Review iCar V23: SUV Boxy Rp500 Juta yang Bikin Semua Orang Menoleh, tapi Tak Semua Jatuh Cinta
Rabu, 15 Juli 2026 - 17:38 WIB
loading...
Semua orang akan menoleh melihat iCar V23, SUV boxy Rp500 jutaan yang sangat menarik perhatian. Foto: Sindonews/Danang Arradian
A
A
A
JAKARTA - Mobil ini memang lahir untuk dilihat. Bukan didengar. Apalagi karena suaranya memang nyaris tidak ada.
Saya membawanya ke parkiran mal. Orang melihat. Saya membawanya masuk gang sempit. Masih dilihat.
Bahkan saat berhenti di lampu merah, kepala-kepala ikut menoleh. Jarang ada mobil baru yang efeknya seperti itu.
![Review iCar V23: SUV Boxy Rp500 Juta yang Bikin Semua Orang Menoleh, tapi Tak Semua Jatuh Cinta]()
Bentuknya kotak. Tegak. Sedikit mengingatkan pada Defender. Ada bayangan Jimny. Ada nuansa Mercedes-Benz G-Class. Tetapi semuanya listrik.
Namanya iCar V23. Merek baru di bawah Chery Group. Model pertama yang resmi masuk Indonesia. Filosofinya juga berbeda.
Bukan Born to Conquer. Melainkan Born to Play. Artinya jelas. Mobil ini lebih mengajak pemilik bermain. Bukan sekadar berkendara.
Harga V23 dimulai dari Rp389,9 juta untuk varian dasar.
Varian Y sekitar Rp440 juta.
Sedangkan varian tertinggi Z iWD yang saya coba dijual Rp500 juta OTR Jakarta. Perbedaan utamanya ada di penggerak. Varian tertinggi memakai Intelligent Wheel Drive. Alias AWD. Lengkap dengan ADAS. Velg 21 inci. Dan aksesori yang lebih lengkap.
Soal tenaga tidak perlu diragukan. Dual motor menghasilkan tenaga maksimum 155 kW. Torsinya 292 Nm. Baterainya 81,76 kWh. Klaim jarak tempuhnya 430 km berdasarkan standar NEDC.
Kalau memakai hitungan WLTP yang lebih realistis, jaraknya masih berada di kisaran lebih dari 300 km. Ada enam mode berkendara. ECO. Comfort. Sport. Slippery. Off-Road. Individual.
![Review iCar V23: SUV Boxy Rp500 Juta yang Bikin Semua Orang Menoleh, tapi Tak Semua Jatuh Cinta]()
Dimensinya menarik. Panjangnya hanya 4.220 mm. Lebih pendek dari Honda HR-V. Tetapi lebarnya mencapai 1.915 mm. Setara SUV premium seperti Hyundai Palisade atau Chery Tiggo 9 CSH.
Tingginya 1.845 mm. Wheelbase mencapai 2.735 mm. Hasilnya terasa. Baris kedua sangat lega. Jok belakangnya tebal. Empuk. Model sofa. Bahkan bisa dilipat rata lantai. Cocok untuk camping. Atau sekadar rebahan saat perjalanan jauh.
Ground clearance-nya juga tinggi. 210 mm. Approach angle mencapai 43 derajat. Departure angle 41 derajat. Bahkan mampu menerjang genangan air hingga 600 mm. Padahal baterainya besar. Biasanya mobil listrik lebih rendah. Yang ini justru sebaliknya.
![Review iCar V23: SUV Boxy Rp500 Juta yang Bikin Semua Orang Menoleh, tapi Tak Semua Jatuh Cinta]()
Lalu apa masalahnya? Suspensi. Inilah ganjalan terbesarnya. Di jalan China mungkin terasa pas. Jalannya mulus. Lebar. Di Indonesia berbeda. Lubang ada di mana-mana. Sambungan beton juga tidak sedikit. Velg 21 inci membuat bantingan makin terasa keras.
Padahal sekitar 95 persen pemilik nanti kemungkinan besar memakainya di kota. Bukan masuk hutan. Bukan naik gunung. Di sinilah karakter mobil dan kondisi jalan Indonesia belum sepenuhnya bertemu.
Ada hal lain yang menarik. Kabinnya terasa kosong. Bukan karena pelit. Justru disengaja. iCar menyebutnya sistem modular. Ada lebih dari 24 titik pemasangan aksesori.
![Review iCar V23: SUV Boxy Rp500 Juta yang Bikin Semua Orang Menoleh, tapi Tak Semua Jatuh Cinta]()
Sebanyak 14 titik berada di dalam kabin. Delapan di atap. Dua lagi di modul lampu plafon. Rak. Lampu. Meja kopi. Semuanya tinggal dipasang. Tanpa membongkar interior. Tanpa memotong panel.
Konsep seperti ini sudah umum di Tiongkok. Belum banyak ditemui di Indonesia. Teknologinya juga modern. Head unit berukuran 15,4 inci. Chipset Snapdragon 8155. Responsif. ADAS tersedia hingga 15 fungsi.
Pilihan warna juga berani.Warm Orange. Khaki White. Stone Green. Starlight Silver. Carbon Black.
V23 juga menjadi SUV boxy pertama yang memperoleh rating keselamatan lima bintang ASEAN NCAP. Tetapi masih ada yang mengganjal. Tidak ada Multi Information Display di balik kemudi.
Semua informasi harus melihat layar tengah. Kalau ingin MID, harus membeli aksesori tambahan. Harganya sekitar Rp6 juta. AC belakang juga tidak tersedia.
Sandaran tangan belakang tidak ada. Cup holder belakang pun absen. Speaker lebih enak dinikmati penumpang depan. Baris kedua terasa biasa saja.
Padahal harga mobil ini sudah menyentuh Rp500 juta. Lalu siapa yang cocok membeli mobil ini? Mereka yang tidak ingin terlihat biasa.
Mereka yang bosan dengan bentuk SUV yang itu-itu saja. Mereka yang suka memodifikasi. Bukan memotong bodi. Tetapi menambah aksesori. Plug and play.
![Review iCar V23: SUV Boxy Rp500 Juta yang Bikin Semua Orang Menoleh, tapi Tak Semua Jatuh Cinta]()
Kalau anggaran terbatas, varian RWD juga menarik. Harganya masih di kisaran Rp300 jutaan. Velgnya lebih kecil. 19 inci. Tidak memakai ADAS. Tetapi selisih uangnya bisa dipakai membeli aksesori modular. Atau mungkin mengganti ban agar suspensinya sedikit lebih bersahabat.
Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan. Orang membeli iCar V23 bukan karena ia mobil listrik. Bukan pula karena tenaganya. Orang membeli V23 karena bentuknya.
Karena karakternya.
Karena identitasnya.
Dan itu memang sulit ditiru.
Sayangnya, suspensinya juga sama sulitnya untuk diabaikan.
Saya membawanya ke parkiran mal. Orang melihat. Saya membawanya masuk gang sempit. Masih dilihat.
Bahkan saat berhenti di lampu merah, kepala-kepala ikut menoleh. Jarang ada mobil baru yang efeknya seperti itu.

