Resep Mazda Bertahan di Tengah Rontoknya Segmen Premium
Selasa, 16 Desember 2025 - 17:19 WIB
loading...
Di tengah badai koreksi pasar otomotif nasional, Mazda bertahan dengan penurunan pangsa pasar paling minim dan bersiap meluncurkan deretan SUV baru di tahun 2026. Foto: Sindonews/Danang Arradian
A
A
A
JAKARTA - Langit industri otomotif nasional menjelang tutup tahun 2025 tak sepenuhnya cerah. Justru, diwarnai pergeseran selera konsumen yang kian rumit dan sulit ditebak.
Namun, di tengah gempuran koreksi pasar yang membuat banyak raksasa otomotif "batuk-batuk", Mazda justru berdiri tegak dengan strategi tak biasa: mengawinkan hitungan matematis isi dompet dengan gejolak emosi di dada.
Berdasarkan laporan GAIKINDO Kuartal III 2025 dan analisis PwC Indonesia, terlihat jelas adanya pergeseran struktur permintaan.
Konsumen kini memandang mobil sebagai elemen penentu kualitas hidup, filosofi yang selaras dengan napas Mazda: the joy of driving may create the joy of living.
Bertahan di Tengah Badai
Data berbicara jujur mengenai ketangguhan jenama asal Jepang ini. Di saat kompetisi pasar bergerak liar, Mazda menjadi anomali yang menenangkan.
Ricky Thio, Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, mengungkapkan data internal yang mengejutkan: pada Oktober 2025, pangsa pasar (market share) Mazda hanya terkoreksi tipis 0,12 persen.
Angka ini terbilang sangat sehat jika dibandingkan dengan beberapa pabrikan Jepang lainnya yang harus rela kehilangan pangsa pasar hingga 2–3 persen.
Ketahanan ini semakin terlihat di level penjualan ritel segmen kendaraan premium. Di saat kompetitor asal Jepang dan Eropa mengalami kontraksi tajam antara 39 persen hingga 44 persen, Mazda mampu menahan penurunan di angka 29 persen.
Kunci pertahanan ini terletak pada tiga model andalan yang terus diminati: Mazda CX-5, Mazda CX-3, dan Mazda 3 Hatchback.
“Emotional appeal adalah kekuatan kami. Konsumen membeli bukan hanya karena logika, tetapi juga cinta terhadap desain dan kualitas produk Mazda," ujar Ricky Thio.
Namun, rasionalitas itu tidak berdiri sendiri. Mazda menyisipkan "faktor suplemen" yang menyentuh sisi emosional: desain Kodo yang artistik, filosofi Jinba Ittai (kesatuan pengendara dan kendaraan), serta kenyamanan berkendara.
“Indonesia adalah pasar yang sangat kompetitif secara nilai. Mazda menambahkan emotional value yang membedakan kami," jelas Ricky.
Bagi Mazda, kenyamanan dan desain adalah lapisan kemewahan yang dinikmati setelah hitungan logika terpenuhi.
Untuk tetap relevan, Mazda menyiapkan strategi segmentasi presisi. Kabar gembiranya, tahun 2026 akan diwarnai oleh peluncuran beberapa model baru yang mayoritas adalah SUV.
Langkah ini diambil untuk menjawab kebutuhan pasar Indonesia yang mendewakan utilitas dan kenyamanan.
Tak hanya berjualan produk, Mazda juga memperkuat akarnya di Tanah Air dengan investasi pembangunan Training Center baru. Fasilitas ini menjadi bukti bahwa Mazda tak sekadar singgah untuk berjualan, melainkan membangun ekosistem layanan purnajual yang utuh dari hulu ke hilir.
Di tengah ketidakpastian pasar, Mazda menawarkan kepastian lewat keseimbangan: mobil yang masuk akal secara biaya, namun tetap mampu menggetarkan hati pemiliknya.
