Pengakuan Mengejutkan Peneliti, Produsen Motor Listrik di Indonesia Enggan Uji Keamanan Baterai
Sabtu, 05 Juli 2025 - 22:24 WIB
loading...
Baterai kendaraan listrik, yang menyimpan energi sangat besar, bisa berubah menjadi bola api yang sulit dipadamkan jika terjadi korsleting. Foto: Sindonews/Danang Arradian
A
A
A
JAKARTA - Di balik hiruk pikuk dan janji masa depan ramah lingkungan dari motor listrik yang kini membanjiri jalanan Indonesia, sebuah "bom waktu" yang mengerikan ternyata tengah berdetak tanpa kita sadari.
Sebuah pengakuan mengejutkan dari seorang peneliti terkemuka mengungkap sebuah rahasia kelam: banyak produsen motor listrik di Tanah Air yang secara sengaja enggan menguji keamanan baterai produk mereka.
Alasannya? Sebuah dalih yang dingin dan menakutkan: karena tidak diwajibkan oleh regulasi.
Ini adalah sebuah pertaruhan nyawa massal, sebuah permainan "roulette Rusia" di mana para penggunanya—yang sebagian besar adalah pengemudi ojek online dengan mobilitas tinggi—menjadi pion yang tak sadar akan bahaya yang mengintai di bawah jok mereka.
"Saya tidak bisa sebut (nama) produk. Tetapi terus terang APM (Agen Pemegang Merek) penjual motor mostly bilang, 'kan tidak wajib (uji keamanan baterai EV)'," kata Prof. Evvy di Jakarta.
Pernyataannya adalah sebuah lonceng alarm. Baterai kendaraan listrik, yang menyimpan energi sangat besar, bisa berubah menjadi bola api yang sulit dipadamkan jika terjadi korsleting. Tanpa pengujian standar keamanan yang ketat, setiap motor listrik yang melintas di jalanan berpotensi menjadi "bom waktu" berjalan.
"Seiring berjalannya waktu, laboratorium dimaksud akhirnya dibangun untuk mengakomodir kebutuhan pengujian baterai khusus motor listrik. Tetapi ketika kita endorse mereka untuk mengetes, alasannya mahal dan lain-lain," ungkap Prof. Evvy dengan nada kecewa.
"Kalau kita bicara nyawa, tidak ada (kata) mahal," tegasnya.
Dalih biaya ini menjadi sebuah kritik tajam terhadap prioritas industri. Di saat keuntungan menjadi panglima, keselamatan konsumen seolah menjadi nomor dua.
Para pengemudi ojek online, dengan intensitas penggunaan motor yang sangat tinggi, berada di garis depan risiko. Mereka setiap hari "duduk" di atas baterai yang mungkin belum teruji keamanannya, menempuh ratusan kilometer di bawah terik matahari dan hujan, sebuah kondisi yang sangat rentan memicu kegagalan baterai.
"Kalau di Jerman, jika bicara safety (artinya) tidak ada yang terluka. Mungkin di Indonesia belum sampai ke sana," katanya, sebuah perbandingan yang menyiratkan betapa rendahnya standar keselamatan yang kita toleransisaatini.
Sebuah pengakuan mengejutkan dari seorang peneliti terkemuka mengungkap sebuah rahasia kelam: banyak produsen motor listrik di Tanah Air yang secara sengaja enggan menguji keamanan baterai produk mereka.
Alasannya? Sebuah dalih yang dingin dan menakutkan: karena tidak diwajibkan oleh regulasi.
Ini adalah sebuah pertaruhan nyawa massal, sebuah permainan "roulette Rusia" di mana para penggunanya—yang sebagian besar adalah pengemudi ojek online dengan mobilitas tinggi—menjadi pion yang tak sadar akan bahaya yang mengintai di bawah jok mereka.
Pengakuan Jujur dari Sang Ahli
Kebenaran yang pahit ini diungkap secara blak-blakan oleh Prof. Evvy Kartini, pendiri National Battery Research Institute (NBRI). Dalam sebuah pernyataan yang menampar keras industri, ia membeberkan praktik berbahaya yang selama ini tersembunyi di balik gemerlap promosi motor listrik."Saya tidak bisa sebut (nama) produk. Tetapi terus terang APM (Agen Pemegang Merek) penjual motor mostly bilang, 'kan tidak wajib (uji keamanan baterai EV)'," kata Prof. Evvy di Jakarta.
Pernyataannya adalah sebuah lonceng alarm. Baterai kendaraan listrik, yang menyimpan energi sangat besar, bisa berubah menjadi bola api yang sulit dipadamkan jika terjadi korsleting. Tanpa pengujian standar keamanan yang ketat, setiap motor listrik yang melintas di jalanan berpotensi menjadi "bom waktu" berjalan.
Dalih 'Mahal' di Atas Nyawa Manusia
Ironisnya, ketika dulu para produsen beralasan tidak ada fasilitas pengujian di Indonesia, kini setelah laboratorium itu dibangun, mereka justru mencari dalih lain untuk menghindar."Seiring berjalannya waktu, laboratorium dimaksud akhirnya dibangun untuk mengakomodir kebutuhan pengujian baterai khusus motor listrik. Tetapi ketika kita endorse mereka untuk mengetes, alasannya mahal dan lain-lain," ungkap Prof. Evvy dengan nada kecewa.
"Kalau kita bicara nyawa, tidak ada (kata) mahal," tegasnya.
Dalih biaya ini menjadi sebuah kritik tajam terhadap prioritas industri. Di saat keuntungan menjadi panglima, keselamatan konsumen seolah menjadi nomor dua.
Ojek Online sebagai Korban Potensial Terbesar
Kekhawatiran Prof. Evvy semakin menjadi-jadi ketika melihat siapa pengguna mayoritas motor listrik saat ini. "Ini adalah concern saya untuk menjaga pengguna, dan kebanyakan pengguna itu kan ojol," tuturnya.Para pengemudi ojek online, dengan intensitas penggunaan motor yang sangat tinggi, berada di garis depan risiko. Mereka setiap hari "duduk" di atas baterai yang mungkin belum teruji keamanannya, menempuh ratusan kilometer di bawah terik matahari dan hujan, sebuah kondisi yang sangat rentan memicu kegagalan baterai.
Panggilan Darurat untuk Pemerintah
Pada akhirnya, Prof. Evvy menyerukan sebuah panggilan darurat. Ia berharap pemerintah bisa lebih tegas, tidak lagi berkompromi, dan segera mewajibkan standar uji keamanan baterai bagi semua motor listrik yang dijual di Indonesia."Kalau di Jerman, jika bicara safety (artinya) tidak ada yang terluka. Mungkin di Indonesia belum sampai ke sana," katanya, sebuah perbandingan yang menyiratkan betapa rendahnya standar keselamatan yang kita toleransisaatini.
(dan)
Lihat Juga :