Mesin Diesel dan Bensin Toyota Kini Jadi Alat Peraga di Dua SMK Lombok, Ini Alasannya
Jum'at, 17 Juli 2026 - 12:08 WIB
Dalam konteks SMK, ini berarti menyelaraskan kurikulum sekolah dengan kebutuhan riil industri otomotif, bukan sekadar teori di atas kertas.
"Kami percaya bahwa masa depan industri Indonesia dibangun dari ruang-ruang belajar yang hari ini ditempati para siswa. Langkah ini mungkin terlihat sederhana, namun kami berharap dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk tumbuh, berkarya, dan berkontribusi di daerah masing-masing," kata Nandi Julyanto, Presiden Direktur TMMIN.
Bukan Sekadar Alat Peraga, tapi Penanaman Budaya Kerja
Selain menyumbang perangkat keras, TMMIN juga menjalankan apa yang mereka sebut Implementasi Budaya Industri di SMK-SMK binaan. Fokusnya menanamkan nilai kerja industri sejak siswa masih duduk di bangku sekolah: disiplin, efisiensi, ketelitian, keselamatan kerja, kemampuan bekerja secara kolaboratif, hingga kepatuhan terhadap standar operasional.
Ini poin yang sering luput dari pembicaraan soal donasi alat peraga. Mesin bisa dipelajari dari buku manual, tapi kedisiplinan dan budaya kerja industri hanya bisa ditanamkan lewat pembiasaan langsung di lapangan.
"Pendidikan dan industri tidak bisa lagi berjalan terpisah. Link and match adalah syarat penting untuk melahirkan lulusan yang relevan. Sekolah menyiapkan kompetensinya, industri turut membentuknya. TMMIN ingin ambil bagian dalam proses itu dengan mendukung langkah pemerintah memperkuat daya saing lulusan vokasi agar siap berkarya dan berkontribusi, baik di Indonesia maupun di kancah global," lanjut Nandi.
Pendidikan vokasi selama ini kerap dianggap sebagai jembatan antara dunia sekolah dan kebutuhan kerja nyata.
Tapi jembatan itu percuma kalau hanya dibangun di satu ujung pulau. Ekspansi ke NTB, sekalipun baru dua sekolah, menjadi sinyal bahwa jembatan itu mulai dipanjangkan ke luar Jawa.
"Kami percaya bahwa masa depan industri Indonesia dibangun dari ruang-ruang belajar yang hari ini ditempati para siswa. Langkah ini mungkin terlihat sederhana, namun kami berharap dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk tumbuh, berkarya, dan berkontribusi di daerah masing-masing," kata Nandi Julyanto, Presiden Direktur TMMIN.
Bukan Sekadar Alat Peraga, tapi Penanaman Budaya Kerja
Selain menyumbang perangkat keras, TMMIN juga menjalankan apa yang mereka sebut Implementasi Budaya Industri di SMK-SMK binaan. Fokusnya menanamkan nilai kerja industri sejak siswa masih duduk di bangku sekolah: disiplin, efisiensi, ketelitian, keselamatan kerja, kemampuan bekerja secara kolaboratif, hingga kepatuhan terhadap standar operasional.Ini poin yang sering luput dari pembicaraan soal donasi alat peraga. Mesin bisa dipelajari dari buku manual, tapi kedisiplinan dan budaya kerja industri hanya bisa ditanamkan lewat pembiasaan langsung di lapangan.
"Pendidikan dan industri tidak bisa lagi berjalan terpisah. Link and match adalah syarat penting untuk melahirkan lulusan yang relevan. Sekolah menyiapkan kompetensinya, industri turut membentuknya. TMMIN ingin ambil bagian dalam proses itu dengan mendukung langkah pemerintah memperkuat daya saing lulusan vokasi agar siap berkarya dan berkontribusi, baik di Indonesia maupun di kancah global," lanjut Nandi.
Kenapa Lombok, dan Kenapa Sekarang
Pertanyaan yang wajar muncul: kenapa program yang sudah lama berjalan di Jawa baru sekarang menjangkau Lombok? TMMIN menyebutnya sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan untuk memperluas manfaat pendidikan vokasi ke berbagai daerah, bukan hanya terpusat di pulau dengan kepadatan industri otomotif tertinggi.Pendidikan vokasi selama ini kerap dianggap sebagai jembatan antara dunia sekolah dan kebutuhan kerja nyata.
Tapi jembatan itu percuma kalau hanya dibangun di satu ujung pulau. Ekspansi ke NTB, sekalipun baru dua sekolah, menjadi sinyal bahwa jembatan itu mulai dipanjangkan ke luar Jawa.
Lihat Juga :