Google dan Youtube Diprotes Soal Bom di Manchester Arena

Selasa, 05 Desember 2017 - 09:01 WIB
Google dan Youtube Diprotes...
Google dan Youtube Diprotes Soal Bom di Manchester Arena
A A A
LONDON - Google dan Youtube mendapat protes keras usai serangan bom di Manchester Arena. Pasalnya Google dan Youtube dituding memfasilitasi Salman Abedi yang dituding anggota teroris dalam membagikan video cara membuat bom.

Seperti dilansir dari The Sun, Mendapatkan protes Raksasa teknologi tersebut langsung memblokir video di YouTube setelah serangan di Arena Manchester namun telah muncul kembali di platform lain.

Namun Google bersikeras bahwa "sangat berkomitmen untuk menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi ekstremisme kekerasan" namun Google mengakui bahwa pihaknya perlu berbuat lebih banyak lagi, agar kedepannya lebih aman lagi.

Goog;e mengklaim telah berkerjasama dengan Facebook, Twitter, YouTube dan Microsoft membentuk kelompok kerja untuk menghapus konten teroris dari platform mereka.

Perusahaan-perusahaan teknologi global itu mengumumkan hari Senin, membentuk Forum Internet Global guna Mengatasi Teroris yang akan membantu mereka berbagi solusi teknis untuk menghapus postingan teroris dan ekstremis.

Perusahaan-perusahaan itu menghadapi tekanan dari pemerintah di seluruh dunia untuk segera menghapus konten sarat kebencian. Sebelumnya mereka mulai bekerja sama membuat sidik jari untuk video atau gambar dengan informasi ekstremis yang bisa dibagi di seluruh platform media sosial.

Perusahaan-perusahaan teknologi itu mengatakan forum baru itu juga akan membantu mereka melakukan penelitian guna melawan pernyataan teroris dan juga bekerja sama dengan pakar-pakar kontra-terorisme.

Forum tersebut akan "memformalkan dan membangun bidang-bidang kolaborasi yang ada maupun pada masa depan di antara perusahaan kami dan mendorong kerjasama dengan perusahaan-perusahaan teknologi kecil, kelompok masyarakat madani dan akademisi, pemerintah dan badan supra nasional seperti Uni Eropa dan PBB," demikian dikatakan perusahaan-perusahaan itu dalam pernyataan. "Ruang lingkup tugas kami akan berkembang seiring berjalannya waktu karena kami perlu bersikap responsif terhadap taktik teroris dan ekstremis yang terus berkembang."

Pekan lalu, kepala-kepala negara Eropa meminta perusahaan-perusahaan teknologi agar mengembangkan teknologi baru untuk secara otomatis mendeteksi dan menyingkirkan konten ekstremis. Jerman mengusulkan undang-undang baru yang akan mendenda perusahaan media sosial sampai 56 juta dolar jika tidak segera menghapus postingan ekstremis.
(wbs)
Berita Terkait
Buku Saku Digital Well-being...
Buku Saku Digital Well-being Jadi Panduan Orang Tua Awasi Aktivitas Digital Anak
Berkat Google dan YouTube,...
Berkat Google dan YouTube, Pendapatan Alphabet Naik 14% pada Q3 2020
Google Siapkan Tampilan...
Google Siapkan Tampilan Baru untuk YouTube Music
Google dan Youtube Mengalami...
Google dan Youtube Mengalami Error, Pengguna Internet Komplain di Twitter
Banyak Layanan Streaming...
Banyak Layanan Streaming Terganggu Akibat YouTube Down
Fitur Google Lens Bakal...
Fitur Google Lens Bakal Dicoba pada YouTube Shorts, Bikin Mudah Pengguna
Berita Terkini
Bentley Siap Luncurkan...
Bentley Siap Luncurkan Mobil Listrik Pertamanya September Tahun Ini
Risiko Berkendara Jarak...
Risiko Berkendara Jarak Jauh dengan Mobil Listrik Selain Kehabisan Baterai
Dituduh Meniru Porsche...
Dituduh Meniru Porsche Taycan, Bos MG Kehilangan Muka
Baojun Yep Plus: SUV...
Baojun Yep Plus: SUV Kotak Listrik Mirip Suzuki Jimny Harga Rp200 Jutaan
Baojun Huajing S: Wuling...
Baojun Huajing S: Wuling Bikin Kejutan dengan SUV yang Mendekati Kelas Range Rover
Melihat Langsung Dapur...
Melihat Langsung Dapur Perakitan Baterai Wuling di Liuzhou China!
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved