China Resmi Kudeta Jepang sebagai Raja Otomotif Dunia 2025
Rabu, 31 Desember 2025 - 08:47 WIB
loading...
Sejarah baru tercipta di 2025: China resmi kudeta Jepang sebagai raja otomotif dunia dengan penjualan 27 juta unit, didorong oleh ledakan ekspor mobil listrik. Foto: ist
A
A
A
JEPANG - Tahun 2025 akan dicatat dalam buku sejarah ekonomi sebagai momen simbolis runtuhnya dominasi industri otomotif Jepang yang telah bertahan selama lebih dari dua dekade.
Untuk pertama kalinya, produsen mobil asal China diproyeksikan menyalip Jepang sebagai penjual mobil baru terbesar di dunia.
Berdasarkan data kompilasi Nikkei China yang menggabungkan laporan pengungkapan perusahaan periode Januari hingga November 2025 serta data dari S&P Global Mobility, China kini berada di jalur cepat untuk memimpin penjualan global.
Angka-angka tersebut mencakup kendaraan penumpang dan komersial yang dijual baik di pasar domestik maupun ekspor, melukiskan gambaran jelas tentang siapa penguasa jalanan baru.
Proyeksi penutupan tahun menunjukkan penjualan kendaraan global China diperkirakan melonjak 17 persen secara tahunan (year-on-year) mencapai angka fantastis sekitar 27 juta unit.
Setelah berhasil merebut gelar eksportir mobil terbesar dunia pada tahun 2023, Negeri Tirai Bambu kini melengkapi dominasinya dengan memimpin volume penjualan keseluruhan.
Sebaliknya, produsen otomotif Jepang diperkirakan akan menutup tahun dengan kinerja yang stagnan alias datar, dengan total penjualan berada di kisaran 25 juta unit.
Angka ini memaksa Jepang turun ke posisi kedua, sebuah kemunduran signifikan mengingat pada puncaknya di tahun 2018, merek-merek Jepang mampu menjual hampir 30 juta kendaraan secara global.
Kecepatan pergeseran ini sangat mencolok dan mengejutkan banyak analis. Hanya tiga tahun yang lalu, produsen mobil Jepang masih unggul dengan selisih yang lebar, yakni sekitar delapan juta kendaraan di atas China.
Namun, dalam waktu singkat, kesenjangan itu telah lenyap tak berbekas, tergerus oleh ekspansi agresif China dan tekanan yang semakin besar di pasar domestiknya sendiri.
Dukungan kebijakan pemerintah yang kuat membuat hampir enam dari setiap sepuluh mobil penumpang yang terjual adalah kendaraan energi baru (NEV).
Namun, dominasi ini membawa efek samping yang serius: kelebihan pasokan (oversupply). Tanda-tanda kejenuhan pasar mulai terlihat jelas, memaksa pemain utama seperti BYD memangkas harga secara agresif demi tetap kompetitif.
Persaingan paling sengit dan berdarah terjadi di segmen harga 100.000 Yuan hingga 150.000 Yuan (Rp220 juta hingga Rp 330 juta).
Segmen ini mencakup hampir seperempat dari penjualan kendaraan penumpang energi baru, di mana margin keuntungan semakin menipis akibat perang harga.
Kawasan ASEAN telah muncul sebagai destinasi utama gelombang ekspor ini. Penjualan mobil China di wilayah Asia Tenggara melonjak 49 persen menjadi sekitar 500.000 unit, secara langsung menantang dominasi merek Jepang yang telah mengakar puluhan tahun.
Thailand menjadi ilustrasi nyata betapa cepatnya neraca kekuatan berubah. Per November 2025, pangsa pasar mobil Jepang di Thailand menyusut menjadi 69 persen, turun drastis dari penguasaan sekitar 90 persen pada lima tahun lalu.
Fenomena serupa juga dirasakan di Malaysia dan Indonesia. Seiring meningkatnya adopsi EV, merek-merek China menarik perhatian konsumen dengan harga agresif dan siklus peluncuran produk yang cepat, memaksa pemain lama untuk memikirkan ulang struktur biaya dan penawaran fitur mereka.
Penjualan mobil China di Benua Biru diproyeksikan tetap tumbuh 7 persen menjadi sekitar 2,3 juta unit. Meski Uni Eropa telah memberlakukan tarif hingga 45,3 persen untuk EV China, ekspor PHEV—yang menghadapi batasan lebih sedikit—justru meningkat pesat dan membentuk ulang strategi ekspor di wilayah tersebut.
Pertumbuhan juga terakselerasi di pasar negara berkembang. Penjualan di Afrika diperkirakan naik 32 persen menjadi 230.000 unit, sementara pasar Amerika Tengah dan Selatan diproyeksikan tumbuh 33 persen menjadi sekitar 540.000 unit.
Kendati demikian, seiring skala global produsen China yang membesar, resistensi proteksionisme pun menguat.
Amerika Serikat dan Kanada telah memberlakukan tarif melebihi 100 persen untuk EV China, sebuah sinyal tegas bahwa kompetisi global di masa depan tidak hanya akan ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh perang dagang yang semakin intens.
Untuk pertama kalinya, produsen mobil asal China diproyeksikan menyalip Jepang sebagai penjual mobil baru terbesar di dunia.
