China Larang Teknologi One Pedal, Siapkan Inovasi Baru Sebagai Gantinya
Selasa, 16 September 2025 - 08:52 WIB
loading...
Teknologi One Pedal sangat memudahkan konsumen, tapi regulator China justru melihat dampak jangka panjang. Foto: Hyundai Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Bagi jutaan pengemudi mobil listrik di seluruh dunia, ada satu fitur yang terasa seperti sebuah keajaiban: berkendara satu pedal (one-pedal driving).
Ini adalah gaya mengemudi futuristik di mana mobil dapat melaju, melambat, bahkan berhenti hanya dengan mengatur tekanan pada pedal akselerator, tanpa perlu lagi "menari" di antara pedal gas dan rem.
Fitur yang dicintai dari merek seperti Tesla, Polestar, Volvo, hingga Hyundai ini telah menjadi simbol dari kemudahan dan efisiensi era listrik.
Namun kini, evolusi besar datang dari Timur. China, sebagai pasar mobil listrik terbesar di dunia, mengambil sebuah langkah pionir untuk menyempurnakan teknologi ini. Mulai tahun 2027, mereka akan menerapkan sebuah standar baru yang tidak melarang, melainkan memoles cara kerja fitur satu pedal, semuanya atas nama keselamatan jangka panjang.
Dilema Antara Kenyamanan dan Refleks
Tak dapat dimungkiri, fitur satu pedal sangatlah nyaman. Ia mengubah kemacetan kota yang melelahkan menjadi alur berkendara mulus, mengurangi keausan rem, dan bahkan sedikit menambah jarak tempuh melalui pengereman regeneratif.
Namun, regulator di China mengidentifikasi potensi risiko psikologis. Menurut mereka, kenyamanan ini bisa secara perlahan "menumpulkan" insting alami pengemudi untuk secara refleks menginjak pedal rem dalam situasi darurat.
Kekhawatirannya adalah, setelah terbiasa hanya menggunakan satu pedal, pengemudi bisa kehilangan sepersekian detik yang krusial saat kepanikan melanda.
Atas dasar inilah, aturan baru ini dirancang. Nantinya, mobil listrik tidak akan lagi bisa berhenti total hanya dengan mengangkat kaki dari pedal gas sebagai setelan pabrik.
Untuk pemberhentian akhir, pengemudi wajib secara aktif menginjak pedal rem fisik. Aturan ini juga menstandarkan kewajiban menyalanya lampu rem saat pengereman regeneratif yang kuat terjadi, untuk berkomunikasi lebih baik dengan kendaraan di belakang.
Para produsen mobil global cenderung lebih memilih untuk menyelaraskan produk mereka dengan aturan pasar terbesar demi efisiensi.
Beberapa produsen bahkan sudah bergerak ke arah ini. Tesla, misalnya, dalam sebuah pembaruan perangkat lunak pada tahun 2023, telah menghapus opsi wajib berkendara satu pedal, memberikan lebih banyak pilihan kepada pengemudi.
Kini, pertanyaan besarnya adalah, akankah Eropa dan Amerika Serikat, yang selama ini menyambut hangat fitur ini, pada akhirnya akan mengikuti jejak China dalam mengadopsi pendekatan yang lebih mengutamakan keselamatan ini?
Ini adalah upaya untuk mencari titik keseimbangan emas: mempertahankan kenyamanan dan efisiensi dari gaya berkendara masa depan, sambil tetap menjaga refleks keselamatan fundamental yang telah teruji selama puluhan tahun.
Bagi para pengemudi, ini mungkin butuh sedikit penyesuaian. Namun, transisi yang berharga jika dapat mencegah kecelakaan dan menyelamatkan nyawa di masa depan.
China tidak sedang mengerem inovasi; mereka hanya memastikan bahwa lompatan kita berikutnya ke masa depan berpijak di landasan yang jauhlebihaman.
Ini adalah gaya mengemudi futuristik di mana mobil dapat melaju, melambat, bahkan berhenti hanya dengan mengatur tekanan pada pedal akselerator, tanpa perlu lagi "menari" di antara pedal gas dan rem.
