Pesta Rakyat Roda Dua: IMOS 2025 Diserbu 103 Ribu Pengunjung, Motor Listrik Hanya Jadi Pemanis
Rabu, 01 Oktober 2025 - 11:43 WIB
loading...
IMOS 2025 mendapatkan respons yang sangat baik dari jumlah pengunjung yang datang. Foto: SIS
A
A
A
ICE BSD - Gema deru mesin, kilau bodi-bodi motor baru, dan lautan manusia yang memadati ICE BSD City, Tangerang, menjadi pemandangan tak terelakkan selama lima hari terakhir.
Pameran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2025 yang berakhir pada 28 September lalu, resmi ditutup bukan hanya dengan kesuksesan, melainkan ledakan antusiasme yang melampaui ekspektasi.
Sebanyak 103.789 orang menyerbu pameran ini, angka yang menegaskan satu hal: sepeda motor bukan sekadar alat transportasi di Indonesia; ia adalah denyut nadi, budaya, dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan jutaan warganya.
Selama lima hari penyelenggaraannya, IMOS 2025 menjelma menjadi "pesta rakyat" bagi para pencinta roda dua.
Sebanyak 21 merek sepeda motor—mulai dari raksasa Jepang seperti Honda dan Yamaha, ikon Eropa seperti Vespa dan Aprilia, hingga legenda Amerika Harley-Davidson—memamerkan "mainan" terbaru mereka.
Ditambah lebih dari 50 produk industri pendukung, arena pameran menjadi surga bagi siapa saja yang hidup di atas dua roda.
Antusiasme ini bukan sekadar hasrat melihat-lihat. Data menunjukkan lebih dari 4.000 perjalanan test ride dilakukan, bukti bahwa para pengunjung datang dengan niat serius untuk merasakan, mencoba, dan kemungkinan besar, membawa pulang motor idaman.
"Antusiasme masyarakat terhadap IMOS 2025 sangat luar biasa, terbukti dengan jumlah pengunjung yang hadir hingga mencapai 103.789 orang atau melampaui target AISI," ujar Sigit Kumala, Ketua Penyelenggara IMOS 2025, dalam keterangan resminya.
Visi yang mengarah pada sistem transportasi yang lebih aman, ramah lingkungan, dan terjangkau.
Namun, pertanyaan kritis pun muncul: Apakah realitas di lantai pameran sudah sejalan dengan slogan tersebut?
Beberapa peluncuran utama yang menjadi magnet bagi pengunjung adalah Yamaha Xmax Connected TechMAX dan Suzuki Access 125. Keduanya adalah model-model andalan yang masih mengandalkan mesin pembakaran internal (ICE).
Sementara pemain motor listrik seperti Alva turut meluncurkan produk kolaborasi, panggung utama dan sorotan terbesar tampaknya masih dikuasai oleh deru mesin konvensional.
Fenomena ini bukanlah kegagalan, melainkan cerminan jujur dari kondisi pasar. Industri otomotif roda dua Indonesia berada di persimpangan jalan.
Visi "berkelanjutan" sudah mulai digaungkan dan dipamerkan, namun hasrat dan kebutuhan pasar mayoritas masih tertambat pada efisiensi dan performa yang ditawarkan mesin bensin.
Ada jurang antara idealisme tema dengan realitas produk yang paling diminati.
"Hal ini menunjukkan bahwa IMOS telah menjadi ajang yang ditunggu-tunggu. Kami berharap nilai transaksi juga positif. Kami sedang kumpulkan datanya," ujarnya.
Angka pengunjung yang fantastis adalah indikator minat yang luar biasa. Namun, ujian sesungguhnya dari keberhasilan sebuah pameran industri adalah seberapa banyak minat tersebut berhasil dikonversi menjadi angka penjualan riil.
Angka transaksi yang akan dirilis nanti akan menjadi rapor akhir yang sesungguhnya bagi industri roda dua nasional pasca-pameran.
Pada akhirnya, IMOS 2025 adalah potret raksasa dari masyarakat Indonesia. Sebuah cermin yang memantulkan betapa dalamnya ketergantungan dan kecintaan bangsa ini pada sepeda motor.
Visi masa depan yang "hijau" dan "cerdas" memang sudah di depan mata, namun untuk saat ini, deru mesin konvensional tampaknya masih menjadi musik paling merdu di telinga mayoritas pengendara di Tanah Air.
