Gaikindo Bantah Disalip Malaysia, tapi Pasar Mobil Domestik Anjlok 10%
Selasa, 26 Agustus 2025 - 18:56 WIB
loading...
Penjualan mobil di Indonesia terus menurun, sedangkan di Malaysia justru naik. Foto: Forwin
A
A
A
JAKARTA - Kabar tak sedap berembus kencang: takhta sebagai pasar mobil terbesar di Asia Tenggara yang selama ini kita pegang, dikabarkan telah direbut oleh Malaysia.
Menanggapi rumor yang menyengat ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengambil sikap defensif.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, dengan nada bertanya balik, menantang validitas kabar tersebut.
"Angkanya ada nggak? Saya akhirnya membandingkan data AAF (Federasi Otomotif ASEAN), Januari sampai Mei, karena Juni dan Juli belum keluar," kata Kukuh di Jakarta, Senin (25/8).
Berdasarkan data yang sudah berumur tiga bulan tersebut, Indonesia memang masih unggul. Angka penjualannya mencapai 316.981 unit, sementara Malaysia 314.019 unit. Namun, ini adalah sebuah kemenangan setipis kertas, dengan selisih hanya sekitar 2.900 unit.
Lebih pahit lagi, Kukuh mengakui adanya kekalahan di segmen paling bergengsi.
"Passenger-nya (mobil penumpang) kalah kita, karena Malaysia lebih tinggi. Tapi total, karena ada komersial, akumulasinya kita lebih tinggi," ujarnya.
Ini adalah pengakuan penting: untuk pasar mobil yang dibeli oleh masyarakat umum, Indonesia sebenarnya sudah tertinggal. Keunggulan total kita hanya ditopang oleh penjualan kendaraan niaga.
Dengan target ambisius 900.000 unit untuk 2025, industri kini dihadapkan pada tugas berat untuk menjual rata-rata hampir 90.000 unit setiap bulannya hingga akhir tahun—sebuah misi yang nyaris mustahil di tengah lesunya daya beli.
Isu disalip Malaysia seharusnya menjadi 'tamparan' untuk introspeksi. Mengapa daya beli kita lemah? Apakah kebijakan pemerintah sudah tepat? Apakah model yang ditawarkan masih sesuai dengan kantong masyarakat? Itulah pertanyaan-pertanyaan krusial yang harus dijawab.
Pada akhirnya, apakah Malaysia sudah resmi menyalip kita bulan ini atau bulan depan, bukanlah poin utamanya. Rumor ini adalah gejala dari penyakit yang lebih dalam: pasar otomotif domestik yangsedangsakit.
Menanggapi rumor yang menyengat ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengambil sikap defensif.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, dengan nada bertanya balik, menantang validitas kabar tersebut.
"Angkanya ada nggak? Saya akhirnya membandingkan data AAF (Federasi Otomotif ASEAN), Januari sampai Mei, karena Juni dan Juli belum keluar," kata Kukuh di Jakarta, Senin (25/8).
Berdasarkan data yang sudah berumur tiga bulan tersebut, Indonesia memang masih unggul. Angka penjualannya mencapai 316.981 unit, sementara Malaysia 314.019 unit. Namun, ini adalah sebuah kemenangan setipis kertas, dengan selisih hanya sekitar 2.900 unit.
Lebih pahit lagi, Kukuh mengakui adanya kekalahan di segmen paling bergengsi.
"Passenger-nya (mobil penumpang) kalah kita, karena Malaysia lebih tinggi. Tapi total, karena ada komersial, akumulasinya kita lebih tinggi," ujarnya.
Ini adalah pengakuan penting: untuk pasar mobil yang dibeli oleh masyarakat umum, Indonesia sebenarnya sudah tertinggal. Keunggulan total kita hanya ditopang oleh penjualan kendaraan niaga.
'Gajah' yang Sebenarnya: Pasar Domestik yang Sekarat
Debat kusir mengenai siapa nomor satu sejatinya mengalihkan perhatian dari krisis yang jauh lebih besar. Data internal Gaikindo sendiri melukiskan gambaran suram. Penjualan mobil di Indonesia dari Januari hingga Juli 2025 anjlok 10,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Angkanya lenyap hampir 49.000 unit.Dengan target ambisius 900.000 unit untuk 2025, industri kini dihadapkan pada tugas berat untuk menjual rata-rata hampir 90.000 unit setiap bulannya hingga akhir tahun—sebuah misi yang nyaris mustahil di tengah lesunya daya beli.
Isu disalip Malaysia seharusnya menjadi 'tamparan' untuk introspeksi. Mengapa daya beli kita lemah? Apakah kebijakan pemerintah sudah tepat? Apakah model yang ditawarkan masih sesuai dengan kantong masyarakat? Itulah pertanyaan-pertanyaan krusial yang harus dijawab.
Pada akhirnya, apakah Malaysia sudah resmi menyalip kita bulan ini atau bulan depan, bukanlah poin utamanya. Rumor ini adalah gejala dari penyakit yang lebih dalam: pasar otomotif domestik yangsedangsakit.
(dan)
Lihat Juga :