Fitur yang dicintai dari merek seperti Tesla, Polestar, Volvo, hingga Hyundai ini telah menjadi simbol dari kemudahan dan efisiensi era listrik.
Namun kini, evolusi besar datang dari Timur. China, sebagai pasar mobil listrik terbesar di dunia, mengambil sebuah langkah pionir untuk menyempurnakan teknologi ini. Mulai tahun 2027, mereka akan menerapkan sebuah standar baru yang tidak melarang, melainkan memoles cara kerja fitur satu pedal, semuanya atas nama keselamatan jangka panjang.
Dilema Antara Kenyamanan dan Refleks
![China Larang Teknologi One Pedal, Siapkan Inovasi Baru Sebagai Gantinya]()
Tak dapat dimungkiri, fitur satu pedal sangatlah nyaman. Ia mengubah kemacetan kota yang melelahkan menjadi alur berkendara mulus, mengurangi keausan rem, dan bahkan sedikit menambah jarak tempuh melalui pengereman regeneratif.
Namun, regulator di China mengidentifikasi potensi risiko psikologis. Menurut mereka, kenyamanan ini bisa secara perlahan "menumpulkan" insting alami pengemudi untuk secara refleks menginjak pedal rem dalam situasi darurat.
Kekhawatirannya adalah, setelah terbiasa hanya menggunakan satu pedal, pengemudi bisa kehilangan sepersekian detik yang krusial saat kepanikan melanda.
Atas dasar inilah, aturan baru ini dirancang. Nantinya, mobil listrik tidak akan lagi bisa berhenti total hanya dengan mengangkat kaki dari pedal gas sebagai setelan pabrik.
Untuk pemberhentian akhir, pengemudi wajib secara aktif menginjak pedal rem fisik. Aturan ini juga menstandarkan kewajiban menyalanya lampu rem saat pengereman regeneratif yang kuat terjadi, untuk berkomunikasi lebih baik dengan kendaraan di belakang.
Efek Domino ke Seluruh Dunia?
Langkah yang diambil China ini memiliki gaung yang sangat besar. Dengan menguasai sekitar sepertiga dari pasar otomotif global, setiap regulasi yang mereka tetapkan berpotensi menjadi standar de facto bagi seluruh dunia.Para produsen mobil global cenderung lebih memilih untuk menyelaraskan produk mereka dengan aturan pasar terbesar demi efisiensi.
Beberapa produsen bahkan sudah bergerak ke arah ini. Tesla, misalnya, dalam sebuah pembaruan perangkat lunak pada tahun 2023, telah menghapus opsi wajib berkendara satu pedal, memberikan lebih banyak pilihan kepada pengemudi.
Kini, pertanyaan besarnya adalah, akankah Eropa dan Amerika Serikat, yang selama ini menyambut hangat fitur ini, pada akhirnya akan mengikuti jejak China dalam mengadopsi pendekatan yang lebih mengutamakan keselamatan ini?
Sebuah Langkah Menuju Kedewasaan Teknologi
Pada akhirnya, langkah China ini bukanlah kemunduran, melainkan tanda kedewasaan dalam industri kendaraan listrik. Fase "wow" dari teknologi revolusioner kini mulai diimbangi dengan fase penyempurnaan yang cermat dan mengutamakan keselamatan.Ini adalah upaya untuk mencari titik keseimbangan emas: mempertahankan kenyamanan dan efisiensi dari gaya berkendara masa depan, sambil tetap menjaga refleks keselamatan fundamental yang telah teruji selama puluhan tahun.
Bagi para pengemudi, ini mungkin butuh sedikit penyesuaian. Namun, transisi yang berharga jika dapat mencegah kecelakaan dan menyelamatkan nyawa di masa depan.
China tidak sedang mengerem inovasi; mereka hanya memastikan bahwa lompatan kita berikutnya ke masa depan berpijak di landasan yang jauhlebihaman.
(dan)