Menguji Klaim Hemat VinFast VF 3: Sewa Baterai Justru Lebih Untung?
Minggu, 09 November 2025 - 22:30 WIB
loading...
Banyak yang tidak menyadari bahwa skema sewa baterai justru memberikan benefit dan penghematan bagi pembeli. Foto: VinFast Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Kehadiran kendaraan listrik (EV) di Indonesia sering kali terbentur tiga masalah klasik: harga beli yang mahal, kekhawatiran harga jual kembali yang terjun bebas, serta kecemasan soal umur baterai.
Namun, produsen asal Vietnam, VinFast, mencoba menjawab keraguan ini lewat model bisnis yang tidak biasa: Battery-as-a-Service (BaaS) atau sewa baterai.
Model ini sudah diterapkan pada beberapa model mereka, termasuk mini-SUV terbaru, VinFast VF 3. Tapi, sebenarnya berapa banyak penghematan yang di dapat konsumen?
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, percaya bahwa pendekatan berlangganan sewa baterai bukan sekadar solusi untuk menekan harga jual. Tapi, juga inovasi pasar. “Daripada perang harga, kami lebih memilih memberikan solusi,” bebernya.
Sebagai gantinya, pemilik kendaraan membayar biaya berlangganan baterai sebesar Rp 253.000 per bulan (sekitar Rp3,036 juta per tahun).
Apa yang didapat konsumen? VinFast menjamin performa baterai seumur hidup. Jika kapasitas baterai turun di bawah 70 persen, perusahaan akan menggantinya secara gratis. Ini secara efektif menghapus risiko kerusakan komponen termahal EV dari pundak konsumen.
Uji Nyata: Rute Bogor-Jakarta
Untuk memastikan perbandingan yang akurat dan relevan, parameter berikut ditetapkan:
• Profil Pengguna: komuter harian yang melakukan perjalanan pulang-pergi dari Bogor ke Jakarta.
• Jarak Tempuh Harian: 60 kilometer.
• Frekuensi: 5 hari per minggu.
• Perhitungan Jarak Tahunan: Perhitungan jarak tempuh total dalam satu tahun adalah 15.600 km/tahun.
o Biaya Listrik (Pengisian Daya): Batas atas tarif listrik PLN rumah tangga, yaitu Rp1.699 per kWh.
o Biaya Bahan Bakar: Menggunakan Pertalite (RON 90) dengan harga Rp 10.000 per liter.
Kalkulasi Biaya Operasional Tahunan: VinFast VF 3 (BaaS)
Apakah biaya sewa VinFast VF 3 ini membebani? Analisis TCO (Total Cost of Ownership) membuktikan sebaliknya, terutama bagi kaum komuter.
Mari kita ambil contoh simulasi nyata: seorang pekerja yang berkendara pulang-pergi dari Bogor ke Jakarta setiap hari kerja (sekitar 60 km/hari), dengan total jarak tempuh tahunan 15.600 km.
Jika menggunakan mobil LCGC populer seperti Honda Brio 1.2L, dengan asumsi konsumsi BBM Pertalite rata-rata 15 km/liter dan biaya perawatan rutin, pengguna harus merogoh kocek sekitar Rp11,9 juta per tahun untuk operasional.
Bandingkan dengan VinFast VF 3. Dengan tarif listrik rumah tangga tertinggi (Rp 1.699/kWh) dan ditambah biaya sewa baterai setahun penuh, total biaya operasionalnya hanya berkisar Rp5,79 juta per tahun.
Artinya, ada potensi penghematan bersih sekitar Rp 6,11 juta per tahun, atau setara dengan menghemat Rp509.000 setiap bulan.
Data ini menunjukkan fakta menarik: penghematan dari tidak membeli bensin ternyata jauh lebih besar daripada biaya sewa baterai itu sendiri. Konsumen masih "untung" sekitar Rp 256 ribu per bulan setelah membayar biaya langganan baterai.
VinFast menjawab ini dengan program jaminan pembelian kembali (buyback guarantee). VinFast menawarkan harga 90 persen dari harga awal untuk kendaraan yang telah enam bulan digunakan dan 86 persen dari harga pembelian awal untuk kendaraan dengan masa pakai setahun.
