Nissan Siapkan Mobil yang Bisa Bicara dengan Sesama Kendaraan
Rabu, 17 September 2025 - 19:08 WIB
loading...
Tesla > FOTO/ NDTV
A
A
A
LONDON - Warga Amerika diperkirakan menghabiskan sekitar satu minggu dalam setahun terjebak dalam kemacetan lalu lintas.
Nissan menguji solusi baru berupa kendaraan yang dapat 'berbicara' atau berkomunikasi satu sama lain untuk membuat perjalanan lebih lancar, aman, dan hemat bahan bakar.
Melalui kolaborasi dengan Otoritas Transportasi Contra Costa (CCTA), Universitas California, Berkeley, perusahaan perangkat lunak DAVTEQ, dan Advanced Mobility Group, tim peneliti di Nissan Advanced Technology Center – Silicon Valley (NATC-SV) mengembangkan sistem Manajemen Kemacetan Kooperatif (CCM).
Dalam kondisi lalu lintas normal, pengemudi cenderung mengikuti terlalu dekat dan tidak memperhatikan kendaraan di depan yang mulai melambat.
Hal ini menyebabkan pengereman mendadak dan memicu gelombang berhenti-jalan yang membuang-buang waktu dan bahan bakar.
CCM bertujuan untuk mengoordinasikan kecepatan kendaraan secara optimal agar menghasilkan pergerakan yang lebih mulus.
Mobil pengumpul data (probe) di depan mengumpulkan informasi lalu lintas.
Data tersebut kemudian dikirim ke kendaraan lain yang berjarak 30 hingga 60 detik di belakang.
Kendaraan kemudian menyesuaikan kecepatan lebih awal dan lebih bertahap, sehingga mengurangi kebutuhan pengereman mendadak.
Teknologi ini mengandalkan ProPILOT Assist, sistem bantuan mengemudi semi-otonom Nissan yang menggunakan kamera dan radar canggih untuk menjaga jarak dan kecepatan yang sesuai.
Menurut Zvi Guter, Manajer Senior Riset Mobilitas di Nissan Silicon Valley: “Tujuan kami adalah menghilangkan pemborosan lalu lintas akibat berhenti-jalan.”
Dalam uji coba sepanjang 965 km di I-680 di Wilayah Teluk San Francisco, CCM menunjukkan hasil yang signifikan:
Penurunan insiden pengereman mendadak sebesar 85%. Salah satu tantangan utama adalah mengadaptasi teknologi ini dengan perilaku pengemudi di dunia nyata.
Misalnya, ketika sistem mulai melambat sebelum mencapai area padat, beberapa pengemudi mencoba menginjak pedal gas untuk mempertahankan kecepatan.
Untuk mengatasi hal ini, tim Nissan sedang mengembangkan antarmuka pengemudi yang lebih jelas agar pengguna memahami mengapa mobil secara otomatis melambat.
Menurut Joy Carpio, seorang peneliti Nissan di Silicon Valley: “Penerimaan pengemudi sangat penting. Jika mereka tidak mengerti atau tidak mau bekerja sama, teknologi ini akan sulit diimplementasikan.”
Tantangan lainnya adalah skala implementasi. Dengan jumlah kendaraan uji yang terbatas, sulit untuk membuktikan dampaknya terhadap lalu lintas secara keseluruhan.
Namun, hasil positif dari uji coba awal membuktikan bahwa meskipun hanya beberapa kendaraan yang dilengkapi CCM, teknologi ini sudah dapat memengaruhi arus lalu lintas secara kolektif.
Meskipun masih dalam tahap uji coba, Nissan yakin CCM berpotensi untuk digunakan secara luas karena dapat didukung oleh teknologi komunikasi yang ada seperti 4G LTE.
Untuk tahap selanjutnya, tim peneliti ingin lebih memahami bagaimana sebagian besar pengemudi berinteraksi dengan sistem ini.
Tujuannya adalah untuk membuat CCM lebih ramah pengguna, sehingga meningkatkan penerimaan publik terhadap teknologi ini.
Jika diterapkan dalam skala besar, CCM dapat memberikan dampak positif lebih dari sekadar kenyamanan berkendara.