Berdasarkan data kompilasi Nikkei China yang menggabungkan laporan pengungkapan perusahaan periode Januari hingga November 2025 serta data dari S&P Global Mobility, China kini berada di jalur cepat untuk memimpin penjualan global.
Angka-angka tersebut mencakup kendaraan penumpang dan komersial yang dijual baik di pasar domestik maupun ekspor, melukiskan gambaran jelas tentang siapa penguasa jalanan baru.
Proyeksi penutupan tahun menunjukkan penjualan kendaraan global China diperkirakan melonjak 17 persen secara tahunan (year-on-year) mencapai angka fantastis sekitar 27 juta unit.
Setelah berhasil merebut gelar eksportir mobil terbesar dunia pada tahun 2023, Negeri Tirai Bambu kini melengkapi dominasinya dengan memimpin volume penjualan keseluruhan.
Sebaliknya, produsen otomotif Jepang diperkirakan akan menutup tahun dengan kinerja yang stagnan alias datar, dengan total penjualan berada di kisaran 25 juta unit.
Angka ini memaksa Jepang turun ke posisi kedua, sebuah kemunduran signifikan mengingat pada puncaknya di tahun 2018, merek-merek Jepang mampu menjual hampir 30 juta kendaraan secara global.
Kecepatan pergeseran ini sangat mencolok dan mengejutkan banyak analis. Hanya tiga tahun yang lalu, produsen mobil Jepang masih unggul dengan selisih yang lebar, yakni sekitar delapan juta kendaraan di atas China.
Namun, dalam waktu singkat, kesenjangan itu telah lenyap tak berbekas, tergerus oleh ekspansi agresif China dan tekanan yang semakin besar di pasar domestiknya sendiri.
Elektrifikasi Sebagai Mesin Pendorong
Momentum kebangkitan China ini tidak lepas dari strategi elektrifikasi yang masif. Kendaraan listrik (EV) dan plug-in hybrid (PHEV) kini menyumbang sekitar 70 persen dari total penjualan produsen mobil di China.Dukungan kebijakan pemerintah yang kuat membuat hampir enam dari setiap sepuluh mobil penumpang yang terjual adalah kendaraan energi baru (NEV).
Namun, dominasi ini membawa efek samping yang serius: kelebihan pasokan (oversupply). Tanda-tanda kejenuhan pasar mulai terlihat jelas, memaksa pemain utama seperti BYD memangkas harga secara agresif demi tetap kompetitif.
Persaingan paling sengit dan berdarah terjadi di segmen harga 100.000 Yuan hingga 150.000 Yuan (Rp220 juta hingga Rp 330 juta).
Segmen ini mencakup hampir seperempat dari penjualan kendaraan penumpang energi baru, di mana margin keuntungan semakin menipis akibat perang harga.
Ekspor Sebagai Katup Penyelamat
Sebagai solusi atas pasar domestik yang jenuh, ekspor menjadi katup pelepasan tekanan yang vital. Produsen mobil China semakin gencar mengirimkan surplus kendaraan mereka ke luar negeri, sebuah tren yang oleh beberapa pasar internasional dikritik sebagai "ekspor deflasi" karena menekan harga pasar lokal.Kawasan ASEAN telah muncul sebagai destinasi utama gelombang ekspor ini. Penjualan mobil China di wilayah Asia Tenggara melonjak 49 persen menjadi sekitar 500.000 unit, secara langsung menantang dominasi merek Jepang yang telah mengakar puluhan tahun.
Thailand menjadi ilustrasi nyata betapa cepatnya neraca kekuatan berubah. Per November 2025, pangsa pasar mobil Jepang di Thailand menyusut menjadi 69 persen, turun drastis dari penguasaan sekitar 90 persen pada lima tahun lalu.
Fenomena serupa juga dirasakan di Malaysia dan Indonesia. Seiring meningkatnya adopsi EV, merek-merek China menarik perhatian konsumen dengan harga agresif dan siklus peluncuran produk yang cepat, memaksa pemain lama untuk memikirkan ulang struktur biaya dan penawaran fitur mereka.
Medan Tempur Eropa dan Tembok Tarif
Di belahan dunia lain, Eropa tetap menjadi medan pertempuran utama meskipun hambatan perdagangan mulai meninggi.Penjualan mobil China di Benua Biru diproyeksikan tetap tumbuh 7 persen menjadi sekitar 2,3 juta unit. Meski Uni Eropa telah memberlakukan tarif hingga 45,3 persen untuk EV China, ekspor PHEV—yang menghadapi batasan lebih sedikit—justru meningkat pesat dan membentuk ulang strategi ekspor di wilayah tersebut.
Pertumbuhan juga terakselerasi di pasar negara berkembang. Penjualan di Afrika diperkirakan naik 32 persen menjadi 230.000 unit, sementara pasar Amerika Tengah dan Selatan diproyeksikan tumbuh 33 persen menjadi sekitar 540.000 unit.
Kendati demikian, seiring skala global produsen China yang membesar, resistensi proteksionisme pun menguat.
Amerika Serikat dan Kanada telah memberlakukan tarif melebihi 100 persen untuk EV China, sebuah sinyal tegas bahwa kompetisi global di masa depan tidak hanya akan ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh perang dagang yang semakin intens.
(dan)
Lihat Juga :