Perusahaan menawarkan harga 78 persen dari harga pembelian awal untuk kendaraan dengan masa penggunaan dua tahun dan 70 persen dari harga beli awal untuk kendaraan dengan masa guna tiga tahun.
Ini adalah angka depresiasi (penurunan nilai) yang sangat kompetitif, bahkan jika dibandingkan dengan mobil bensin konvensional yang umumnya mengalami penurunan nilai 10-15 persen per tahun. Dengan skema ini, risiko finansial konsumen menjadi jauh lebih terukur dan aman.
Menurut data yang dibagikan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), VinFast sepanjang tahun 2025 telah berhasil menjual sebanyak 2.800 unit kendaraan dan masuk ke dalam urutan nomor enam penjualan terbanyak di segmen elektrik.
Di Indonesia, VinFast hadir dengan beragam pilihan kendaraan yang dapat menyesuaikan kebutuhan calon konsumennya seperti VinFast VF 3, VF 6, dan juga VF e34.
Kariyanto menyampaikan, VinFast tidak ingin sekadar menghadirkan produk, tetapi juga menciptakan ekosistem mobilitas listrik yang terintegrasi. “Kami melihat pasar Indonesia sangat besar. Dan kami sangat serius menciptakan ekosistem elektrifikasi, termasuk dengan pembangunan pabrik baru di Subang yang beroperasi akhir 2025,” ungkapnya kepadaSindoNews.
Namun, produsen asal Vietnam, VinFast, mencoba menjawab keraguan ini lewat model bisnis yang tidak biasa: Battery-as-a-Service (BaaS) atau sewa baterai.
Model ini sudah diterapkan pada beberapa model mereka, termasuk mini-SUV terbaru, VinFast VF 3. Tapi, sebenarnya berapa banyak penghematan yang di dapat konsumen?
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, percaya bahwa pendekatan berlangganan sewa baterai bukan sekadar solusi untuk menekan harga jual. Tapi, juga inovasi pasar. “Daripada perang harga, kami lebih memilih memberikan solusi,” bebernya.
Harga Terjangkau, Risiko Minim
Dengan skema BaaS, konsumen sejatinya hanya membeli unit kendaraan VinFast VF 3 (tanpa baterai) seharga Rp156 juta. Harga ini menempatkan VF 3 langsung berhadapan dengan segmen Low Cost Green Car (LCGC) yang populer, alih-alih bersaing di kelas EV yang biasanya berharga di atas Rp200 juta.Sebagai gantinya, pemilik kendaraan membayar biaya berlangganan baterai sebesar Rp 253.000 per bulan (sekitar Rp3,036 juta per tahun).
Apa yang didapat konsumen? VinFast menjamin performa baterai seumur hidup. Jika kapasitas baterai turun di bawah 70 persen, perusahaan akan menggantinya secara gratis. Ini secara efektif menghapus risiko kerusakan komponen termahal EV dari pundak konsumen.
Uji Nyata: Rute Bogor-Jakarta
![Menguji Klaim Hemat VinFast VF 3: Sewa Baterai Justru Lebih Untung?]()
Untuk memastikan perbandingan yang akurat dan relevan, parameter berikut ditetapkan:
• Profil Pengguna: komuter harian yang melakukan perjalanan pulang-pergi dari Bogor ke Jakarta.
• Jarak Tempuh Harian: 60 kilometer.
• Frekuensi: 5 hari per minggu.
• Perhitungan Jarak Tahunan: Perhitungan jarak tempuh total dalam satu tahun adalah 15.600 km/tahun.
• Skenario EV (VinFast VF 3 BaaS):
o Biaya Sewa Baterai: Ditetapkan sebesar Rp253.000 per bulan (atau Rp 3.036.000 per tahun). Skema ini mencakup jarak tempuh tak terbatas dan garansi baterai seumur hidup, termasuk penggantian gratis jika kapasitas turun di bawah 70%.o Biaya Listrik (Pengisian Daya): Batas atas tarif listrik PLN rumah tangga, yaitu Rp1.699 per kWh.