Bentuknya kotak. Tegak. Sedikit mengingatkan pada Defender. Ada bayangan Jimny. Ada nuansa Mercedes-Benz G-Class. Tetapi semuanya listrik.
Namanya iCar V23. Merek baru di bawah Chery Group. Model pertama yang resmi masuk Indonesia. Filosofinya juga berbeda.
Bukan Born to Conquer. Melainkan Born to Play. Artinya jelas. Mobil ini lebih mengajak pemilik bermain. Bukan sekadar berkendara.
Harga V23 dimulai dari Rp389,9 juta untuk varian dasar.
Varian Y sekitar Rp440 juta.
Sedangkan varian tertinggi Z iWD yang saya coba dijual Rp500 juta OTR Jakarta. Perbedaan utamanya ada di penggerak. Varian tertinggi memakai Intelligent Wheel Drive. Alias AWD. Lengkap dengan ADAS. Velg 21 inci. Dan aksesori yang lebih lengkap.
Soal tenaga tidak perlu diragukan. Dual motor menghasilkan tenaga maksimum 155 kW. Torsinya 292 Nm. Baterainya 81,76 kWh. Klaim jarak tempuhnya 430 km berdasarkan standar NEDC.
Kalau memakai hitungan WLTP yang lebih realistis, jaraknya masih berada di kisaran lebih dari 300 km. Ada enam mode berkendara. ECO. Comfort. Sport. Slippery. Off-Road. Individual.

