Mazda CX-80 PHEV Rp1,19 Miliar: Sang Paus Darat yang Buas di Tanjakan namun Hening di Kemacetan
Selasa, 23 Desember 2025 - 18:03 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, masalah selera estetika. Pada varian tertentu, penggunaan panel kayu (wood trim) pada doortrim dengan warna kekuningan terasa kurang harmonis dengan nuansa kabin yang modern.
Alih-alih memberikan kesan klasik yang mahal, warna kuning kayu tersebut justru terlihat kontras secara canggung, seolah memaksa masuk ke dalam desain yang seharusnya didominasi warna gelap yang elegan atau metalik yang dingin.
Dinamika Berkendara: Pertarungan Fisika dan Ambisi Sporty
Inilah bagian paling krusial dan kontroversial dari Mazda CX-80 PHEV. Mazda selalu membanggakan DNA fun-to-drive pada setiap produknya, tak terkecuali pada SUV raksasa ini. Namun, menerapkan karakter mobil sport pada bodi SUV 7-seater (atau 6-seater) dengan bobot baterai tambahan adalah tantangan fisika yang berat.
Posisi baterai yang diletakkan di bagian bawah memang membantu menurunkan titik gravitasi (center of gravity), membuat mobil terasa stabil saat melibas tikungan panjang di jalan tol. Sistem suspensi Double Wishbone di depan dan Multi-link di belakang dirancang untuk pengendalian presisi. Dan harus diakui, untuk ukuran mobil sebesar ini, setirnya cukup komunikatif.
Namun, obsesi Mazda terhadap karakter sporty membuat setelan suspensi terasa kaku (stiff). Di aspal mulus, ini menyenangkan. Tapi begitu roda 20 inci dengan profil ban 235/50 itu menghajar jalanan Indonesia yang keriting, bergelombang, atau penuh tambalan, guncangan itu merambat masuk ke kabin. Ini bukan ayunan lembut ala mobil Eropa klasik, melainkan guncangan tegas yang mungkin membuat penumpang di baris ketiga merasa kurang nyaman.
![Mazda CX-80 PHEV Rp1,19 Miliar: Sang Paus Darat yang Buas di Tanjakan namun Hening di Kemacetan]()
Masalah kedua adalah inersia. Bobot 2,2 ton tidak bisa bohong. Saat melakukan akselerasi mendadak atau pengereman keras (decelerate), ada sensasi perpindahan bobot yang masif. Mobil terasa limbung, seolah tubuh Anda ikut terlempar maju-mundur mengikuti momentum.
Setir yang berat—khas Mazda—menambah beban kerja pengemudi saat bermanuver di kecepatan rendah atau saat parkir. Bagi pengemudi antusias, ini mungkin memberikan rasa "berisi" dan stabil. Namun bagi perjalanan keluarga jarak jauh yang santai, karakter ini bisa terasa melelahkan.
Ditambah lagi, dalam mode EV yang senyap, telinga Anda akan menangkap suara "raungan" halus dari dinamo atau motor listrik saat berakselerasi. Ini bukan suara mesin bensin, melainkan dengungan futuristik yang bagi sebagian orang mungkin terdengar asing atau mengganggu di tengah kabin yang kedap. Dan ketika Anda melakukan kickdown terlalu dalam karena butuh tenaga instan, transisi nyalanya mesin bensin terkadang terasa sedikit kasar, memecah keheningan dengan raungan yang tiba-tiba.
Kesimpulan: Sebuah Pilihan Emosional
Mazda CX-80 PHEV adalah mobil yang penuh karakter, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia bukanlah sekadar alat transportasi rasional; ia adalah pembelian emosional.
Jika Anda mencari kenyamanan paripurna dengan suspensi selembut awan untuk meninabobokan anak-anak di perjalanan jauh, mungkin ada pilihan lain di pasar.
Namun, jika Anda adalah kepala keluarga yang belum siap kehilangan kenikmatan mengemudi, yang menginginkan mobil keluarga besar namun tetap bisa merasakan sensasi paddle shift dan raungan mesin saat sendiri, maka CX-80 adalah jawabannya.
![Mazda CX-80 PHEV Rp1,19 Miliar: Sang Paus Darat yang Buas di Tanjakan namun Hening di Kemacetan]()
Dengan harga Rp1,19 miliar, ia menawarkan paket teknologi yang sulit dicari tandingannya di kelas ini: kemampuan berjalan sebagai mobil listrik murni untuk harian, namun tanpa batasan jarak tempuh saat liburan berkat mesin bensinnya yang bertenaga.
Kelebihan utamanya terletak pada fleksibilitas. Ia menggabungkan kekuatan mobil besar—kepraktisan, ruang, dan gengsi—dengan efisiensi bahan bakar yang sulit dipercaya. Fitur AWD-nya menjadi jaminan ketenangan saat mengajak keluarga bertamasya ke pegunungan, memastikan tanjakan curam bukan halangan.
![Mazda CX-80 PHEV Rp1,19 Miliar: Sang Paus Darat yang Buas di Tanjakan namun Hening di Kemacetan]()
Kekurangannya—suspensi kaku, konektivitas yang perlu perbaikan, dan detail interior subjektif—adalah kompromi yang harus diterima dari sebuah paket rekayasa yang ambisius.
Mazda CX-80 PHEV bukanlah mobil yang sempurna, tetapi ia adalah mobil yang jujur dengan identitasnya: sebuah flagship modern yang menolak menjadi membosankan, meskipun harus sedikit mengorbankan kenyamanan demi mempertahankan jiwa Jinba-Ittai. Bagi mereka yang mengerti, itulah kemewahan sesungguhnya.
Alih-alih memberikan kesan klasik yang mahal, warna kuning kayu tersebut justru terlihat kontras secara canggung, seolah memaksa masuk ke dalam desain yang seharusnya didominasi warna gelap yang elegan atau metalik yang dingin.
Dinamika Berkendara: Pertarungan Fisika dan Ambisi Sporty
![Mazda CX-80 PHEV Rp1,19 Miliar: Sang Paus Darat yang Buas di Tanjakan namun Hening di Kemacetan]()
Inilah bagian paling krusial dan kontroversial dari Mazda CX-80 PHEV. Mazda selalu membanggakan DNA fun-to-drive pada setiap produknya, tak terkecuali pada SUV raksasa ini. Namun, menerapkan karakter mobil sport pada bodi SUV 7-seater (atau 6-seater) dengan bobot baterai tambahan adalah tantangan fisika yang berat.
Posisi baterai yang diletakkan di bagian bawah memang membantu menurunkan titik gravitasi (center of gravity), membuat mobil terasa stabil saat melibas tikungan panjang di jalan tol. Sistem suspensi Double Wishbone di depan dan Multi-link di belakang dirancang untuk pengendalian presisi. Dan harus diakui, untuk ukuran mobil sebesar ini, setirnya cukup komunikatif.
Namun, obsesi Mazda terhadap karakter sporty membuat setelan suspensi terasa kaku (stiff). Di aspal mulus, ini menyenangkan. Tapi begitu roda 20 inci dengan profil ban 235/50 itu menghajar jalanan Indonesia yang keriting, bergelombang, atau penuh tambalan, guncangan itu merambat masuk ke kabin. Ini bukan ayunan lembut ala mobil Eropa klasik, melainkan guncangan tegas yang mungkin membuat penumpang di baris ketiga merasa kurang nyaman.