• Skenario Pembanding (ICE - Honda Brio 1.2L):
o Pemilihan Benchmark: VinFast VF 3 dengan skema BaaS memiliki harga OTR Rp156 juta. Harga ini secara langsung memposisikannya untuk bersaing dengan segmen LCGC/City Car, di mana Honda Brio adalah pemimpin pasar.o Biaya Bahan Bakar: Menggunakan Pertalite (RON 90) dengan harga Rp 10.000 per liter.
Kalkulasi Biaya Operasional Tahunan: VinFast VF 3 (BaaS)
![Menguji Klaim Hemat VinFast VF 3: Sewa Baterai Justru Lebih Untung?]()
Apakah biaya sewa VinFast VF 3 ini membebani? Analisis TCO (Total Cost of Ownership) membuktikan sebaliknya, terutama bagi kaum komuter.
Mari kita ambil contoh simulasi nyata: seorang pekerja yang berkendara pulang-pergi dari Bogor ke Jakarta setiap hari kerja (sekitar 60 km/hari), dengan total jarak tempuh tahunan 15.600 km.
Jika menggunakan mobil LCGC populer seperti Honda Brio 1.2L, dengan asumsi konsumsi BBM Pertalite rata-rata 15 km/liter dan biaya perawatan rutin, pengguna harus merogoh kocek sekitar Rp11,9 juta per tahun untuk operasional.
Bandingkan dengan VinFast VF 3. Dengan tarif listrik rumah tangga tertinggi (Rp 1.699/kWh) dan ditambah biaya sewa baterai setahun penuh, total biaya operasionalnya hanya berkisar Rp5,79 juta per tahun.
Artinya, ada potensi penghematan bersih sekitar Rp 6,11 juta per tahun, atau setara dengan menghemat Rp509.000 setiap bulan.
Data ini menunjukkan fakta menarik: penghematan dari tidak membeli bensin ternyata jauh lebih besar daripada biaya sewa baterai itu sendiri. Konsumen masih "untung" sekitar Rp 256 ribu per bulan setelah membayar biaya langganan baterai.
Menjawab Ketakutan Harga Jual Kembali
Selain operasional, ketakutan terbesar konsumen Indonesia adalah nilai jual kembali (resale value) EV yang kerap dianggap hancur.VinFast menjawab ini dengan program jaminan pembelian kembali (buyback guarantee). VinFast menawarkan harga 90 persen dari harga awal untuk kendaraan yang telah enam bulan digunakan dan 86 persen dari harga pembelian awal untuk kendaraan dengan masa pakai setahun.
Perusahaan menawarkan harga 78 persen dari harga pembelian awal untuk kendaraan dengan masa penggunaan dua tahun dan 70 persen dari harga beli awal untuk kendaraan dengan masa guna tiga tahun.
Ini adalah angka depresiasi (penurunan nilai) yang sangat kompetitif, bahkan jika dibandingkan dengan mobil bensin konvensional yang umumnya mengalami penurunan nilai 10-15 persen per tahun. Dengan skema ini, risiko finansial konsumen menjadi jauh lebih terukur dan aman.
Menurut data yang dibagikan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), VinFast sepanjang tahun 2025 telah berhasil menjual sebanyak 2.800 unit kendaraan dan masuk ke dalam urutan nomor enam penjualan terbanyak di segmen elektrik.
Di Indonesia, VinFast hadir dengan beragam pilihan kendaraan yang dapat menyesuaikan kebutuhan calon konsumennya seperti VinFast VF 3, VF 6, dan juga VF e34.
Kariyanto menyampaikan, VinFast tidak ingin sekadar menghadirkan produk, tetapi juga menciptakan ekosistem mobilitas listrik yang terintegrasi. “Kami melihat pasar Indonesia sangat besar. Dan kami sangat serius menciptakan ekosistem elektrifikasi, termasuk dengan pembangunan pabrik baru di Subang yang beroperasi akhir 2025,” ungkapnya kepadaSindoNews.
(dan)
Lihat Juga :