CCM dapat membantu mengurangi waktu perjalanan harian, menghemat bahan bakar, mengurangi emisi karbon, dan meningkatkan produktivitas ekonomi dengan meminimalkan waktu yang terbuang dalam kemacetan lalu lintas.
Nissan menguji solusi baru berupa kendaraan yang dapat 'berbicara' atau berkomunikasi satu sama lain untuk membuat perjalanan lebih lancar, aman, dan hemat bahan bakar.
Melalui kolaborasi dengan Otoritas Transportasi Contra Costa (CCTA), Universitas California, Berkeley, perusahaan perangkat lunak DAVTEQ, dan Advanced Mobility Group, tim peneliti di Nissan Advanced Technology Center – Silicon Valley (NATC-SV) mengembangkan sistem Manajemen Kemacetan Kooperatif (CCM).
Dalam kondisi lalu lintas normal, pengemudi cenderung mengikuti terlalu dekat dan tidak memperhatikan kendaraan di depan yang mulai melambat.
Hal ini menyebabkan pengereman mendadak dan memicu gelombang berhenti-jalan yang membuang-buang waktu dan bahan bakar.
CCM bertujuan untuk mengoordinasikan kecepatan kendaraan secara optimal agar menghasilkan pergerakan yang lebih mulus.
Mobil pengumpul data (probe) di depan mengumpulkan informasi lalu lintas.
Data tersebut kemudian dikirim ke kendaraan lain yang berjarak 30 hingga 60 detik di belakang.
Kendaraan kemudian menyesuaikan kecepatan lebih awal dan lebih bertahap, sehingga mengurangi kebutuhan pengereman mendadak.
Teknologi ini mengandalkan ProPILOT Assist, sistem bantuan mengemudi semi-otonom Nissan yang menggunakan kamera dan radar canggih untuk menjaga jarak dan kecepatan yang sesuai.
Menurut Zvi Guter, Manajer Senior Riset Mobilitas di Nissan Silicon Valley: “Tujuan kami adalah menghilangkan pemborosan lalu lintas akibat berhenti-jalan.”
Dalam uji coba sepanjang 965 km di I-680 di Wilayah Teluk San Francisco, CCM menunjukkan hasil yang signifikan:
Penurunan insiden pengereman mendadak sebesar 85%. Salah satu tantangan utama adalah mengadaptasi teknologi ini dengan perilaku pengemudi di dunia nyata.
Misalnya, ketika sistem mulai melambat sebelum mencapai area padat, beberapa pengemudi mencoba menginjak pedal gas untuk mempertahankan kecepatan.
Untuk mengatasi hal ini, tim Nissan sedang mengembangkan antarmuka pengemudi yang lebih jelas agar pengguna memahami mengapa mobil secara otomatis melambat.
Menurut Joy Carpio, seorang peneliti Nissan di Silicon Valley: “Penerimaan pengemudi sangat penting. Jika mereka tidak mengerti atau tidak mau bekerja sama, teknologi ini akan sulit diimplementasikan.”
Tantangan lainnya adalah skala implementasi. Dengan jumlah kendaraan uji yang terbatas, sulit untuk membuktikan dampaknya terhadap lalu lintas secara keseluruhan.
Namun, hasil positif dari uji coba awal membuktikan bahwa meskipun hanya beberapa kendaraan yang dilengkapi CCM, teknologi ini sudah dapat memengaruhi arus lalu lintas secara kolektif.
Meskipun masih dalam tahap uji coba, Nissan yakin CCM berpotensi untuk digunakan secara luas karena dapat didukung oleh teknologi komunikasi yang ada seperti 4G LTE.
Untuk tahap selanjutnya, tim peneliti ingin lebih memahami bagaimana sebagian besar pengemudi berinteraksi dengan sistem ini.
Tujuannya adalah untuk membuat CCM lebih ramah pengguna, sehingga meningkatkan penerimaan publik terhadap teknologi ini.
Jika diterapkan dalam skala besar, CCM dapat memberikan dampak positif lebih dari sekadar kenyamanan berkendara.
CCM dapat membantu mengurangi waktu perjalanan harian, menghemat bahan bakar, mengurangi emisi karbon, dan meningkatkan produktivitas ekonomi dengan meminimalkan waktu yang terbuang dalam kemacetan lalu lintas.
(wbs)
Lihat Juga :