Bukan Mobil Termahal, tapi Inilah Kendaraan yang Paling Dibanggakan Wuling di Museumnya
Selasa, 07 Juli 2026 - 13:51 WIB
loading...
Sebuah Air EV rakitan Indonesia, pelat nomor delegasi G20 masih menempel, kini jadi koleksi tetap di museum pusat Wuling di China — bukti bahwa mobil rakyat pun bisa punya panggung diplomasi. Foto: Sindonews/Danang Arradian
A
A
A
LIUZHOU - Di lantai dua gedung seluas 2.700 meter persegi di Liuzhou, ada satu mobil kecil warna kuning yang pelat nomornya masih tertulis DK 1250 KTT.
Bukan mobil termahal. Bukan pula yang berteknologi paling canggih di ruangan itu. Tapi justru mobil inilah yang membuat kunjungan ke Museum Wuling terasa berbeda: sebuah Air EV, dirakit di Indonesia, dipajang satu ruangan dengan traktor tua tahun 1960 yang menjadi cikal bakal Wuling Motors.
Begitu masuk, pengunjung langsung disambut mobil pertama yang diproduksi massal Wuling pada 1982: LZ110, mobil mini cab bermesin 550 cc, hasil kerja sama lisensi dengan Mitsubishi Motors dari Jepang.
LZ sendiri singkatan dari Liuzhou, kota kelahiran perusahaan ini. Sebelum LZ110, Wuling sudah lebih dulu memproduksi traktor pada 1960 — jejak yang menegaskan bahwa Wuling bukan lahir dari ambisi membuat mobil mewah, melainkan dari kebutuhan mengangkut rakyat dan hasil bumi.
Dari titik itu, alur museum bergerak maju melewati Wuling Hongguang, Baojun 730 (basis Wuling Cortez), Baojun 530 (basis Wuling Almaz), Wuling Sunshine, Hongguang Mini EV, Baojun KiWi EV, hingga Baojun Yep.
Ada juga mesin plug-in hybrid electric vehicle dari Wuling Darion dan Eksion yang dipamerkan lengkap dengan bagian dalamnya, serta lini masa transformasi digital Wuling dari 2021 hingga 2026.
Semua kendaraan itu, dari traktor sampai PHEV, punya satu benang merah: diproduksi untuk pasar massal, bukan segmen
premium.
Itulah "1-2-5" yang jadi nama salah satu zona — proyek yang menjadi fondasi strategi Wuling membangun mobil terjangkau dengan volume besar.
Kenapa Air EV Buatan Indonesia yang Dipilih
Di sinilah bagian paling menarik dari museum ini. Di antara ratusan produk yang lahir di China, Wuling justru memberi tempat khusus untuk satu unit Air EV yang tidak dirakit di Liuzhou, melainkan di Cikarang, Indonesia.
Mobil ini bukan sembarang unit produksi. Ia adalah kendaraan delegasi 11 pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali, November 2022, lengkap dengan pelat nomor DK 1250 KTT dan stiker "Delegasi 11" yang masih menempel di kaca.
Saat itu, Air EV menjadi kendaraan operasional harian anggota delegasi negara peserta KTT.
Kalau Wuling hanya ingin memamerkan pencapaian teknologi, ada banyak pilihan lain yang lebih layak jadi bintang: PHEV terbaru, atau prototipe kendaraan riset masa depan yang juga dipajang di zona teknologi.
Tapi yang dipilih justru mobil hasil rakitan pabrik di luar China, yang kebetulan pernah mengangkut delegasi kepala negara dunia.
Pilihan itu konsisten dengan identitas yang dibangun Wuling sejak zaman LZ110: mobil rakyat yang kebetulan, pada satu momen, terlibat dalam panggung diplomasi kelas dunia.
Air EV tidak dirancang sebagai mobil kenegaraan. Ia lahir sebagai city car listrik terjangkau untuk pasar harian.
Justru karena identitas rendah hati itulah kehadirannya di G20 jadi bahan cerita, dan cerita itu yang disimpan permanen di museum pusat perusahaan.
Ini pengakuan bahwa Indonesia bukan cuma lokasi perakitan untuk memenuhi kuota komponen lokal, melainkan basis produksi yang produknya layak disandingkan dengan koleksi sejarah perusahaan sendiri.
Air EV memang bukan model ekspor biasa. Ia dirakit di pabrik Wuling di Cikarang, lalu unit khusus untuk delegasi G20 dipersiapkan dengan standar operasional acara kenegaraan.
Ketika unit itu justru yang dipulangkan ke China untuk disimpan permanen di museum, itu menunjukkan bagaimana pasar Indonesia diperlakukan: bukan sekadar tujuan penjualan, tapi bagian dari narasi besar perusahaan.
Museum Wuling sendiri sempat meraih MUSE Design Award, penghargaan yang diselenggarakan American Alliance of Museums (AAM) bersama International Awards Association (IAA) dan kerap dijuluki "Oscar"-nya dunia desain, tidak lama setelah diresmikan pada 2023.
Bukan mobil termahal. Bukan pula yang berteknologi paling canggih di ruangan itu. Tapi justru mobil inilah yang membuat kunjungan ke Museum Wuling terasa berbeda: sebuah Air EV, dirakit di Indonesia, dipajang satu ruangan dengan traktor tua tahun 1960 yang menjadi cikal bakal Wuling Motors.