Masalah kedua adalah inersia. Bobot 2,2 ton tidak bisa bohong. Saat melakukan akselerasi mendadak atau pengereman keras (decelerate), ada sensasi perpindahan bobot yang masif. Mobil terasa limbung, seolah tubuh Anda ikut terlempar maju-mundur mengikuti momentum.
Setir yang berat—khas Mazda—menambah beban kerja pengemudi saat bermanuver di kecepatan rendah atau saat parkir. Bagi pengemudi antusias, ini mungkin memberikan rasa "berisi" dan stabil. Namun bagi perjalanan keluarga jarak jauh yang santai, karakter ini bisa terasa melelahkan.
Ditambah lagi, dalam mode EV yang senyap, telinga Anda akan menangkap suara "raungan" halus dari dinamo atau motor listrik saat berakselerasi. Ini bukan suara mesin bensin, melainkan dengungan futuristik yang bagi sebagian orang mungkin terdengar asing atau mengganggu di tengah kabin yang kedap. Dan ketika Anda melakukan kickdown terlalu dalam karena butuh tenaga instan, transisi nyalanya mesin bensin terkadang terasa sedikit kasar, memecah keheningan dengan raungan yang tiba-tiba.
Kesimpulan: Sebuah Pilihan Emosional
![Mazda CX-80 PHEV Rp1,19 Miliar: Sang Paus Darat yang Buas di Tanjakan namun Hening di Kemacetan]()
Mazda CX-80 PHEV adalah mobil yang penuh karakter, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia bukanlah sekadar alat transportasi rasional; ia adalah pembelian emosional.
Jika Anda mencari kenyamanan paripurna dengan suspensi selembut awan untuk meninabobokan anak-anak di perjalanan jauh, mungkin ada pilihan lain di pasar.
Namun, jika Anda adalah kepala keluarga yang belum siap kehilangan kenikmatan mengemudi, yang menginginkan mobil keluarga besar namun tetap bisa merasakan sensasi paddle shift dan raungan mesin saat sendiri, maka CX-80 adalah jawabannya.

Dengan harga Rp1,19 miliar, ia menawarkan paket teknologi yang sulit dicari tandingannya di kelas ini: kemampuan berjalan sebagai mobil listrik murni untuk harian, namun tanpa batasan jarak tempuh saat liburan berkat mesin bensinnya yang bertenaga.
Kelebihan utamanya terletak pada fleksibilitas. Ia menggabungkan kekuatan mobil besar—kepraktisan, ruang, dan gengsi—dengan efisiensi bahan bakar yang sulit dipercaya. Fitur AWD-nya menjadi jaminan ketenangan saat mengajak keluarga bertamasya ke pegunungan, memastikan tanjakan curam bukan halangan.

Kekurangannya—suspensi kaku, konektivitas yang perlu perbaikan, dan detail interior subjektif—adalah kompromi yang harus diterima dari sebuah paket rekayasa yang ambisius.
Mazda CX-80 PHEV bukanlah mobil yang sempurna, tetapi ia adalah mobil yang jujur dengan identitasnya: sebuah flagship modern yang menolak menjadi membosankan, meskipun harus sedikit mengorbankan kenyamanan demi mempertahankan jiwa Jinba-Ittai. Bagi mereka yang mengerti, itulah kemewahan sesungguhnya.
(dan)
Lihat Juga :