Ironi 105.000 Pikap India: Mengapa Impor saat Kapasitas Pabrik Lokal Justru Menganggur?
Sabtu, 21 Februari 2026 - 11:53 WIB
loading...
A
A
A
Rencana impor 105.000 unit dari India ini tidak hanya mengancam neraca perdagangan, tetapi juga mempertaruhkan nasib total 1,5 juta orang pekerja yang menggantungkan hidup di seluruh ekosistem industri otomotif nasional.
Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, menyuarakan keyakinannya bahwa perusahaan otomotif di Indonesia memiliki kapabilitas penuh untuk memenuhi kebutuhan Agrinas.
”Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri-industri pendukungnya, di antaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM, mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” ungkap Putu Juli.
Ia menekankan bahwa jika pemerintah dan Agrinas memberikan kesempatan serta waktu yang memadai, anggota GAIKINDO dan Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor (GIAMM) siap berpartisipasi penuh.
Baca Juga: Agrinas Impor 105.000 Pikap dari India, Bisa Gerus PDB hingga Rp39 Triliun
Keterlibatan industri lokal bukan sekadar urusan bisnis, melainkan instrumen vital untuk mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri, memutar roda ekonomi hingga puluhan triliun rupiah, serta yang terpenting, menghindari terjadinya pengurangan tenaga kerja massal yang saat ini berpotensi cukup tinggi akibat lesunya pasar domestik.
Melihat data di atas, memaksakan impor 105.000 pikap dari India adalah sebuah anomali kebijakan. Ketika industri lokal sudah memiliki infrastruktur, teknologi, dan tenaga kerja yang mumpuni, memilih produk asing sama halnya dengan mematikan mesin pertumbuhan ekonomi bangsa sendiri.
Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, menyuarakan keyakinannya bahwa perusahaan otomotif di Indonesia memiliki kapabilitas penuh untuk memenuhi kebutuhan Agrinas.
”Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri-industri pendukungnya, di antaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM, mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” ungkap Putu Juli.
Ia menekankan bahwa jika pemerintah dan Agrinas memberikan kesempatan serta waktu yang memadai, anggota GAIKINDO dan Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor (GIAMM) siap berpartisipasi penuh.
Baca Juga: Agrinas Impor 105.000 Pikap dari India, Bisa Gerus PDB hingga Rp39 Triliun
Keterlibatan industri lokal bukan sekadar urusan bisnis, melainkan instrumen vital untuk mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri, memutar roda ekonomi hingga puluhan triliun rupiah, serta yang terpenting, menghindari terjadinya pengurangan tenaga kerja massal yang saat ini berpotensi cukup tinggi akibat lesunya pasar domestik.
Melihat data di atas, memaksakan impor 105.000 pikap dari India adalah sebuah anomali kebijakan. Ketika industri lokal sudah memiliki infrastruktur, teknologi, dan tenaga kerja yang mumpuni, memilih produk asing sama halnya dengan mematikan mesin pertumbuhan ekonomi bangsa sendiri.
(dan)
Lihat Juga :