Dunia Otomotif Tahan Napas: IPO Berisiko Chery Akan Menentukan Nasib Mobil China
Senin, 22 September 2025 - 08:34 WIB
loading...
Chery targetkan dana IPO Rp19,2 triliun di Hong Kong di tengah ancaman tarif global. Foto: Chery
A
A
A
HONG KONG - Chery Automobile, raksasa otomotif dan eksportir mobil terbesar dari China, bersiap untuk melakukan manuver bisnis yang sangat berisiko: menggelar penawaran saham perdana (IPO) di bursa Hong Kong.
Perusahaan ini akan menjajal nyali para investor dengan target penggalangan dana fantastis hingga USD1,2 miliar (sekitar Rp19,2 triliun), yang akan menempatkan nilai total perusahaan di angka USD23 miliar (sekitar Rp368 triliun).
Namun, langkah ambisius ini diambil di tengah medan yang sangat berbahaya. Industri otomotif China saat ini terjepit oleh dua ancaman besar: perang harga di dalam negeri dan badai proteksionisme yang meninggi di pasar global.
Pertanyaannya, apakah valuasi premium yang diminta Chery sepadan dengan risikonya?
Kunci kesuksesan ini terletak pada lonjakan penjualan mobil listrik dan hybrid mereka yang naik lebih dari tiga kali lipat. Hebatnya, penjualan mobil bermesin konvensional mereka juga ikut meningkat, menunjukkan kekuatan merek yang menyeluruh.
Meksiko, importir utama mobil China tahun ini, baru saja mengumumkan akan menaikkan tarif impor hingga 50%.
Rusia, yang tahun lalu menjadi tujuan ekspor nomor satu, telah memberlakukan quasi-tarif dalam bentuk "biaya daur ulang" yang mahal.
Uni Eropa, Brazil, dan negara lainnya juga ikut mendirikan tembok serupa dengan menaikkan bea masuk.
Situasi ini memaksa eksportir China untuk bertarung memperebutkan pasar-pasar yang lebih kecil dan terfragmentasi.
Yu Zhang, pendiri konsultan Automotive Foresight, memberikan analogi: kondisi ini seperti "memunguti sisa daging dari tulang rusuk ayam"— pertarungan sengit untuk keuntungan yang tipis.
Meskipun begitu, Chery memiliki keuntungan sebagai pionir. Mereka telah memulai ekspor sejak 2001 dan menjadi eksportir mobil nomor satu China selama lebih dari dua dekade.
Dengan jaringan penjualan yang mapan di lebih dari 100 negara serta pusat riset lokal, mereka berharap bisa menahan gempuran rival baru seperti BYD.
Para cornerstone investor (investor jangkar)—yang sebagian besar adalah perusahaan BUMN China—telah berkomitmen untuk membeli saham senilai USD587 juta, atau hampir setengah dari total saham yang ditawarkan.
Langkah ini menimbulkan kritik halus: Apakah valuasi tinggi ini benar-benar cerminan kepercayaan pasar, atau sekadar hasil dari "jaring pengaman" yang dipasang oleh entitas negara untuk memastikan kesuksesan IPO ini?
IPO Chery akan menjadi barometer penting. Jika eksportir mobil paling sukses dari China ini saja kesulitan untuk mendapatkan valuasi besar, maka pabrikan BUMN lain yang juga berencana melantai di bursa Hong Kong, seperti Seres, mungkin harus menginjak rem ambisi mereka.
Target Valuasi Perusahaan: Hingga USD23 miliar (sekitar Rp368 triliun).
Laba Tahun Lalu: USD2 miliar (sekitar Rp32 triliun).
Rasio Valuasi: 11 kali lipat dari laba tahun lalu, lebih tinggi dari para pesaingnya.
Komitmen Investor Jangkar: USD587 juta (hampir 50% dari totalpenawaran).
Perusahaan ini akan menjajal nyali para investor dengan target penggalangan dana fantastis hingga USD1,2 miliar (sekitar Rp19,2 triliun), yang akan menempatkan nilai total perusahaan di angka USD23 miliar (sekitar Rp368 triliun).
