Mazda CX-80 PHEV Rp1,19 Miliar: Sang Paus Darat yang Buas di Tanjakan namun Hening di Kemacetan
Selasa, 23 Desember 2025 - 18:03 WIB
Memang jarak tempuh 50 km-60 km itu terlihat pendek disaat beberapa SUV PHEV dari pabrikan China lain sudah tembus 100 km.
Kecepatan maksimal dalam mode EV ini pun tidak main-main. Mobil ini sanggup dipacu hingga 137 km/jam di jalan tol tanpa perlu mesin bensin menyala, memberikan pengalaman berkendara yang benar-benar hening dan bebas emisi.
Data pengujian lapangan menunjukkan efisiensi yang mencengangkan untuk mobil seberat dan sebesar ini.
Dalam rute kombinasi melintasi jalan tol, kemacetan kota di kawasan Bogor, CX-80 PHEV mampu mencatatkan konsumsi bahan bakar di kisaran 12 hingga 14 kilometer per liter.
Angka ini tergolong irit untuk SUV berbobot 2,2 ton bermesin 2.500 cc. Sementara itu, efisiensi daya listriknya tercatat antara 1,2 hingga 4,2 kilometer per kWh.
Kuncinya ada pada manajemen energi yang fleksibel. Pengemudi dapat memilih mode berkendara via tombol Mi-Drive. Ada mode Normal untuk keseimbangan, Sport untuk performa maksimal, Off-Road untuk medan licin, dan EV untuk prioritas listrik.
Ada pula fitur Charge Mode yang memungkinkan mesin bensin bekerja ganda: menggerakkan roda sekaligus mengisi ulang baterai saat perjalanan jauh, memastikan Anda memiliki cadangan listrik saat kembali memasuki zona perkotaan.
Namun, ada harga yang harus dibayar untuk teknologi ini. Kompresi mesin yang tinggi dan kompleksitas sistem hibrida menuntut bahan bakar berkualitas. "Minuman" wajib bagi CX-80 adalah bensin dengan nilai oktan minimal RON 95.
Jadi, lupakan niat untuk mengisinya dengan bahan bakar subsidi atau oktan rendah jika ingin mesin ini berumur panjang.
Interior: Kemewahan yang (Hampir) Sempurna
Membuka pintu Mazda CX-80 adalah seperti memasuki sebuah lounge eksklusif Jepang. Filosofi desain interiornya memancarkan aura Craftsmanship yang kental. Material soft-touch, jahitan asli, dan balutan kulit berkualitas tinggi mendominasi kabin.
Konfigurasi 6-seater dengan Captain Seat di baris kedua menghadirkan lorong tengah yang memudahkan akses, sekaligus memberikan ruang privasi yang mewah bagi penumpang belakang.
Fitur-fiturnya pun berlimpah. Sistem audio premium dari Bose memanjakan telinga dengan separasi suara yang jernih. Head-Up Display (HUD) memproyeksikan informasi vital langsung ke kaca depan, membuat mata pengemudi tetap fokus ke jalan.
Layar infotainment yang memanjang di tengah dasbor terlihat elegan, meski pengoperasiannya yang mengandalkan kenop putar di konsol tengah—bukan layar sentuh saat mobil berjalan—ini tidak hanya mudah dan cepat, tapi juga terasa mewah.
Keamanan menjadi prioritas mutlak dengan hadirnya paket ADAS i-Activsense. Mulai dari Mazda Radar Cruise Control (MRCC) yang menjaga jarak aman di jalan tol, Lane Keep Assist System (LAS), hingga Smart Brake Support (SBS) yang siap melakukan pengereman darurat. Fitur kamera 360 derajatnya patut diacungi jempol; resolusinya tajam, jernih, dan sangat membantu saat harus memarkirkan tubuh bongsornya di lahan sempit.
Namun, tidak ada gading yang tak retak. Di tengah kemewahan itu, ada beberapa detail yang terasa mengganggu, atau dalam bahasa kritikus, "kurang selesai".
