Mobil Listrik Diprediksi Tembus 20% di 2026: VinFast VF3 Made in Subang Siap Banjiri Jalanan, MPV Listrik Menyusul
Minggu, 21 Desember 2025 - 21:59 WIB
loading...
Memasuki tahun 2026 dengan optimisme pasar mobil listrik yang diprediksi tembus 20 persen, VinFast tancap gas fungsikan pabrik Subang untuk merakit massal VF3 yang kini mendominasi 70 persen penjualan jenama Vietnam tersebut. Foto: VinFast
A
A
A
BALI - VinFast menyambut 2026 dengan optimisme tinggi. Melalui pabrik di Subang, Jawa Barat, mereka berupaya menjawab lonjakan permintaan kendaraan listrik (Battery Electric Vehicle/BEV) yang diprediksi akan semakin liar pada 2026.
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto—atau akrab disapa Kerry—memaparkan data yang menggambarkan percepatan adopsi kendaraan setrum yang eksponensial.
Menengok ke belakang, pada 2024 silam, kontribusi mobil listrik di pasar nasional hanyalah angka minor sebesar 4,9 persen. Namun, realitas berubah cepat. Tahun ini, angka tersebut diperkirakan melonjak drastis ke kisaran 12 hingga 13 persen.
"Tahun depan, bisa jadi mencapai 20 persen. Artinya, mobil listrik ini akan terus bertumbuh di Indonesia," ungkap Kerry dengan nada yakin. Bagi VinFast, angka-angka ini adalah sinyal hijau untuk menancapkan kuku bisnis lebih dalam.
"Kami akan mengoptimalkan semua potensi pasar yang ada. Mobil listrik bakal terus tumbuh dan VinFast harus jadi bagian dari pertumbuhan tersebut," tambahnya.
Strategi Hulu-Hilir: Pabrik Subang dan Dominasi VF3
Manifestasi dari ambisi tersebut adalah pengoperasian fasilitas manufaktur di Subang yang memiliki kapasitas produksi terpasang mencapai 50.000 unit per tahun. VinFast tidak langsung memproduksi semua model, melainkan memilih "ujung tombak" yang paling tajam untuk menembus pasar massal: VinFast VF3.
Keputusan ini didasarkan pada data penjualan riil. Model mungil VF3 terbukti menjadi primadona dengan kontribusi masif, mencakup 70 persen dari total penjualan VinFast. "Alasannya tentu karena potensi pasarnya besar. 70 persen penjualan VinFast dari VF3 yang bervolume besar," beber Kerry.
Setelah VF3 menguasai jalanan, peta jalan produksi Subang akan berlanjut ke segmen kendaraan keluarga dengan memproduksi MPV listrik VinFast Limo Green. Secara bertahap, model-model lain seperti VF5, VF6, hingga VF7 juga masuk dalam antrean produksi lokal di masa depan.
Sepanjang 2025 sendiri, VinFast mencatatkan angka penjualan sebanyak 3.200 unit, sebuah fondasi awal yang akan mereka eskalasi lewat produksi lokal.
Oleh karena itu, ekspansi infrastruktur menjadi prioritas. Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) eksklusif mereka, V-Green, akan diperluas jangkauannya ke seluruh wilayah strategis.
Skema bisnis sewa baterai yang meringankan biaya kepemilikan awal terus didorong, diimbangi dengan jaminan nilai jual kembali (resale value guarantee) untuk menghapus kekhawatiran konsumen akan depresiasi aset.
"Investasi kami jangka panjang. Kami punya pabrik, SPKLU, 17.000 unit taksi, dan lainnya. Ini yang membedakan kami dengan kompetitor," tegas Kerry. Angka 17.000 unit armada taksi listrik ini bukan sekadar angka operasional, melainkan strategi pemasaran berjalan yang masif untuk membiasakan masyarakat dengan produk VinFast.
"Fokus kami tetap di BEV di 2026," pungkasnya. Sikap ini menegaskan posisi VinFast yang tidak ingin bermain di area abu-abu transisi, melainkan langsung menyongsong era elektrifikasi penuh dengan persiapan infrastruktur yang matang dari hulu hingga hilir.
CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto—atau akrab disapa Kerry—memaparkan data yang menggambarkan percepatan adopsi kendaraan setrum yang eksponensial.
