Penjualan Nyungsep dan Kalah Laris dari BYD, Kenapa Tesla Malah Jadi Perusahaan Mobil Termahal di Dunia?

Sabtu, 03 Januari 2026 - 13:05 WIB
Kejatuhan volume penjualan Tesla selama dua tahun berturut-turut dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Pemberontakan konsumen terhadap pandangan politik sayap kanan Elon Musk disinyalir menjadi salah satu penyebab lunturnya loyalitas merek.

Di sisi kebijakan, berakhirnya insentif pajak federal Amerika Serikat di bawah administrasi Trump pada akhir September 2025 memberikan pukulan telak. Insentif sebesar USD7.500 atau Rp120 juta yang sebelumnya menjadi pemanis bagi pembeli, kini hilang tak berbekas, membuat harga mobil Tesla terasa lebih mahal bagi konsumen kelas menengah.

Sebagai respons panik untuk menahan laju penurunan, Musk meluncurkan versi "telanjang" atau stripped-down dari model terlarisnya pada awal Oktober.

Model Y versi hemat kini dibanderol di bawah USD40.000 (Rp640 juta), sementara Model 3 yang lebih murah bisa dibawa pulang dengan harga di bawah USD37.000 (Rp592 juta).

Langkah ini diambil semata-mata untuk menjaga daya saing melawan gempuran mobil listrik murah buatan China di pasar Eropa dan Asia.

Pertaruhan Robotaxi: Menjual Mimpi, Bukan Mobil

Jika penjualan mobil lesu, mengapa valuasi perusahaan tetap tinggi? Jawabannya terletak pada pivot radikal Musk menuju kecerdasan buatan (AI).

Narasi perusahaan telah bergeser dari sekadar memproduksi EV menjadi penyedia layanan taksi robot (Robotaxi).

Tesla telah mulai menguji coba layanan ini di Austin, Texas. Awalnya dengan pengawas keselamatan di dalam mobil, kemudian berlanjut ke pengujian tanpa awak.

Perusahaan menargetkan peluncuran layanan ini di beberapa kota tahun ini, dengan ambisi besar memproduksi "Cybercab"—taksi otonom tanpa setir dan pedal—pada 2026.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!