Pemerintah Diminta Jangan Tergesa-gesa Terapkan Industri 4.0
Minggu, 19 Agustus 2018 - 07:31 WIB
Pemerintah Diminta Jangan Tergesa-gesa Terapkan Industri 4.0
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah diminta tidak terburu-buru dalam menerapkan teknologi Industri 4.0. Untuk menerapkannya, sebaiknya sektor industri memetakan kemampuannya masing-masing, baik industri automotif, tekstil, perkapalan, manufaktur, atau lainnya, khususnya industri yang menyerap banyak tenaga kerja.
“Indonesia perlu studi lebih dalam mengenai Industri 4.0. Bagaimana memetakan seluruh industri, sektor masing-masing bagaimana kondisinya. Misalnya Toyota sendiri masih berada di 3.5, apakah sudah cukup mempunyai daya saing, cukup produktif?” ungkap I Made Dana M Tangkas, Presiden Institut Otomotif Indonesia seusai Seminar Nasional Engineering and Applied Science Conference EASC 2018 bertema “Penguatan Infrastruktur dan Suprastruktur Industri untuk Mendukung Daya Saing di Era Industri 4.0” di Kampus Universitas Mercu Buana, Jakarta, baru-baru ini.
Dikatakannya, jika sudah sudah cukup dengan kondisi yang ada sebaiknya jangan ditekan untuk menuju ke level yang lebih tinggi. I Made Dana M Tangkas mencontohkan industri kecil dan menengah (IKM) yang sudah berada di level Industri 2.0. “Tinggal meningkatkan ke arah digitalisasi yang berarti (Industri) 3.0. Kalau itu sudah cukup dengan tenaga kerja sekarang, jangan terburu-buru ditingkatkan ke 4.0. ini. Industri 4.0 adalah kondisi ideal,” katanya menjawab pertanyaan kekhawatiran banyak pihak tentang Revolusi Industri 4.0 bakal menggusur banyak tenaga kerja.
Menurut I Made Dana, ketika industri sudah efisien, produksinya tinggi, berdaya saing, maka supaya lebih berdaya saing perlu didorong ke 4.0. Namun hal itu membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
“Harus investasi robot, IoT (internet of thing) dengan big data, program kecerdasan buatan atau AI, itu berapa investasinya? Semua wajib dihitung bersama benefitnya, misalnya investasi Rp500 miliar-1 triliun dan mengurangi pekerja. Ini harus disingkapi dengan baik. Jadi petakan dulu kemampuan yang ada, jangan langsung terapkan 4.0,” sarannya yang juga petinggi Toyota di Indonesia itu.
“Sebagai Chairman Kadin, Ketua Komite Tetap di Grup Industri, saya ajak semua sektor industri ayo kita petakan, kita ada di mana? Sekarang zaman serbasusah, dolar menguat, bahan masih impor, harga tetap, pelaku usaha ambil marjin sangat tipis. Apalagi untuk memenuhi 4.0 mesin didatangkan dari luar, buruh dipangkas, itu menjadi perhitungan yang harus diintegrasikan,” katanya tegas.
Pada kesempatan yang sama, Hadri Mulya, Wakil Direktur 1 Pasca-Sarjana Universitas Mercu Buana mengatakan, Revolusi Industri 4.0 memang kemajuan teknologi yang tak bisa dielakan di zaman serbacepat ini. “Kami sudah seharusnya mengarah 4.0. Di kampus hal ini menjadi pembahasan. Misalnya dalam seminar sebelumnya tema lebih kepada diskusi Ilmu sosial yang mengarah persiapan SDM,” kata Hadri.
Sekarang, lanjut dia, diskusi juga membahas mengenai SDM tapi titik beratnya ke arah infrastruktur. “Kita harus siap karena kita akan habis kalau tak ikut perkembangan zaman. Teknologi itu tanpa batas, makanya dari sekarang harus dibahas,” katanya.
“Indonesia perlu studi lebih dalam mengenai Industri 4.0. Bagaimana memetakan seluruh industri, sektor masing-masing bagaimana kondisinya. Misalnya Toyota sendiri masih berada di 3.5, apakah sudah cukup mempunyai daya saing, cukup produktif?” ungkap I Made Dana M Tangkas, Presiden Institut Otomotif Indonesia seusai Seminar Nasional Engineering and Applied Science Conference EASC 2018 bertema “Penguatan Infrastruktur dan Suprastruktur Industri untuk Mendukung Daya Saing di Era Industri 4.0” di Kampus Universitas Mercu Buana, Jakarta, baru-baru ini.
Dikatakannya, jika sudah sudah cukup dengan kondisi yang ada sebaiknya jangan ditekan untuk menuju ke level yang lebih tinggi. I Made Dana M Tangkas mencontohkan industri kecil dan menengah (IKM) yang sudah berada di level Industri 2.0. “Tinggal meningkatkan ke arah digitalisasi yang berarti (Industri) 3.0. Kalau itu sudah cukup dengan tenaga kerja sekarang, jangan terburu-buru ditingkatkan ke 4.0. ini. Industri 4.0 adalah kondisi ideal,” katanya menjawab pertanyaan kekhawatiran banyak pihak tentang Revolusi Industri 4.0 bakal menggusur banyak tenaga kerja.
Menurut I Made Dana, ketika industri sudah efisien, produksinya tinggi, berdaya saing, maka supaya lebih berdaya saing perlu didorong ke 4.0. Namun hal itu membutuhkan investasi yang tidak sedikit.
“Harus investasi robot, IoT (internet of thing) dengan big data, program kecerdasan buatan atau AI, itu berapa investasinya? Semua wajib dihitung bersama benefitnya, misalnya investasi Rp500 miliar-1 triliun dan mengurangi pekerja. Ini harus disingkapi dengan baik. Jadi petakan dulu kemampuan yang ada, jangan langsung terapkan 4.0,” sarannya yang juga petinggi Toyota di Indonesia itu.
“Sebagai Chairman Kadin, Ketua Komite Tetap di Grup Industri, saya ajak semua sektor industri ayo kita petakan, kita ada di mana? Sekarang zaman serbasusah, dolar menguat, bahan masih impor, harga tetap, pelaku usaha ambil marjin sangat tipis. Apalagi untuk memenuhi 4.0 mesin didatangkan dari luar, buruh dipangkas, itu menjadi perhitungan yang harus diintegrasikan,” katanya tegas.
Pada kesempatan yang sama, Hadri Mulya, Wakil Direktur 1 Pasca-Sarjana Universitas Mercu Buana mengatakan, Revolusi Industri 4.0 memang kemajuan teknologi yang tak bisa dielakan di zaman serbacepat ini. “Kami sudah seharusnya mengarah 4.0. Di kampus hal ini menjadi pembahasan. Misalnya dalam seminar sebelumnya tema lebih kepada diskusi Ilmu sosial yang mengarah persiapan SDM,” kata Hadri.
Sekarang, lanjut dia, diskusi juga membahas mengenai SDM tapi titik beratnya ke arah infrastruktur. “Kita harus siap karena kita akan habis kalau tak ikut perkembangan zaman. Teknologi itu tanpa batas, makanya dari sekarang harus dibahas,” katanya.
(mim)