Dari Traktor ke Panggung G20
Museum Wuling berdiri di kompleks SGMW Baojun Base, Liuzhou, Provinsi Guangxi, dan baru rampung dibangun pada 27 Oktober 2023. Luasnya 2.700 meter persegi, terbagi ke dalam dua lantai, dengan delapan zona utama: Preface Hall, Legendary Road, Proyek "1-2-5", Inovasi Teknologi, Laboratorium Energi Baru Guangxi, Manufaktur Cerdas, Penghargaan Perusahaan, dan Nilai Merek.Begitu masuk, pengunjung langsung disambut mobil pertama yang diproduksi massal Wuling pada 1982: LZ110, mobil mini cab bermesin 550 cc, hasil kerja sama lisensi dengan Mitsubishi Motors dari Jepang.
LZ sendiri singkatan dari Liuzhou, kota kelahiran perusahaan ini. Sebelum LZ110, Wuling sudah lebih dulu memproduksi traktor pada 1960 — jejak yang menegaskan bahwa Wuling bukan lahir dari ambisi membuat mobil mewah, melainkan dari kebutuhan mengangkut rakyat dan hasil bumi.
Dari titik itu, alur museum bergerak maju melewati Wuling Hongguang, Baojun 730 (basis Wuling Cortez), Baojun 530 (basis Wuling Almaz), Wuling Sunshine, Hongguang Mini EV, Baojun KiWi EV, hingga Baojun Yep.
Ada juga mesin plug-in hybrid electric vehicle dari Wuling Darion dan Eksion yang dipamerkan lengkap dengan bagian dalamnya, serta lini masa transformasi digital Wuling dari 2021 hingga 2026.
Semua kendaraan itu, dari traktor sampai PHEV, punya satu benang merah: diproduksi untuk pasar massal, bukan segmen
premium.
Itulah "1-2-5" yang jadi nama salah satu zona — proyek yang menjadi fondasi strategi Wuling membangun mobil terjangkau dengan volume besar.
Kenapa Air EV Buatan Indonesia yang Dipilih
![Bukan Mobil Termahal, tapi Inilah Kendaraan yang Paling Dibanggakan Wuling di Museumnya]()
Di sinilah bagian paling menarik dari museum ini. Di antara ratusan produk yang lahir di China, Wuling justru memberi tempat khusus untuk satu unit Air EV yang tidak dirakit di Liuzhou, melainkan di Cikarang, Indonesia.
Mobil ini bukan sembarang unit produksi. Ia adalah kendaraan delegasi 11 pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali, November 2022, lengkap dengan pelat nomor DK 1250 KTT dan stiker "Delegasi 11" yang masih menempel di kaca.
Saat itu, Air EV menjadi kendaraan operasional harian anggota delegasi negara peserta KTT.
Kalau Wuling hanya ingin memamerkan pencapaian teknologi, ada banyak pilihan lain yang lebih layak jadi bintang: PHEV terbaru, atau prototipe kendaraan riset masa depan yang juga dipajang di zona teknologi.
Tapi yang dipilih justru mobil hasil rakitan pabrik di luar China, yang kebetulan pernah mengangkut delegasi kepala negara dunia.
Pilihan itu konsisten dengan identitas yang dibangun Wuling sejak zaman LZ110: mobil rakyat yang kebetulan, pada satu momen, terlibat dalam panggung diplomasi kelas dunia.
Air EV tidak dirancang sebagai mobil kenegaraan. Ia lahir sebagai city car listrik terjangkau untuk pasar harian.
Justru karena identitas rendah hati itulah kehadirannya di G20 jadi bahan cerita, dan cerita itu yang disimpan permanen di museum pusat perusahaan.
Indonesia Bukan Sekadar Pasar Ekspor
Bagi Wuling, memasang mobil rakitan Indonesia di museum pusatnya di China bukan basa-basi.Ini pengakuan bahwa Indonesia bukan cuma lokasi perakitan untuk memenuhi kuota komponen lokal, melainkan basis produksi yang produknya layak disandingkan dengan koleksi sejarah perusahaan sendiri.
Air EV memang bukan model ekspor biasa. Ia dirakit di pabrik Wuling di Cikarang, lalu unit khusus untuk delegasi G20 dipersiapkan dengan standar operasional acara kenegaraan.
Ketika unit itu justru yang dipulangkan ke China untuk disimpan permanen di museum, itu menunjukkan bagaimana pasar Indonesia diperlakukan: bukan sekadar tujuan penjualan, tapi bagian dari narasi besar perusahaan.
Museum Wuling sendiri sempat meraih MUSE Design Award, penghargaan yang diselenggarakan American Alliance of Museums (AAM) bersama International Awards Association (IAA) dan kerap dijuluki "Oscar"-nya dunia desain, tidak lama setelah diresmikan pada 2023.
FAQ Seputar Museum Wuling
Di mana lokasi Museum Wuling?
Museum ini berada di kompleks SGMW Baojun Base, Liuzhou, Provinsi Guangxi, China.Kapan Museum Wuling diresmikan?
Museum ini rampung dan diresmikan pada 27 Oktober 2023.Apa saja yang dipamerkan di Museum Wuling?
Museum menampilkan sejarah Wuling dari traktor pertama (1960), mobil produksi massal pertama LZ110 (1982), hingga lini kendaraan listrik modern seperti Hongguang Mini EV, Baojun KiWi EV, dan Baojun Yep, lengkap dengan zona teknologi, manufaktur cerdas, dan penghargaan perusahaan.Kenapa ada mobil buatan Indonesia di museum ini?
Museum memajang satu unit Wuling Air EV rakitan Cikarang, Indonesia, yang pernah menjadi kendaraan delegasi 11 pada KTT G20 Bali, November 2022, lengkap dengan pelat nomor dan stiker delegasi aslinya.Apakah Museum Wuling mendapat penghargaan?
Ya, museum ini meraih MUSE Design Award dari American Alliance of Museums dan International Awards Association, tak lama setelah dibuka pada 2023.(dan)
Lihat Juga :