Pameran Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2025 yang berakhir pada 28 September lalu, resmi ditutup bukan hanya dengan kesuksesan, melainkan ledakan antusiasme yang melampaui ekspektasi.
Sebanyak 103.789 orang menyerbu pameran ini, angka yang menegaskan satu hal: sepeda motor bukan sekadar alat transportasi di Indonesia; ia adalah denyut nadi, budaya, dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan jutaan warganya.
Selama lima hari penyelenggaraannya, IMOS 2025 menjelma menjadi "pesta rakyat" bagi para pencinta roda dua.
Sebanyak 21 merek sepeda motor—mulai dari raksasa Jepang seperti Honda dan Yamaha, ikon Eropa seperti Vespa dan Aprilia, hingga legenda Amerika Harley-Davidson—memamerkan "mainan" terbaru mereka.
Ditambah lebih dari 50 produk industri pendukung, arena pameran menjadi surga bagi siapa saja yang hidup di atas dua roda.
Antusiasme ini bukan sekadar hasrat melihat-lihat. Data menunjukkan lebih dari 4.000 perjalanan test ride dilakukan, bukti bahwa para pengunjung datang dengan niat serius untuk merasakan, mencoba, dan kemungkinan besar, membawa pulang motor idaman.
"Antusiasme masyarakat terhadap IMOS 2025 sangat luar biasa, terbukti dengan jumlah pengunjung yang hadir hingga mencapai 103.789 orang atau melampaui target AISI," ujar Sigit Kumala, Ketua Penyelenggara IMOS 2025, dalam keterangan resminya.
Slogan 'Berkelanjutan' di Tengah Lautan Mesin Bensin
Di balik gegap gempita angka pengunjung, IMOS 2025 mengusung tema yang mulia: "Rides That Truly Matter: Smart, Safe, Sustainable and Efficient".Visi yang mengarah pada sistem transportasi yang lebih aman, ramah lingkungan, dan terjangkau.
Namun, pertanyaan kritis pun muncul: Apakah realitas di lantai pameran sudah sejalan dengan slogan tersebut?
Beberapa peluncuran utama yang menjadi magnet bagi pengunjung adalah Yamaha Xmax Connected TechMAX dan Suzuki Access 125. Keduanya adalah model-model andalan yang masih mengandalkan mesin pembakaran internal (ICE).
Sementara pemain motor listrik seperti Alva turut meluncurkan produk kolaborasi, panggung utama dan sorotan terbesar tampaknya masih dikuasai oleh deru mesin konvensional.
Fenomena ini bukanlah kegagalan, melainkan cerminan jujur dari kondisi pasar. Industri otomotif roda dua Indonesia berada di persimpangan jalan.
Visi "berkelanjutan" sudah mulai digaungkan dan dipamerkan, namun hasrat dan kebutuhan pasar mayoritas masih tertambat pada efisiensi dan performa yang ditawarkan mesin bensin.
Ada jurang antara idealisme tema dengan realitas produk yang paling diminati.
Menanti Angka Transaksi, Ujian Sebenarnya
Sigit Kumala mengakui bahwa ledakan jumlah pengunjung diharapkan dapat mendongkrak nilai transaksi. Namun, angka pastinya masih dalam proses penghitungan."Hal ini menunjukkan bahwa IMOS telah menjadi ajang yang ditunggu-tunggu. Kami berharap nilai transaksi juga positif. Kami sedang kumpulkan datanya," ujarnya.
Angka pengunjung yang fantastis adalah indikator minat yang luar biasa. Namun, ujian sesungguhnya dari keberhasilan sebuah pameran industri adalah seberapa banyak minat tersebut berhasil dikonversi menjadi angka penjualan riil.
Angka transaksi yang akan dirilis nanti akan menjadi rapor akhir yang sesungguhnya bagi industri roda dua nasional pasca-pameran.
Pada akhirnya, IMOS 2025 adalah potret raksasa dari masyarakat Indonesia. Sebuah cermin yang memantulkan betapa dalamnya ketergantungan dan kecintaan bangsa ini pada sepeda motor.
Visi masa depan yang "hijau" dan "cerdas" memang sudah di depan mata, namun untuk saat ini, deru mesin konvensional tampaknya masih menjadi musik paling merdu di telinga mayoritas pengendara di Tanah Air.
(dan)
Lihat Juga :