Namun, di tengah gempuran koreksi pasar yang membuat banyak raksasa otomotif "batuk-batuk", Mazda justru berdiri tegak dengan strategi tak biasa: mengawinkan hitungan matematis isi dompet dengan gejolak emosi di dada.
Berdasarkan laporan GAIKINDO Kuartal III 2025 dan analisis PwC Indonesia, terlihat jelas adanya pergeseran struktur permintaan.
Konsumen kini memandang mobil sebagai elemen penentu kualitas hidup, filosofi yang selaras dengan napas Mazda: the joy of driving may create the joy of living.
Bertahan di Tengah Badai
![Resep Mazda Bertahan di Tengah Rontoknya Segmen Premium]()
Data berbicara jujur mengenai ketangguhan jenama asal Jepang ini. Di saat kompetisi pasar bergerak liar, Mazda menjadi anomali yang menenangkan.
Ricky Thio, Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, mengungkapkan data internal yang mengejutkan: pada Oktober 2025, pangsa pasar (market share) Mazda hanya terkoreksi tipis 0,12 persen.
Angka ini terbilang sangat sehat jika dibandingkan dengan beberapa pabrikan Jepang lainnya yang harus rela kehilangan pangsa pasar hingga 2–3 persen.
Ketahanan ini semakin terlihat di level penjualan ritel segmen kendaraan premium. Di saat kompetitor asal Jepang dan Eropa mengalami kontraksi tajam antara 39 persen hingga 44 persen, Mazda mampu menahan penurunan di angka 29 persen.
Kunci pertahanan ini terletak pada tiga model andalan yang terus diminati: Mazda CX-5, Mazda CX-3, dan Mazda 3 Hatchback.
“Emotional appeal adalah kekuatan kami. Konsumen membeli bukan hanya karena logika, tetapi juga cinta terhadap desain dan kualitas produk Mazda," ujar Ricky Thio.
Perkawinan Logika dan Rasa
Mazda menyadari bahwa pembeli mobil di Indonesia kini semakin cerdas. Mereka berhitung detail soal Total Ownership Cost (TOC) atau biaya kepemilikan total—mulai dari biaya servis, administrasi, hingga harga jual kembali (resale value). Ini adalah sisi rasional.Namun, rasionalitas itu tidak berdiri sendiri. Mazda menyisipkan "faktor suplemen" yang menyentuh sisi emosional: desain Kodo yang artistik, filosofi Jinba Ittai (kesatuan pengendara dan kendaraan), serta kenyamanan berkendara.
“Indonesia adalah pasar yang sangat kompetitif secara nilai. Mazda menambahkan emotional value yang membedakan kami," jelas Ricky.
Bagi Mazda, kenyamanan dan desain adalah lapisan kemewahan yang dinikmati setelah hitungan logika terpenuhi.
Menatap 2026: Optimisme Realistis dan Serangan SUV
Memandang tahun depan, Mazda memasang kuda-kuda optimisme yang realistis. Pemulihan pasar diprediksi berjalan bertahap; semester pertama mungkin masih landai, namun akselerasi diyakini terjadi pada semester kedua seiring membaiknya daya beli.Untuk tetap relevan, Mazda menyiapkan strategi segmentasi presisi. Kabar gembiranya, tahun 2026 akan diwarnai oleh peluncuran beberapa model baru yang mayoritas adalah SUV.
Langkah ini diambil untuk menjawab kebutuhan pasar Indonesia yang mendewakan utilitas dan kenyamanan.
Tak hanya berjualan produk, Mazda juga memperkuat akarnya di Tanah Air dengan investasi pembangunan Training Center baru. Fasilitas ini menjadi bukti bahwa Mazda tak sekadar singgah untuk berjualan, melainkan membangun ekosistem layanan purnajual yang utuh dari hulu ke hilir.
Di tengah ketidakpastian pasar, Mazda menawarkan kepastian lewat keseimbangan: mobil yang masuk akal secara biaya, namun tetap mampu menggetarkan hati pemiliknya.
(dan)
Lihat Juga :