Namun, langkah ambisius ini diambil di tengah medan yang sangat berbahaya. Industri otomotif China saat ini terjepit oleh dua ancaman besar: perang harga di dalam negeri dan badai proteksionisme yang meninggi di pasar global.
Pertanyaannya, apakah valuasi premium yang diminta Chery sepadan dengan risikonya?
Tantangan #1: Perang Harga Domestik (Berhasil Dimenangkan)
Di tengah persaingan dalam negeri yang sengit, Chery justru menunjukkan taringnya. Tahun lalu, penjualan domestik mereka meroket hingga 56% dibanding 2023. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan industri secara keseluruhan yang hanya mencapai 3,1%.Kunci kesuksesan ini terletak pada lonjakan penjualan mobil listrik dan hybrid mereka yang naik lebih dari tiga kali lipat. Hebatnya, penjualan mobil bermesin konvensional mereka juga ikut meningkat, menunjukkan kekuatan merek yang menyeluruh.
Tantangan #2: Tembok Proteksionisme Global (Rintangan Terberat)
Jika di kandang sendiri Chery adalah pemenang, di panggung global ceritanya berbeda. Jalan ekspor mereka kini dipenuhi rintangan:Meksiko, importir utama mobil China tahun ini, baru saja mengumumkan akan menaikkan tarif impor hingga 50%.
Rusia, yang tahun lalu menjadi tujuan ekspor nomor satu, telah memberlakukan quasi-tarif dalam bentuk "biaya daur ulang" yang mahal.
Uni Eropa, Brazil, dan negara lainnya juga ikut mendirikan tembok serupa dengan menaikkan bea masuk.
Situasi ini memaksa eksportir China untuk bertarung memperebutkan pasar-pasar yang lebih kecil dan terfragmentasi.
Yu Zhang, pendiri konsultan Automotive Foresight, memberikan analogi: kondisi ini seperti "memunguti sisa daging dari tulang rusuk ayam"— pertarungan sengit untuk keuntungan yang tipis.
Meskipun begitu, Chery memiliki keuntungan sebagai pionir. Mereka telah memulai ekspor sejak 2001 dan menjadi eksportir mobil nomor satu China selama lebih dari dua dekade.
Dengan jaringan penjualan yang mapan di lebih dari 100 negara serta pusat riset lokal, mereka berharap bisa menahan gempuran rival baru seperti BYD.
Jaring Pengaman Bernama "Investor Negara"
Para penjamin emisi tampaknya tidak mau mengambil risiko terlalu besar. IPO ini, yang dipimpin oleh tujuh bank investasi China termasuk CICC dan Huatai Securities, telah diamankan sebagian.Para cornerstone investor (investor jangkar)—yang sebagian besar adalah perusahaan BUMN China—telah berkomitmen untuk membeli saham senilai USD587 juta, atau hampir setengah dari total saham yang ditawarkan.
Langkah ini menimbulkan kritik halus: Apakah valuasi tinggi ini benar-benar cerminan kepercayaan pasar, atau sekadar hasil dari "jaring pengaman" yang dipasang oleh entitas negara untuk memastikan kesuksesan IPO ini?
IPO Chery akan menjadi barometer penting. Jika eksportir mobil paling sukses dari China ini saja kesulitan untuk mendapatkan valuasi besar, maka pabrikan BUMN lain yang juga berencana melantai di bursa Hong Kong, seperti Seres, mungkin harus menginjak rem ambisi mereka.
Fakta Kunci IPO Chery:
Target Dana IPO: Hingga USD1,2 miliar (sekitar Rp19,2 triliun).Target Valuasi Perusahaan: Hingga USD23 miliar (sekitar Rp368 triliun).
Laba Tahun Lalu: USD2 miliar (sekitar Rp32 triliun).
Rasio Valuasi: 11 kali lipat dari laba tahun lalu, lebih tinggi dari para pesaingnya.
Komitmen Investor Jangkar: USD587 juta (hampir 50% dari totalpenawaran).
(dan)
Lihat Juga :