Badai PHK Massal Hantam Otomotif Eropa: Renault Siap Pangkas 3.000 Karyawan, Total Korban Tembus 34.000 Jiwa di 2025!
Senin, 06 Oktober 2025 - 08:33 WIB
loading...
Salah satu pekerja di pabrik Renault di Eropa. Renault berencana melakukan efisiensi dengan memangkas karyawan. Foto: ist
A
A
A
PARIS - Gelombang tsunami pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terus menghantam industri otomotif Eropa. Kali ini, giliran raksasa otomotif Prancis, Renault, yang bersiap memangkas 3.000 karyawan sebagai korban terbaru dari krisis yang semakin besar.
Langkah ini menambah daftar panjang "pembantaian" pekerjaan di sektor ini, yang totalnya telah merenggut lebih dari 34.000 jiwa sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan media Prancis, L'Informe, Renault tengah merancang rencana efisiensi sadis yang diberi kode "Arrow".
Targetnya adalah memotong 15% staf di fungsi pendukung seperti sumber daya manusia (SDM), keuangan, dan pemasaran.
Pemangkasan ini akan dieksekusi melalui skema pensiun dini sukarela, menyasar kantor pusat di Paris dan lokasi lainnya di seluruh dunia.
Mengapa Badai Ini Terjadi? Mimpi Mobil Listrik yang Pahit
PHK massal di Renault bukanlah sebuah insiden tunggal. Ini adalah gejala dari penyakit kronis yang menggerogoti seluruh industri otomotif Benua Biru. Para produsen kini terjebak dalam badai sempurna yang disebabkan oleh tiga faktor utama:
1. Transisi EV yang Melambat: Mimpi mobil listrik (EV) ternyata tak seindah kenyataan. Penjualan EV lebih lambat dari perkiraan, sementara biaya pengembangannya luar biasa mahal.
2. Serbuan Maut dari China: Merek-merek mobil China datang dengan produk kompetitif dan harga yang agresif, menggerus pangsa pasar pemain lama.
3. Permintaan yang Lesu: Kondisi ekonomi global yang tidak menentu membuat permintaan mobil baru, terutama di pasar van, melemah.
Parade PHK Raksasa Otomotif Sepanjang 2025
Renault hanya menambah panjang daftar korban. Sebelum mereka, para raksasa lain telah lebih dulu mengibarkan bendera putih dan merumahkan ribuan karyawannya. Berikut adalah daftar suram tersebut:
1. Bosch (Jerman): Pemasok komponen terbesar ini memangkas 13.000 pekerjaan.
2. ZF Friedrichshafen (Jerman): Pemasok komponen lainnya memotong 7.600 posisi.
3. Volkswagen (Jerman): Telah merumahkan sekitar 7.000 karyawan hingga April 2025.
4. Volvo Cars (Swedia): Memangkas 3.000 pekerjaan.
5. Ford (Jerman): Memotong 1.000 pekerjaan di pabrik mobil listriknya karena permintaan yang lebih rendah dari perkiraan.
Jika digabungkan dengan rencana Renault, total lebih dari 34.600 pekerja otomotif di Eropa kehilangan mata pencaharian mereka hanya dalam setahun.
Kondisi keuangan Renault sendiri memang sedang berdarah-darah. Pada paruh pertama tahun ini, mereka melaporkan kerugian bersih sebesar 11,2 miliar euro (sekitar Rp200 triliun lebih).
Meskipun sebagian besar disebabkan oleh penghapusan nilai aset mitra mereka, Nissan, laba bersih mereka jika tanpa pos tersebut tetap anjlok drastis menjadi hanya 461 juta euro.
Dengan total 98.636 karyawan di seluruh dunia per akhir 2024, pemangkasan 3.000 orang ini adalah langkah pahit yang harus diambil oleh CEO baru, Francois Provost.
Ia kini memikul beban berat untuk memulihkan margin keuntungan dan menavigasi Renault keluar dari badai paling mematikan dalam sejarah industri otomotif modern. Ribuan nasib karyawan kini berada diujungtanduk.