Menengok ke belakang, pada 2024 silam, kontribusi mobil listrik di pasar nasional hanyalah angka minor sebesar 4,9 persen. Namun, realitas berubah cepat. Tahun ini, angka tersebut diperkirakan melonjak drastis ke kisaran 12 hingga 13 persen.
"Tahun depan, bisa jadi mencapai 20 persen. Artinya, mobil listrik ini akan terus bertumbuh di Indonesia," ungkap Kerry dengan nada yakin. Bagi VinFast, angka-angka ini adalah sinyal hijau untuk menancapkan kuku bisnis lebih dalam.
"Kami akan mengoptimalkan semua potensi pasar yang ada. Mobil listrik bakal terus tumbuh dan VinFast harus jadi bagian dari pertumbuhan tersebut," tambahnya.
Strategi Hulu-Hilir: Pabrik Subang dan Dominasi VF3
![Mobil Listrik Diprediksi Tembus 20% di 2026: VinFast VF3 Made in Subang Siap Banjiri Jalanan, MPV Listrik Menyusul]()
Manifestasi dari ambisi tersebut adalah pengoperasian fasilitas manufaktur di Subang yang memiliki kapasitas produksi terpasang mencapai 50.000 unit per tahun. VinFast tidak langsung memproduksi semua model, melainkan memilih "ujung tombak" yang paling tajam untuk menembus pasar massal: VinFast VF3.
Keputusan ini didasarkan pada data penjualan riil. Model mungil VF3 terbukti menjadi primadona dengan kontribusi masif, mencakup 70 persen dari total penjualan VinFast. "Alasannya tentu karena potensi pasarnya besar. 70 persen penjualan VinFast dari VF3 yang bervolume besar," beber Kerry.
Setelah VF3 menguasai jalanan, peta jalan produksi Subang akan berlanjut ke segmen kendaraan keluarga dengan memproduksi MPV listrik VinFast Limo Green. Secara bertahap, model-model lain seperti VF5, VF6, hingga VF7 juga masuk dalam antrean produksi lokal di masa depan.
Sepanjang 2025 sendiri, VinFast mencatatkan angka penjualan sebanyak 3.200 unit, sebuah fondasi awal yang akan mereka eskalasi lewat produksi lokal.
Pembeda di Tengah Kompetisi: Ekosistem, Bukan Sekadar Produk
Memasuki 2026, Kerry menegaskan bahwa pertarungan tidak lagi hanya berkutat pada produk dan perang harga (pricing). Kunci kemenangan terletak pada pembentukan ekosistem yang komprehensif. VinFast menyadari bahwa menjual mobil listrik berarti menjual kenyamanan dan ketenangan pikiran.Oleh karena itu, ekspansi infrastruktur menjadi prioritas. Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) eksklusif mereka, V-Green, akan diperluas jangkauannya ke seluruh wilayah strategis.
Skema bisnis sewa baterai yang meringankan biaya kepemilikan awal terus didorong, diimbangi dengan jaminan nilai jual kembali (resale value guarantee) untuk menghapus kekhawatiran konsumen akan depresiasi aset.
"Investasi kami jangka panjang. Kami punya pabrik, SPKLU, 17.000 unit taksi, dan lainnya. Ini yang membedakan kami dengan kompetitor," tegas Kerry. Angka 17.000 unit armada taksi listrik ini bukan sekadar angka operasional, melainkan strategi pemasaran berjalan yang masif untuk membiasakan masyarakat dengan produk VinFast.
Teguh pada Jalur BEV
Ketika disinggung mengenai tren mobil Plug-in Hybrid (PHEV) yang diprediksi semakin populer pada 2026 sebagai solusi transisi, VinFast memilih untuk tidak goyah. Meski mengakui bahwa setiap model memiliki ceruk pasarnya sendiri, Kerry menegaskan arah kemudi perusahaan tetap lurus menuju elektrifikasi murni."Fokus kami tetap di BEV di 2026," pungkasnya. Sikap ini menegaskan posisi VinFast yang tidak ingin bermain di area abu-abu transisi, melainkan langsung menyongsong era elektrifikasi penuh dengan persiapan infrastruktur yang matang dari hulu hingga hilir.
(dan)
Lihat Juga :