Bom Waktu BBM Etanol! Pakar ITB Peringatkan Risiko Krisis Pangan Jika E10 Dipaksakan Tahun Depan

Selasa, 21 Oktober 2025 - 09:16 WIB
loading...
Bom Waktu BBM Etanol!...
Ambisi pemerintah terapkan BBM Etanol 10% tahun depan dimentahkan pakar ITB yang memperingatkan kapasitas produksi nasional belum siap dan berisiko memicu krisis pangan (kelangkaan gula). Foto: Sindonews
A A A
JAKARTA - Ambisi pemerintah untuk menerapkan mandatori campuran etanol 10 persen (E10) ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai tahun depan mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi.

Profesor Ronny Purwadi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) secara terbuka menyatakan bahwa Indonesia secara fundamental belum siap untuk mengeksekusi kebijakan ini, memperingatkan adanya risiko disrupsi rantai pasok pangan yang serius.

Peringatan ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk melakukan kajian ulang yang lebih realistis, menimbang antara target pengurangan emisi dengan ketahanan industri dan pangan nasional.

Ilusi Kesiapan Infrastruktur

Menurut Profesor Ronny Purwadi, Dosen Program Studi Teknik Pangan FTI-ITB, kalkulasi di atas kertas tidak mendukung implementasi E10 dalam waktu dekat. Ia menyoroti dua kelemahan utama dalam rencana pemerintah:

1. Kapasitas Produksi Bioetanol Tidak Memadai: Industri bioetanol domestik yang ada saat ini dinilai tidak akan mampu memenuhi lonjakan permintaan masif yang akan diciptakan oleh mandatori E10.

2. Linimasa Pembangunan yang Tidak Realistis: Wacana membangun pabrik baru untuk mengejar target juga dianggap mustahil dalam jangka waktu satu tahun.

“Hitung-hitungannya belum (bisa). Karena industri bioetanol, kalau mengandalkan industri bioetanol saat ini itu belum. Kemudian kalau kita bangun hari ini juga pabrik bioetanol, saya nggak yakin satu tahun jadi," tegas Profesor Ronny di Jakarta.

Pernyataan ini secara langsung mempertanyakan kelayakan teknis dan logistik dari target pemerintah yang dinilai terlalu agresif.

Risiko Fundamental: Dilema "Food vs. Fuel"

Kritik paling tajam dari analisis pakar ITB terletak pada potensi konflik alokasi sumber daya antara energi dan pangan, atau yang dikenal sebagai dilema "food versus fuel".

Bahan baku utama bioetanol di Indonesia adalah tebu, yang juga merupakan bahan baku utama gula.

Profesor Ronny memperingatkan bahwa kebutuhan gula nasional yang masih sangat tinggi akan menciptakan persaingan langsung dengan industri bioetanol untuk mendapatkan tebu.

"Kalau etanol diproduksi dalam negeri akan saling berebut untuk mendapatkan bahan baku yang bisa menyebabkan krisis pangan," jelasnya.

Ini adalah risiko ekonomi yang signifikan. Lonjakan permintaan tebu untuk etanol berpotensi mengerek harga gula di pasar domestik, memicu inflasi, dan mengganggu stabilitas pasokan pangan.

Objektivitas: Mengakui Niat Baik di Balik Kebijakan

Meski memberikan kritik tajam, Profesor Ronny secara objektif mengakui niat baik dan potensi manfaat jangka panjang dari kebijakan E10.

"Kenapa begitu, karena tujuannya mengurangi impor bahan bakar. Impor berkurang devisa berkurang, bahan bakar minyak fossil fuel berkurang emisi gas kaca berkurang," tuturnya.

Manfaat ini—penghematan devisa negara dan pengurangan emisi—adalah tujuan strategis yang valid. Namun, ia menekankan bahwa eksekusinya tidak bisa mengabaikan realitas di lapangan.

"Cita-citanya boleh, realisasinya harus dihitung. Semoga saja semangat ini nggak padam,"pungkasnya.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Penjualan Kendaraan...
Penjualan Kendaraan Listrik di 37 Negara Efek Melonjaknya Harga BBM
Pertamina Dikabarkan...
Pertamina Dikabarkan Melarang Mobil 1.400cc Diisi Pertalite, Ini Daftar Kendaraanya
Rolls-Royce Gunakan...
Rolls-Royce Gunakan BBM dari Limbah Plastik Bisa Berjalan Normal
Harga BBM Melambung...
Harga BBM Melambung Tinggi, Mercedes-Benz Meningkatkan Produksi GLC Listrik
Penjualan Mobil Bensin...
Penjualan Mobil Bensin Terjun Bebas, Permintaan EV Langsung Meroket
Selat Hormuz Ditutup...
Selat Hormuz Ditutup Bikin Harga BBM Semakin Tidak Masuk Akal
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Pengamat UGM: Tak Bisa Ditahan Lagi Pemerintah
Pengamat: Kenaikan Harga...
Pengamat: Kenaikan Harga Pertamax Minim Timbulkan Risiko Gejolak Sosial
Komisi VI DPR: Kenaikan...
Komisi VI DPR: Kenaikan Harga BBM Dilakukan Tiba-tiba, Kami Belum dapat Informasi
Rekomendasi
4 Fakta Memalukan Keluarga...
4 Fakta Memalukan Keluarga Kerajaan Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara karena Pemerkosaan
AS dan Iran Sepakat...
AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Jadi Sasaran Kemarahan Warga Israel
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Berita Terkini
Ford Batal Gunakan Baterai...
Ford Batal Gunakan Baterai LFP untuk Mobil Listriknya
BMW iX xDrive45, Kemewahan...
BMW iX xDrive45, Kemewahan Sunyi Seharga Rp2,6 Miliar
Pelacak Bluetooth Android...
Pelacak Bluetooth Android dan iPhone Dijual Murah, Ini Harga dan Fitur Lengkapnya!
Pangkas BBM, PLN Borong...
Pangkas BBM, PLN Borong 500 Motor Listrik Polytron Fox 350 Buat Operasional Jawa Timur
BAIC Pasang Strategi...
BAIC Pasang Strategi Agresif di Indonesia, DP 10%, Potongan Rp50 Juta
Kasus Mobil Listrik...
Kasus Mobil Listrik Meledak Tinggi, Ahli Otomotif Angkat Bicara
Infografis
Mulai Tahun Depan, BBM...
Mulai Tahun Depan, BBM Jenis Premium Resmi Dihapus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved