Perang Kimia di Balik Jok Motor: LFP vs NMC vs Graphene

Sabtu, 13 Desember 2025 - 15:10 WIB
Bandingkan dengan LFP yang siap melaju hanya dalam waktu pengisian 1 hingga 3 jam dan sangat cocok untuk pengisian daya cepat berarus tinggi.

Belum lagi masalah "kebocoran halus" atau self-discharge, di mana daya baterai Graphene bisa hilang sendiri sebesar 5-10 persen per bulan, jauh lebih boros ketimbang LFP yang hanya menyusut 2-3 persen.

Horor Termal: Ketika Oksigen Menjadi Musuh

Namun, isu efisiensi hanyalah puncak gunung es. Bahaya sesungguhnya mengintai pada aspek keselamatan, terutama ketika membandingkan baterai berbasis NMC dengan LFP.

Josaphat memaparkan skenario mengerikan saat baterai NMC terbakar. Baterai jenis ini mengalami reaksi dekomposisi eksotermik—terurai dan melepas panas hebat—yang melepaskan oksigen internal dari struktur oksidanya.

Oksigen inilah yang memperkuat api dan menaikkan suhu hingga puncaknya melebihi 900 derajat Celcius, berpotensi menyebabkan ledakan dahsyat.

“Berbeda dengan LFP. Saat insiden termal terjadi, LFP tidak melepaskan oksigen internal. Hanya elektrolitnya yang terbakar, sehingga suhu puncak jauh lebih rendah, api merambat lambat, dan situasi lebih mudah dikendalikan,” ungkap Josaphat.

Batas Kemampuan BMS: Penjaga yang Tak Selamanya Sakti

Banyak pengguna merasa aman karena adanya Battery Management System (BMS). Namun, Josaphat mengingatkan bahwa BMS bukanlah dewa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!