia, laporan Peringkat Nilai Jual Kembali Tiga Tahun Merek Kendaraan 2025 yang dirilis oleh Asosiasi Dealer Otomotif China (CADA) bersama dengan Beijing Jingzhengu Information Technology memberikan gambaran yang jelas tentang realitas sebenarnya dari industri otomotif saat ini.
Laporan tersebut menunjukkan Porsche muncul sebagai merek dengan nilai jual kembali tiga tahun tertinggi sebesar 67,34 persen, mengungguli semua merek lain di semua kategori.
Peringkat ini memperkuat status Porsche sebagai merek premium yang tidak hanya berkinerja tinggi dari perspektif teknik, tetapi juga sangat kuat dalam hal nilai jangka panjang.
Menariknya, pencapaian ini terjadi pada saat Porsche menghadapi tantangan penjualan di Tiongkok, dengan hanya 41.938 unit yang terjual hingga tahun 2025 dan rencana untuk menutup sekitar 30 persen jaringan dealernya untuk menghemat biaya dan mengalihkan investasi ke penelitian dan pengembangan.
Situasi ini membuktikan bahwa kekuatan merek dan kepercayaan pasar dapat mengatasi fluktuasi penjualan jangka pendek.
Fenomena yang sama dapat dilihat di pasar global lainnya, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, di mana Porsche secara konsisten mencatat tingkat depresiasi yang rendah.
Di Malaysia, tren ini tidak jauh berbeda ketika model-model seperti 911, Cayman, dan Macan masih mempertahankan harga tinggi di pasar mobil bekas bahkan setelah beberapa tahun digunakan, menjadikan Porsche sebagai salah satu pilihan utama bagi pembeli yang menghargai nilai jangka panjang.
Di antara merek-merek lokal Tiongkok, GAC Trumpchi memimpin dengan nilai jual kembali tiga tahun sebesar 56,82 persen, diikuti oleh merek Tank dari Great Wall Motor dengan 56,32 persen.
Kinerja ini mencerminkan kematangan strategi merek-merek tertentu di Tiongkok yang semakin menekankan kualitas, daya tahan, dan pembangunan citra, khususnya di segmen SUV dan kendaraan tangguh.
Namun, tidak semua merek Tiongkok menikmati momentum yang sama, dengan BYD berada di posisi tengah, sementara Neta mencatat nilai jual kembali terendah sebesar 40,14 persen, sebagian karena masalah keuangan yang dihadapi oleh perusahaan induknya.
Situasi ini menyoroti bahwa inovasi teknologi saja tidak cukup tanpa stabilitas perusahaan dan dukungan jangka panjang.
Untuk merek-merek usaha patungan di Tiongkok, laporan tersebut menunjukkan bahwa semua merek mencatat nilai jual kembali di atas 50 persen, mencerminkan tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi terhadap merek-merek dengan jaringan dealer yang kuat, pasokan suku cadang yang stabil, dan pengalaman purna jual yang konsisten.
Di antara merek-merek Jerman, Mercedes-Benz berada di peringkat ketiga secara keseluruhan, memperkuat posisinya sebagai merek premium utama yang tetap relevan meskipun persaingan ketat dari merek-merek listrik baru dan produsen Tiongkok yang agresif.
Dalam kategori merek Jepang, Lexus muncul sebagai pemimpin dengan nilai jual kembali tiga tahun sebesar 60,22 persen, menjadikannya satu-satunya merek selain Porsche yang melampaui angka 60 persen.
Keberhasilan Lexus sebagian besar didorong oleh reputasinya yang andal, biaya kepemilikan yang wajar, dan dukungan purna jual yang konsisten.
Di sisi lain, Infiniti mencatat kinerja keseluruhan terlemah dengan nilai jual kembali hanya 37,69 persen.
Penurunan ini disebabkan oleh gangguan dalam operasi manufaktur, ketidakpastian arah strategis, dan jaringan purna jual yang lemah di Tiongkok, faktor-faktor yang secara langsung memengaruhi kepercayaan konsumen.
Situasi Infiniti di Tiongkok sebenarnya sejalan dengan apa yang terjadi di beberapa pasar lain, termasuk Malaysia, di mana kehadiran merek tersebut praktis punah dan dukungan pasar tidak dianggap sekuat pesaing Jepang lainnya.
Hal ini pada gilirannya memengaruhi nilai kendaraan bekas dan persepsi pembeli tentang kelangsungan jangka panjang merek tersebut.
Secara keseluruhan, laporan ini menegaskan bahwa pasar Tiongkok seringkali menjadi indikator awal tren otomotif global.
Bagi konsumen di Malaysia, temuan ini memberikan pesan yang jelas bahwa harga pembelian awal yang menarik tidak selalu menjamin penghematan nyata jika nilai jual kembali menurun secara signifikan.
Di era elektrifikasi dan munculnya berbagai merek baru, nilai jual kembali tetap menjadi indikator utama kepercayaan pasar, dan hanya merek yang benar-benar kuat dalam hal produk, dukungan, dan arah yang akan terus mempertahankan nilainya
(wbs)
Lihat Juga :