EVMoto Hadirkan 100.000 Pengemudi, Potongan Aplikasi Cuma 9 Persen
Selasa, 23 Desember 2025 - 19:05 WIB
loading...
EVMoto tabuh genderang perang dengan tarif miring dan armada listrik. Foto: EVMoto
A
A
A
JAKARTA - Hegemoni pemain lama di industri transportasi daring (ride-hailing) yang selama ini nyaman di puncak rantai makanan, kini mendapat tantangan serius dari pendatang EVMoto yang memberi premis baru: mobilitas nol emisi dengan harga lebih ramah di kantong.
PT EVMOTO Teknologi Indonesia (EVMoto), mengklaim sebagai kolaborasi tim lokal dan China, membawa misi memutus ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus merombak struktur tarif yang selama ini dikeluhkan pengemudi maupun penumpang.
EVMoto hadir sebagai platform ride-hailing pertama di Indonesia yang mendedikasikan 100 persen armadanya menggunakan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).
Langkah ini dimulai dengan pembukaan rekrutmen pengemudi masif, sebelum layanan ini dibuka sepenuhnya untuk publik pada 15 Januari 2026 mendatang.
Membedah Skema "Bakar Uang" yang Efisien
Berbeda dengan strategi "bakar uang" konvensional yang mengandalkan subsidi investor semata, EVMoto mengklaim akan bermain di level efisiensi operasional.
Jason, CEO EVMoto, memaparkan kalkulasi ekonomi yang menjadi tulang punggung keberanian mereka melawan raksasa ojek daring yang sudah mapan.
Kuncinya terletak pada biaya dasar. Biaya produksi sepeda motor listrik diklaim hanya sekitar 50 persen dibanding motor bensin konvensional.
Lebih krusial lagi, biaya konsumsi energinya terpangkas hingga hanya 30 persen dari biaya bensin. Efisiensi struktural inilah yang dikonversi menjadi keuntungan bagi dua sisi mata uang: penumpang dan pengemudi.
"Sebagian penghematan biaya dapat diberikan kepada penumpang dan sebagian kepada pengemudi. Tarif perjalanan bagi penumpang hanya sekitar 70 persen dari harga pasar saat ini," ungkap Jason.
Bagi para mitra pengemudi yang selama ini tercekik potongan aplikasi yang tinggi, tawaran EVMoto terdengar seperti oase. Jika platform utama saat ini mematok potongan sekitar 20 persen, EVMoto berani menurunkan biaya platform menjadi hanya 9 persen. Ini adalah skema agresif yang dirancang untuk memicu migrasi massal pengemudi ke ekosistem mereka.
Investasi Raksasa dan Rantai Pasok KRYA-ECGO
Keseriusan EVMoto tercermin dari peta jalan pengadaan armada yang ambisius. Tidak tanggung-tanggung, mereka menargetkan perekrutan 100.000 pengemudi sepeda motor pada 2026.
Untuk memfasilitasi pengemudi yang belum memiliki kendaraan listrik, EVMoto menggandeng ECGO—pemain lama di industri motor listrik yang kini dikendalikan oleh Grup KRYA sejak September tahun ini.
Kerja sama ini dikukuhkan lewat penandatanganan pesanan pembelian pertama sebanyak 10.000 unit sepeda motor listrik dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp240 miliar.
Pengiriman armada gelombang pertama ini dijadwalkan mulai mendarat di aspal pada Maret 2026. Secara total, EVMoto dan ECGO berencana mengadakan 50.000 unit motor listrik yang disewakan khusus bagi mitra pengemudi.
Pemilihan ECGO sebagai tulang punggung armada didasarkan pada spesifikasi teknis yang mumpuni untuk operasional ojek daring. Motor ECGO dibekali dua baterai yang mampu menempuh jarak 140 kilometer dalam sekali pengisian daya.
"Model dua baterai ini memungkinkan pengemudi mengurangi frekuensi penukaran baterai secara signifikan. Mereka bisa fokus menerima pesanan, melayani rute jarak jauh, dan memanfaatkan waktu istirahat malam atau makan siang untuk mengisi daya mandiri," jelas Jason.
Fleksibilitas ini—bisa cas mandiri atau tukar baterai—menjadi solusi atas keterbatasan infrastruktur stasiun penukaran baterai (swap station) yang sering menjadi kendala ekspansi ke kota-kota kecil.
Data menunjukkan Indonesia memiliki 6 juta pengemudi ojek daring terdaftar, dengan 4 juta unit motor beroperasi setiap hari menempuh rata-rata 150 kilometer.
Akumulasi emisi gas buang dari aktivitas ini sangat masif. Jason mengestimasi, jika EVMoto berhasil menggantikan 1 juta motor bensin dengan listrik, emisi karbon dioksida (CO2) dapat ditekan hingga 4,93 juta ton per tahun.
William Teng, CEO ECGO sekaligus Presiden Direktur KRYA, menegaskan kesiapan rantai pasoknya untuk mendukung ambisi tersebut. Dengan pengalaman tujuh tahun di Indonesia dan dukungan manufaktur komponen dari KRYA, ECGO optimistis dapat memenuhi kebutuhan ekspansi EVMoto yang berencana merambah 10 kota utama di Indonesia pada tahun 2026.
