Liebherr R 9100 Generasi Kedelapan Diluncurkan, Ini Speknya
Jum'at, 24 April 2026 - 22:39 WIB
loading...
Liebherr R 9100 Generasi Kedelapan Diluncurkan. Foto/ Dok SindoNews
A
A
A
JAK - PT Liebherr Indonesia memperkuat penetrasinya di pameluncurkan ekskavator kelas 100 ton terbaru, Liebherr R 9100 Generasi Kedelapan (G8).
Ekskavator kelas 100 ton ini membawa sejumlah peningkatan, terutama pada efisiensi bahan bakar dan sistem kontrol. Melalui teknologi Liebherr Power Efficiency (LPE), konsumsi bahan bakar dapat ditekan hingga 20% dibanding generasi sebelumnya, dengan peningkatan efisiensi mencapai 30%.
Dalam industri tambang, di mana biaya bahan bakar bisa mencapai 40% dari total operasional, efisiensi ini dinilai signifikan. Bahkan, potensi penghematan dapat mencapai hingga 100.000 liter bahan bakar per tahun per unit, sekaligus mendukung target pengurangan emisi.
Dari sisi kinerja, R 9100 G8 telah melalui uji lapangan di Indonesia bekerja sama dengan PT Madhani Talatah Nusantara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Hasilnya, unit mampu beroperasi rata-rata 411 jam per bulan dengan tingkat ketersediaan mencapai 92%.
Selain efisiensi, Liebherr juga menyematkan fitur digital melalui ekosistem IoMine yang memungkinkan pemantauan kinerja alat secara real-time. Teknologi ini mencakup sistem seperti Skyview 360°, Bucket Filling Assistant, hingga layanan analitik data untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Regional Sales Manager Liebherr Mining Bertrand Bedo mengatakan, inovasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendorong digitalisasi dan keberlanjutan industri tambang.
Secara industri, peluncuran ini mempertegas tren transformasi alat berat menuju efisiensi energi dan integrasi digital. Liebherr pun membidik penguatan pangsa pasar di Asia Pasifik, seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan tambang akan solusi operasional yang lebih hemat biaya dan berkelanjutan.
Langkah strategis ini diambil untuk menjawab tantangan efisiensi biaya operasional, sekaligus mendukung peta jalan energi pemerintah terkait implementasi bahan bakar biosolar.
Kamige Sulistyo menyatakan, peluncuran R 9100 G8 menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk memperkenalkan teknologi Liebherr Power Efficiency (LPE), yang mampu mereduksi konsumsi bahan bakar secara signifikan.
Dalam struktur biaya pertambangan, efisiensi energi menjadi variabel kunci dalam menjaga margin profitabilitas.
“Ada satu yang kami tonjolkan itu namanya fitur LPE atau Liebherr Power Efficiency. Jadi ini adalah fitur di mesin kami, di teknologi kami, di mana kami ada improvement di bagian hidrolik mesin dan hidrolik attachment, yang bisa membantu mengurangi konsumsi bahan bakar sampai dengan 20 persen, kalau dibandingkan dengan kompetitor kami atau generasi sebelumnya." ujar Kamige di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Liebherr menerapkan filosofi bisnis yang berfokus pada Total Cost of Operation (TCO), guna memberikan nilai tambah bagi para investor dan pengusaha tambang.
Strategi ini menekankan pada penghematan jangka panjang, dibandingkan sekadar kompetisi harga di awal pengadaan unit.
“Kami tidak menonjolkan terkait the lowest initial cost, tapi kami menonjolkan the lowest total cost of operation, jadi the lowest TCO. Karena menurut kami penghematan 20 persen bahan bakar atau 100.000 liter per tahun itu sangat signifikan."
"Jadi kita enggak cuma lihat di awal, tapi kita juga melihat berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh pelanggan selama masa pakai unit tersebut,” tutur Kamige.
Di tengah rencana pemerintah mengakselerasi penggunaan B50 pada Juli mendatang, Liebherr memastikan seluruh lini produk terbarunya siap mengadopsi standar bahan bakar tersebut.
Perusahaan telah melakukan serangkaian pengujian internal, untuk memastikan performa mesin tetap optimal dengan berbagai klasifikasi biosolar.
“Kalau terkait komposisi biosolar ya, kita sudah mengikuti sih, perkembangannya. Kami sudah coba tes di B35 maupun B40 itu tidak ada masalah, dan di B50 juga tidak ada masalah,” ungkapnya.
Target Pertumbuhan Agresif Optimisme pasar di sektor komoditas mendorong Liebherr mematok target pertumbuhan yang cukup agresif tahun ini.
Setelah mencatatkan penjualan sebanyak 7 unit pada tahun lalu, perusahaan membidik pertumbuhan volume penjualan hingga hampir tiga kali lipat.
“Tahun lalu jumlah penjualan itu kurang lebih 7. Tahun ini target kami kurang lebih 20 unit, Pak,” jelas Kamige.
Selain pengembangan mesin diesel efisien, Liebherr juga mengonfirmasi kesiapan teknologi mesin elektrik yang telah dikembangkan sejak tahun 1981.
