India Tutup Pintu Rapat-Rapat Wacana Mobil Tanpa Sopir: Selamatkan 8 Juta Perut, Bukan Kejar Gengsi Teknologi
Sabtu, 13 September 2025 - 17:05 WIB
loading...
Suasana jalanan macet di India yang menyulitkan kendaraan otonom. Foto: ist
A
A
A
NEW DELHI, INDIA - Di saat negara-negara maju berlomba-lomba memamerkan kecanggihan mobil otonom yang mampu melaju tanpa pengemudi, India justru mengambil arah berlawanan.
Pemerintah India "menutup pintu" rapat-rapat untuk teknologi masa depan tersebut.
Dalam simposium di Delhi, Menteri Perhubungan dan Jalan Raya India, Nitin Gadkari, menyampaikan pesan yang gamblang: India tidak akan mengizinkan mobil tanpa sopir beredar di jalanannya.
Ini bukanlah sebuah sikap anti-teknologi. Tapi pilihan sadar antara mengejar gengsi inovasi atau melindungi perut jutaan rakyatnya. Alasan utama di balik keputusan radikal ini sederhana namun sangat kuat: ketakutan akan gelombang pengangguran massal.
"Teknologi tanpa sopir memang maju, tetapi India tidak bisa kehilangan kesempatan kerja yang telah diciptakan oleh kendaraan bermesin," kata Gadkari, menggarisbawahi sikap pemerintahannya.
Menggantikan jutaan pekerjaan ini dengan mesin dan algoritma, di tengah kondisi ekonomi informal yang dominan, dianggap sebagai sebuah resep bencana. Terlebih lagi, data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di kalangan anak muda India (usia 15-29 tahun) sudah berada di level yang mengkhawatirkan, yaitu sekitar 10 persen pada periode 2022-2023. Memperkenalkan jutaan "mobil robot" ke dalam ekosistem ini sama saja dengan menuang bensin ke dalam api.
Bayangkan sebuah algoritma komputer harus menavigasi di tengah-tengah sepeda yang meliuk-liuk, gerobak yang ditarik sapi, lautan sepeda motor, dan tingkat disiplin lalu lintas yang rendah.
"Kondisi jalan di India sangat berbeda dengan negara maju, dan ini menguji kemampuan algoritma kendaraan otonom," ujar Gadkari.
Di sisi lain, mereka juga gencar menyingkirkan kendaraan-kendaraan tua yang tidak aman, dengan sekitar 4.000 kendaraan dihancurkan setiap minggunya karena kondisi rem yang buruk dan kerusakan lainnya.
Pada akhirnya, keputusan India ini adalah sebuah anomali yang langka di era modern. Di saat dunia berlari menuju masa depan tanpa pengemudi, India dengan sadar memilihuntukmengerem.
Pemerintah India "menutup pintu" rapat-rapat untuk teknologi masa depan tersebut.
Dalam simposium di Delhi, Menteri Perhubungan dan Jalan Raya India, Nitin Gadkari, menyampaikan pesan yang gamblang: India tidak akan mengizinkan mobil tanpa sopir beredar di jalanannya.
Ini bukanlah sebuah sikap anti-teknologi. Tapi pilihan sadar antara mengejar gengsi inovasi atau melindungi perut jutaan rakyatnya. Alasan utama di balik keputusan radikal ini sederhana namun sangat kuat: ketakutan akan gelombang pengangguran massal.
"Teknologi tanpa sopir memang maju, tetapi India tidak bisa kehilangan kesempatan kerja yang telah diciptakan oleh kendaraan bermesin," kata Gadkari, menggarisbawahi sikap pemerintahannya.
Kalkulasi Pahit di Negeri Penuh Manusia
Bagi pemerintah India, ini adalah persoalan matematika sosial yang pahit. Sektor transportasi di negara itu adalah sandaran hidup bagi sekitar 7 hingga 8 juta orang. Mereka adalah para pengemudi truk, taksi, bajaj (auto-rickshaw), dan sopir pribadi yang menyandarkan hidupnya dari putaran roda kendaraan.Menggantikan jutaan pekerjaan ini dengan mesin dan algoritma, di tengah kondisi ekonomi informal yang dominan, dianggap sebagai sebuah resep bencana. Terlebih lagi, data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di kalangan anak muda India (usia 15-29 tahun) sudah berada di level yang mengkhawatirkan, yaitu sekitar 10 persen pada periode 2022-2023. Memperkenalkan jutaan "mobil robot" ke dalam ekosistem ini sama saja dengan menuang bensin ke dalam api.
Realitas Jalanan yang 'Mustahil' untuk Robot
Selain alasan ekonomi, ada pula alasan praktis yang membuat mobil otonom menjadi ide yang nyaris mustahil diimplementasikan di India. Realitas jalanan di sana adalah sebuah simfoni lalu lintas yang kacau, jauh berbeda dari jalanan steril tempat mobil-mobil ini diuji coba.Bayangkan sebuah algoritma komputer harus menavigasi di tengah-tengah sepeda yang meliuk-liuk, gerobak yang ditarik sapi, lautan sepeda motor, dan tingkat disiplin lalu lintas yang rendah.
"Kondisi jalan di India sangat berbeda dengan negara maju, dan ini menguji kemampuan algoritma kendaraan otonom," ujar Gadkari.
Fokus pada Manusia, Bukan Mesin
Alih-alih berinvestasi pada teknologi otonom, pemerintah India memilih untuk fokus pada manusianya. Prioritas mereka saat ini adalah memperkuat pusat-pusat pelatihan pengemudi untuk meningkatkan keterampilan dan keselamatan.Di sisi lain, mereka juga gencar menyingkirkan kendaraan-kendaraan tua yang tidak aman, dengan sekitar 4.000 kendaraan dihancurkan setiap minggunya karena kondisi rem yang buruk dan kerusakan lainnya.
Pada akhirnya, keputusan India ini adalah sebuah anomali yang langka di era modern. Di saat dunia berlari menuju masa depan tanpa pengemudi, India dengan sadar memilihuntukmengerem.
(dan)
Lihat Juga :