Ke depan, ambisi EVMoto tidak berhenti di roda dua. Platform ini diproyeksikan berkembang ke layanan kendaraan listrik roda tiga dan roda empat. Pendaftaran mitra pengemudi pun telah dibuka melalui kanal digital resmi mereka.
PT EVMOTO Teknologi Indonesia (EVMoto), mengklaim sebagai kolaborasi tim lokal dan China, membawa misi memutus ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus merombak struktur tarif yang selama ini dikeluhkan pengemudi maupun penumpang.
EVMoto hadir sebagai platform ride-hailing pertama di Indonesia yang mendedikasikan 100 persen armadanya menggunakan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).
Langkah ini dimulai dengan pembukaan rekrutmen pengemudi masif, sebelum layanan ini dibuka sepenuhnya untuk publik pada 15 Januari 2026 mendatang.
Membedah Skema "Bakar Uang" yang Efisien
![EVMoto Hadirkan 100.000 Pengemudi, Potongan Aplikasi Cuma 9 Persen]()
Berbeda dengan strategi "bakar uang" konvensional yang mengandalkan subsidi investor semata, EVMoto mengklaim akan bermain di level efisiensi operasional.
Jason, CEO EVMoto, memaparkan kalkulasi ekonomi yang menjadi tulang punggung keberanian mereka melawan raksasa ojek daring yang sudah mapan.
Kuncinya terletak pada biaya dasar. Biaya produksi sepeda motor listrik diklaim hanya sekitar 50 persen dibanding motor bensin konvensional.
Lebih krusial lagi, biaya konsumsi energinya terpangkas hingga hanya 30 persen dari biaya bensin. Efisiensi struktural inilah yang dikonversi menjadi keuntungan bagi dua sisi mata uang: penumpang dan pengemudi.
"Sebagian penghematan biaya dapat diberikan kepada penumpang dan sebagian kepada pengemudi. Tarif perjalanan bagi penumpang hanya sekitar 70 persen dari harga pasar saat ini," ungkap Jason.
Bagi para mitra pengemudi yang selama ini tercekik potongan aplikasi yang tinggi, tawaran EVMoto terdengar seperti oase. Jika platform utama saat ini mematok potongan sekitar 20 persen, EVMoto berani menurunkan biaya platform menjadi hanya 9 persen. Ini adalah skema agresif yang dirancang untuk memicu migrasi massal pengemudi ke ekosistem mereka.
Investasi Raksasa dan Rantai Pasok KRYA-ECGO
![EVMoto Hadirkan 100.000 Pengemudi, Potongan Aplikasi Cuma 9 Persen]()
Keseriusan EVMoto tercermin dari peta jalan pengadaan armada yang ambisius. Tidak tanggung-tanggung, mereka menargetkan perekrutan 100.000 pengemudi sepeda motor pada 2026.
Untuk memfasilitasi pengemudi yang belum memiliki kendaraan listrik, EVMoto menggandeng ECGO—pemain lama di industri motor listrik yang kini dikendalikan oleh Grup KRYA sejak September tahun ini.
Kerja sama ini dikukuhkan lewat penandatanganan pesanan pembelian pertama sebanyak 10.000 unit sepeda motor listrik dengan nilai kontrak fantastis mencapai Rp240 miliar.
Pengiriman armada gelombang pertama ini dijadwalkan mulai mendarat di aspal pada Maret 2026. Secara total, EVMoto dan ECGO berencana mengadakan 50.000 unit motor listrik yang disewakan khusus bagi mitra pengemudi.
Pemilihan ECGO sebagai tulang punggung armada didasarkan pada spesifikasi teknis yang mumpuni untuk operasional ojek daring. Motor ECGO dibekali dua baterai yang mampu menempuh jarak 140 kilometer dalam sekali pengisian daya.
"Model dua baterai ini memungkinkan pengemudi mengurangi frekuensi penukaran baterai secara signifikan. Mereka bisa fokus menerima pesanan, melayani rute jarak jauh, dan memanfaatkan waktu istirahat malam atau makan siang untuk mengisi daya mandiri," jelas Jason.
Fleksibilitas ini—bisa cas mandiri atau tukar baterai—menjadi solusi atas keterbatasan infrastruktur stasiun penukaran baterai (swap station) yang sering menjadi kendala ekspansi ke kota-kota kecil.
Data menunjukkan Indonesia memiliki 6 juta pengemudi ojek daring terdaftar, dengan 4 juta unit motor beroperasi setiap hari menempuh rata-rata 150 kilometer.
Akumulasi emisi gas buang dari aktivitas ini sangat masif. Jason mengestimasi, jika EVMoto berhasil menggantikan 1 juta motor bensin dengan listrik, emisi karbon dioksida (CO2) dapat ditekan hingga 4,93 juta ton per tahun.
William Teng, CEO ECGO sekaligus Presiden Direktur KRYA, menegaskan kesiapan rantai pasoknya untuk mendukung ambisi tersebut. Dengan pengalaman tujuh tahun di Indonesia dan dukungan manufaktur komponen dari KRYA, ECGO optimistis dapat memenuhi kebutuhan ekspansi EVMoto yang berencana merambah 10 kota utama di Indonesia pada tahun 2026.
Ke depan, ambisi EVMoto tidak berhenti di roda dua. Platform ini diproyeksikan berkembang ke layanan kendaraan listrik roda tiga dan roda empat. Pendaftaran mitra pengemudi pun telah dibuka melalui kanal digital resmi mereka.
(dan)
Lihat Juga :