Langkah ini menambah daftar panjang "pembantaian" pekerjaan di sektor ini, yang totalnya telah merenggut lebih dari 34.000 jiwa sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan media Prancis, L'Informe, Renault tengah merancang rencana efisiensi sadis yang diberi kode "Arrow".
Targetnya adalah memotong 15% staf di fungsi pendukung seperti sumber daya manusia (SDM), keuangan, dan pemasaran.
Pemangkasan ini akan dieksekusi melalui skema pensiun dini sukarela, menyasar kantor pusat di Paris dan lokasi lainnya di seluruh dunia.
Mengapa Badai Ini Terjadi? Mimpi Mobil Listrik yang Pahit
![Badai PHK Massal Hantam Otomotif Eropa: Renault Siap Pangkas 3.000 Karyawan, Total Korban Tembus 34.000 Jiwa di 2025!]()
PHK massal di Renault bukanlah sebuah insiden tunggal. Ini adalah gejala dari penyakit kronis yang menggerogoti seluruh industri otomotif Benua Biru. Para produsen kini terjebak dalam badai sempurna yang disebabkan oleh tiga faktor utama:
1. Transisi EV yang Melambat: Mimpi mobil listrik (EV) ternyata tak seindah kenyataan. Penjualan EV lebih lambat dari perkiraan, sementara biaya pengembangannya luar biasa mahal.
2. Serbuan Maut dari China: Merek-merek mobil China datang dengan produk kompetitif dan harga yang agresif, menggerus pangsa pasar pemain lama.
3. Permintaan yang Lesu: Kondisi ekonomi global yang tidak menentu membuat permintaan mobil baru, terutama di pasar van, melemah.
Parade PHK Raksasa Otomotif Sepanjang 2025
![Badai PHK Massal Hantam Otomotif Eropa: Renault Siap Pangkas 3.000 Karyawan, Total Korban Tembus 34.000 Jiwa di 2025!]()
Renault hanya menambah panjang daftar korban. Sebelum mereka, para raksasa lain telah lebih dulu mengibarkan bendera putih dan merumahkan ribuan karyawannya. Berikut adalah daftar suram tersebut:
1. Bosch (Jerman): Pemasok komponen terbesar ini memangkas 13.000 pekerjaan.
2. ZF Friedrichshafen (Jerman): Pemasok komponen lainnya memotong 7.600 posisi.
3. Volkswagen (Jerman): Telah merumahkan sekitar 7.000 karyawan hingga April 2025.
4. Volvo Cars (Swedia): Memangkas 3.000 pekerjaan.
5. Ford (Jerman): Memotong 1.000 pekerjaan di pabrik mobil listriknya karena permintaan yang lebih rendah dari perkiraan.
Jika digabungkan dengan rencana Renault, total lebih dari 34.600 pekerja otomotif di Eropa kehilangan mata pencaharian mereka hanya dalam setahun.
Kondisi Internal Renault yang Berdarah-darah
Meskipun belum ada keputusan final, juru bicara Renault kepada Reuters mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan langkah efisiensi. "Mengingat ketidakpastian di pasar otomotif dan lingkungan yang sangat kompetitif, kami mengonfirmasi bahwa kami sedang mempertimbangkan cara untuk menyederhanakan operasi kami".Kondisi keuangan Renault sendiri memang sedang berdarah-darah. Pada paruh pertama tahun ini, mereka melaporkan kerugian bersih sebesar 11,2 miliar euro (sekitar Rp200 triliun lebih).
Meskipun sebagian besar disebabkan oleh penghapusan nilai aset mitra mereka, Nissan, laba bersih mereka jika tanpa pos tersebut tetap anjlok drastis menjadi hanya 461 juta euro.
Dengan total 98.636 karyawan di seluruh dunia per akhir 2024, pemangkasan 3.000 orang ini adalah langkah pahit yang harus diambil oleh CEO baru, Francois Provost.
Ia kini memikul beban berat untuk memulihkan margin keuntungan dan menavigasi Renault keluar dari badai paling mematikan dalam sejarah industri otomotif modern. Ribuan nasib karyawan kini berada diujungtanduk.
(dan)
Lihat Juga :