Nasib 60.000 Barel BBM Pertamina yang Ditolak Halus SPBU Swasta
Rabu, 01 Oktober 2025 - 14:29 WIB
Ironisnya, keengganan ini terjadi di saat pangsa pasar SPBU swasta justru sedang meroket.
Data Kementerian ESDM menunjukkan pangsa pasar mereka naik 11% pada 2024 dan terus menanjak hingga mencapai sekitar 15% pada Juli 2025. Ini membuktikan bahwa kehadiran mereka semakin signifikan dalam pemenuhan kebutuhan BBM non-subsidi.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga sebenarnya masih memiliki sisa kuota impor yang sangat besar, yakni 34% atau sekitar 7,52 juta kiloliter.
Kuota ini lebih dari cukup untuk memenuhi tambahan alokasi bagi SPBU swasta hingga Desember 2025 yang diperkirakan sebesar 571.748 kiloliter. Kapasitas ada, barang ada, namun kesepakatan bisnis tak kunjung tiba.
Pada akhirnya, nasib 60.000 barel BBM ini jadi cerminan kebijakan yang mungkin terlalu terburu-buru, tanpa mempertimbangkan kompleksitas bisnis di lapangan. Pemerintah menyebutnya "kolaborasi", namun pasar seolah membacanya sebagai "intervensi".
Data Kementerian ESDM menunjukkan pangsa pasar mereka naik 11% pada 2024 dan terus menanjak hingga mencapai sekitar 15% pada Juli 2025. Ini membuktikan bahwa kehadiran mereka semakin signifikan dalam pemenuhan kebutuhan BBM non-subsidi.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga sebenarnya masih memiliki sisa kuota impor yang sangat besar, yakni 34% atau sekitar 7,52 juta kiloliter.
Kuota ini lebih dari cukup untuk memenuhi tambahan alokasi bagi SPBU swasta hingga Desember 2025 yang diperkirakan sebesar 571.748 kiloliter. Kapasitas ada, barang ada, namun kesepakatan bisnis tak kunjung tiba.
Pada akhirnya, nasib 60.000 barel BBM ini jadi cerminan kebijakan yang mungkin terlalu terburu-buru, tanpa mempertimbangkan kompleksitas bisnis di lapangan. Pemerintah menyebutnya "kolaborasi", namun pasar seolah membacanya sebagai "intervensi".
(dan)
Lihat Juga :