Namun, realisasi penggunaannya di Indonesia akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur kelistrikan di area konsesi tambang.
“Kami sudah mengembangkan mesin elektrik itu sebenarnya di tahun 1981. Jadi udah kurang lebih 45 tahun." Tandasnya.
Ekskavator kelas 100 ton ini membawa sejumlah peningkatan, terutama pada efisiensi bahan bakar dan sistem kontrol. Melalui teknologi Liebherr Power Efficiency (LPE), konsumsi bahan bakar dapat ditekan hingga 20% dibanding generasi sebelumnya, dengan peningkatan efisiensi mencapai 30%.
Dalam industri tambang, di mana biaya bahan bakar bisa mencapai 40% dari total operasional, efisiensi ini dinilai signifikan. Bahkan, potensi penghematan dapat mencapai hingga 100.000 liter bahan bakar per tahun per unit, sekaligus mendukung target pengurangan emisi.
Dari sisi kinerja, R 9100 G8 telah melalui uji lapangan di Indonesia bekerja sama dengan PT Madhani Talatah Nusantara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Hasilnya, unit mampu beroperasi rata-rata 411 jam per bulan dengan tingkat ketersediaan mencapai 92%.
Selain efisiensi, Liebherr juga menyematkan fitur digital melalui ekosistem IoMine yang memungkinkan pemantauan kinerja alat secara real-time. Teknologi ini mencakup sistem seperti Skyview 360°, Bucket Filling Assistant, hingga layanan analitik data untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Regional Sales Manager Liebherr Mining Bertrand Bedo mengatakan, inovasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam mendorong digitalisasi dan keberlanjutan industri tambang.
Secara industri, peluncuran ini mempertegas tren transformasi alat berat menuju efisiensi energi dan integrasi digital. Liebherr pun membidik penguatan pangsa pasar di Asia Pasifik, seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan tambang akan solusi operasional yang lebih hemat biaya dan berkelanjutan.
Langkah strategis ini diambil untuk menjawab tantangan efisiensi biaya operasional, sekaligus mendukung peta jalan energi pemerintah terkait implementasi bahan bakar biosolar.
Kamige Sulistyo menyatakan, peluncuran R 9100 G8 menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk memperkenalkan teknologi Liebherr Power Efficiency (LPE), yang mampu mereduksi konsumsi bahan bakar secara signifikan.
Dalam struktur biaya pertambangan, efisiensi energi menjadi variabel kunci dalam menjaga margin profitabilitas.
“Ada satu yang kami tonjolkan itu namanya fitur LPE atau Liebherr Power Efficiency. Jadi ini adalah fitur di mesin kami, di teknologi kami, di mana kami ada improvement di bagian hidrolik mesin dan hidrolik attachment, yang bisa membantu mengurangi konsumsi bahan bakar sampai dengan 20 persen, kalau dibandingkan dengan kompetitor kami atau generasi sebelumnya." ujar Kamige di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Liebherr menerapkan filosofi bisnis yang berfokus pada Total Cost of Operation (TCO), guna memberikan nilai tambah bagi para investor dan pengusaha tambang.
Strategi ini menekankan pada penghematan jangka panjang, dibandingkan sekadar kompetisi harga di awal pengadaan unit.
“Kami tidak menonjolkan terkait the lowest initial cost, tapi kami menonjolkan the lowest total cost of operation, jadi the lowest TCO. Karena menurut kami penghematan 20 persen bahan bakar atau 100.000 liter per tahun itu sangat signifikan."
"Jadi kita enggak cuma lihat di awal, tapi kita juga melihat berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh pelanggan selama masa pakai unit tersebut,” tutur Kamige.
Di tengah rencana pemerintah mengakselerasi penggunaan B50 pada Juli mendatang, Liebherr memastikan seluruh lini produk terbarunya siap mengadopsi standar bahan bakar tersebut.
Perusahaan telah melakukan serangkaian pengujian internal, untuk memastikan performa mesin tetap optimal dengan berbagai klasifikasi biosolar.
“Kalau terkait komposisi biosolar ya, kita sudah mengikuti sih, perkembangannya. Kami sudah coba tes di B35 maupun B40 itu tidak ada masalah, dan di B50 juga tidak ada masalah,” ungkapnya.
Target Pertumbuhan Agresif Optimisme pasar di sektor komoditas mendorong Liebherr mematok target pertumbuhan yang cukup agresif tahun ini.
Setelah mencatatkan penjualan sebanyak 7 unit pada tahun lalu, perusahaan membidik pertumbuhan volume penjualan hingga hampir tiga kali lipat.
“Tahun lalu jumlah penjualan itu kurang lebih 7. Tahun ini target kami kurang lebih 20 unit, Pak,” jelas Kamige.
Selain pengembangan mesin diesel efisien, Liebherr juga mengonfirmasi kesiapan teknologi mesin elektrik yang telah dikembangkan sejak tahun 1981.
Namun, realisasi penggunaannya di Indonesia akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur kelistrikan di area konsesi tambang.
“Kami sudah mengembangkan mesin elektrik itu sebenarnya di tahun 1981. Jadi udah kurang lebih 45 tahun." Tandasnya.
(wbs)
Lihat Juga :