Pertama adalah konektivitas. Di era digital ini, menghubungkan smartphone ke sistem mobil seharusnya semudah menjentikkan jari. Namun pada CX-80, proses koneksi Android Auto dan Apple CarPlay nirkabel terasa rumit, ribet, dan tidak seamless.
Kecepatan maksimal dalam mode EV ini pun tidak main-main. Mobil ini sanggup dipacu hingga 137 km/jam di jalan tol tanpa perlu mesin bensin menyala, memberikan pengalaman berkendara yang benar-benar hening dan bebas emisi.
Data pengujian lapangan menunjukkan efisiensi yang mencengangkan untuk mobil seberat dan sebesar ini.
Dalam rute kombinasi melintasi jalan tol, kemacetan kota di kawasan Bogor, CX-80 PHEV mampu mencatatkan konsumsi bahan bakar di kisaran 12 hingga 14 kilometer per liter.
Angka ini tergolong irit untuk SUV berbobot 2,2 ton bermesin 2.500 cc. Sementara itu, efisiensi daya listriknya tercatat antara 1,2 hingga 4,2 kilometer per kWh.
Kuncinya ada pada manajemen energi yang fleksibel. Pengemudi dapat memilih mode berkendara via tombol Mi-Drive. Ada mode Normal untuk keseimbangan, Sport untuk performa maksimal, Off-Road untuk medan licin, dan EV untuk prioritas listrik.
Ada pula fitur Charge Mode yang memungkinkan mesin bensin bekerja ganda: menggerakkan roda sekaligus mengisi ulang baterai saat perjalanan jauh, memastikan Anda memiliki cadangan listrik saat kembali memasuki zona perkotaan.
Namun, ada harga yang harus dibayar untuk teknologi ini. Kompresi mesin yang tinggi dan kompleksitas sistem hibrida menuntut bahan bakar berkualitas. "Minuman" wajib bagi CX-80 adalah bensin dengan nilai oktan minimal RON 95.
Jadi, lupakan niat untuk mengisinya dengan bahan bakar subsidi atau oktan rendah jika ingin mesin ini berumur panjang.
Interior: Kemewahan yang (Hampir) Sempurna
Membuka pintu Mazda CX-80 adalah seperti memasuki sebuah lounge eksklusif Jepang. Filosofi desain interiornya memancarkan aura Craftsmanship yang kental. Material soft-touch, jahitan asli, dan balutan kulit berkualitas tinggi mendominasi kabin.Konfigurasi 6-seater dengan Captain Seat di baris kedua menghadirkan lorong tengah yang memudahkan akses, sekaligus memberikan ruang privasi yang mewah bagi penumpang belakang.
Fitur-fiturnya pun berlimpah. Sistem audio premium dari Bose memanjakan telinga dengan separasi suara yang jernih. Head-Up Display (HUD) memproyeksikan informasi vital langsung ke kaca depan, membuat mata pengemudi tetap fokus ke jalan.
Layar infotainment yang memanjang di tengah dasbor terlihat elegan, meski pengoperasiannya yang mengandalkan kenop putar di konsol tengah—bukan layar sentuh saat mobil berjalan—ini tidak hanya mudah dan cepat, tapi juga terasa mewah.
Keamanan menjadi prioritas mutlak dengan hadirnya paket ADAS i-Activsense. Mulai dari Mazda Radar Cruise Control (MRCC) yang menjaga jarak aman di jalan tol, Lane Keep Assist System (LAS), hingga Smart Brake Support (SBS) yang siap melakukan pengereman darurat. Fitur kamera 360 derajatnya patut diacungi jempol; resolusinya tajam, jernih, dan sangat membantu saat harus memarkirkan tubuh bongsornya di lahan sempit.
Namun, tidak ada gading yang tak retak. Di tengah kemewahan itu, ada beberapa detail yang terasa mengganggu, atau dalam bahasa kritikus, "kurang selesai".
Pertama adalah konektivitas. Di era digital ini, menghubungkan smartphone ke sistem mobil seharusnya semudah menjentikkan jari. Namun pada CX-80, proses koneksi Android Auto dan Apple CarPlay nirkabel terasa rumit, ribet, dan tidak seamless.
Lihat Juga :