Dimensinya menarik. Panjangnya hanya 4.220 mm. Lebih pendek dari Honda HR-V. Tetapi lebarnya mencapai 1.915 mm. Setara SUV premium seperti Hyundai Palisade atau Chery Tiggo 9 CSH.
Tingginya 1.845 mm. Wheelbase mencapai 2.735 mm. Hasilnya terasa. Baris kedua sangat lega. Jok belakangnya tebal. Empuk. Model sofa. Bahkan bisa dilipat rata lantai. Cocok untuk camping. Atau sekadar rebahan saat perjalanan jauh.
Ground clearance-nya juga tinggi. 210 mm. Approach angle mencapai 43 derajat. Departure angle 41 derajat. Bahkan mampu menerjang genangan air hingga 600 mm. Padahal baterainya besar. Biasanya mobil listrik lebih rendah. Yang ini justru sebaliknya.

Lalu apa masalahnya? Suspensi. Inilah ganjalan terbesarnya. Di jalan China mungkin terasa pas. Jalannya mulus. Lebar. Di Indonesia berbeda. Lubang ada di mana-mana. Sambungan beton juga tidak sedikit. Velg 21 inci membuat bantingan makin terasa keras.
Padahal sekitar 95 persen pemilik nanti kemungkinan besar memakainya di kota. Bukan masuk hutan. Bukan naik gunung. Di sinilah karakter mobil dan kondisi jalan Indonesia belum sepenuhnya bertemu.
Ada hal lain yang menarik. Kabinnya terasa kosong. Bukan karena pelit. Justru disengaja. iCar menyebutnya sistem modular. Ada lebih dari 24 titik pemasangan aksesori.

Sebanyak 14 titik berada di dalam kabin. Delapan di atap. Dua lagi di modul lampu plafon. Rak. Lampu. Meja kopi. Semuanya tinggal dipasang. Tanpa membongkar interior. Tanpa memotong panel.
Konsep seperti ini sudah umum di Tiongkok. Belum banyak ditemui di Indonesia. Teknologinya juga modern. Head unit berukuran 15,4 inci. Chipset Snapdragon 8155. Responsif. ADAS tersedia hingga 15 fungsi.
Pilihan warna juga berani.Warm Orange. Khaki White. Stone Green. Starlight Silver. Carbon Black.
V23 juga menjadi SUV boxy pertama yang memperoleh rating keselamatan lima bintang ASEAN NCAP. Tetapi masih ada yang mengganjal. Tidak ada Multi Information Display di balik kemudi.
Semua informasi harus melihat layar tengah. Kalau ingin MID, harus membeli aksesori tambahan. Harganya sekitar Rp6 juta. AC belakang juga tidak tersedia.
Sandaran tangan belakang tidak ada. Cup holder belakang pun absen. Speaker lebih enak dinikmati penumpang depan. Baris kedua terasa biasa saja.
Padahal harga mobil ini sudah menyentuh Rp500 juta. Lalu siapa yang cocok membeli mobil ini? Mereka yang tidak ingin terlihat biasa.
Mereka yang bosan dengan bentuk SUV yang itu-itu saja. Mereka yang suka memodifikasi. Bukan memotong bodi. Tetapi menambah aksesori. Plug and play.

Kalau anggaran terbatas, varian RWD juga menarik. Harganya masih di kisaran Rp300 jutaan. Velgnya lebih kecil. 19 inci. Tidak memakai ADAS. Tetapi selisih uangnya bisa dipakai membeli aksesori modular. Atau mungkin mengganti ban agar suspensinya sedikit lebih bersahabat.
Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan. Orang membeli iCar V23 bukan karena ia mobil listrik. Bukan pula karena tenaganya. Orang membeli V23 karena bentuknya.
Karena karakternya.
Karena identitasnya.
Dan itu memang sulit ditiru.
Sayangnya, suspensinya juga sama sulitnya untuk diabaikan.
(dan)
Lihat Juga :